
Pagi hari itu, Rayn turun dari motornya dan berjalan menuju kelas. Dia ragu. Dia takut jika Diega akan menghajarnya lagi.
Rayn masuk ke dalam kelas dan duduk dibangkunya dengan lemas. Bekas pukulan Diega kemarin masih terlihat jelas di wajahnya. Memar dan membiru. Hampir semua mata tertuju pada Rayn dengan pandangan meremehkan.
Aku muak dengan kehidupan kayak gini. Kenapa aku gak bisa jadi orang yang pemberani kayak Ryan.
Beberapa saat kemudian Shella datang. Dia menautkan alisnya saat melihat luka Rayn. Segera dia duduk di samping Rayn. "Ka, kamu kenapa? Kamu habis berantem?" Shella memegang pelan luka Rayn tapi Rayn menghindarinya.
"Aku gak papa. Habis jatuh kemarin," ucapnya bohong.
"Kamu bohong kan?" tanya Shella mencari kebenaran.
Belum juga Rayn menjawab, tiba-tiba Diega datang dan langsung menarik paksa Rayn. "Lo ikut gue!" dengan terpaksa Rayn berdiri dan mengikuti Diega keluar.
"Diega, lo apa-apaan!" cegah Shella namun Diega sama sekali tak menggubris suaranya.
Rayn melepaskan cengkeraman tangan Diega dengan sekuat tenaganya dan berhasil. "Lo mau apa lagi?"
Diega menyunggingkan sebelah bibirnya. "Rayn. Gue tahu kalau sekarang lo itu Rayn. Gue bisa saja bongkar kebohongan besar lo pada Shella."
Rayn melebarkan matanya. Tentu saja dia tidak mau hal itu terjadi. Apa jadinya jika sampai Shella mengetahui itu dari orang lain. "Jangan sampai lo bilang sama Shella soal ini."
"Gue gak akan bilang soal ini sama Shella, asal lo jauhin Shella. Ingat, gue gak main-main. Lo lihat saja akibatnya kalau lo masih deketin Shella." Diega mendorong badan Rayn sampai Rayn mundur beberapa langkah, lalu dia pergi dengan senyuman devilnya.
Rayn menghela napas panjang. Masalah satu belum selesai sudah ada masalah lagi. Sampai kapan semua ini akan berakhir. Rayn kembali masuk ke dalam kelas. Untunglah Shella masih duduk di bangkunya meski dengan wajah yang begitu khawatir. Setidaknya Shella tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Rayn, kamu kenapa lagi sama Diega?" tanya Shella.
Rayn tak menjawab.
"Rayn, jangan bilang luka-luka lo itu gara-gara Diega?" tanyanya lagi.
Rayn hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mau jawab apa? Rayn sangat bingung. Mudah saja baginya untuk menjauhi Shella karena dia sudah tidak ada rasa apa-apa pada Shella tapi bagaimana dengan perasaan Shella. Rayn juga tidak mau Shella terluka.
"Nanti sore kita makan yuk di cafe. Kamu bisa kan? Ada yang mau aku omongin sama kamu" ajak Rayn yang sebenarnya itu adalah keinginan Ryan.
"Bisa kok."
...***...
Cinta memasuki ruang kelasnya. Dia berjalan mengendap-endap saat melihat Ryan tengah melamun. "Ryan!!!" teriaknya sambil mendorong pundak Ryan dan duduk di sampingnya.
Jelas saja Ryan terkejut. Seketika dia menoleh Cinta. "Cinta, apaan sih?"
"Ih, Ryan kamu ngapain dari tadi melamun aja." Kini Cinta berubah ekspresi. Dia sekarang cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
"Siapa yang melamun? Orang lagi ngantuk juga."
Kenapa Ryan jadi seperti ini. Semalam Ryan bilang dia kangen sama aku. Tapi sekarag dia melihat aku aja seperti enggan. Apa yang terjadi sama Ryan? Apa dia suka sama cewek lain.
"Cinta.." panggil Ryan namun Cinta tak menjawab. "Cinta, sekarang kamu kan yang bengong."
Tersadar Cinta langsung menanyakan semua yang ada dipikirannya. "Kenapa sih kamu berubah? Apa sekarang kamu suka sama cewek lain?"
"Cinta, gak ada perubahan dan gak ada cewek lain. Berhenti berburuk sangka sama aku."
Cinta hanya terdiam. Karena merasa bosan akhirnya Ryan berdiri.
"Ryan kamu mau kemana?" tanya Cinta yang sebenarnya tidak memperbolehkan Ryan pergi.
"Mau ke toilet." jawab Ryan sambil berlenggang pergi.
Timbul kekesalan di hati Cinta. Dia melipat tangannya sambil menyandarkan tubuhnya. Tapi matanya tertuju pada ponsel Ryan yang tertinggal di atas meja. Rasa keingin tahuan yang besar membuat dia ingin membuka isi ponsel Ryan. Cinta meraih ponselnya lalu menyalakannya. Untunglah ponselnya tidak memakai pola atau kata sandi.
Baru saja menggeser sang gembok, sebuah foto sudah terpampang di layar ponsel itu. Cinta kenal senyuman itu. Cinta kenal dengan wajah itu. Shella? Bagaimana Ryan bisa mempunyai foto Shella. Apa Ryan mengenalnya? Astaga, jangan-jangan?? Segala pemikiran buruk muncul di pikiran Cinta.
Cinta terus menatap nanar foto itu. Menggesernya lagi, yang ditemukan foto Shella lagi dan saat akan menggeser foto itu untuk yang ketiga kalinya, Ryan datang dan langsung menarik ponselnya dengan cepat dari tangan Cinta.
"Kamu ngapain lihat-lihat hp aku." Ryan ingat persis, sebelum dia menaruh ponselnya di atas meja, dia masih membuka foto Shella yang tersimpan di galerinya.
"Kamu kenal sama Shella?" tanya Cinta yang membuat Ryan sangat terkejut.
"Shella?"
Gawat! Apa yang harus gue katakan. Cinta beneran lihat foto Shella yang ada di hp gue.
"Ryan, please jujur sama aku. Sejak kapan kamu mengenal Shella?" tanya Cinta.