
Xavier menunjuk kearah seorang perempuan.
“Ares lihat tuh cewek, muka putih tangan hitam skincare-an kok nanggung sih”
Aresta melirik kearah cewek yang dimaksud Xavier lalu Aresta tertawa
“Terus itu ibu-ibu tipe lampu sen kanan belok kiri”
Aresta dan Xavier tertawa lagi. Taukan Aresta tipe orang sederhana? Dia tidak pernah memilih makan ditempat mahal atau bagus yang terpenting itu bersih, toh makanan kaki lima pun banyak yang enak.
“Lo sering makan disini?” Tanya Xavier sambil menikmati sate yang dia pesan.
“Iya sering, makan kaki lima juga banyak yang enak ko” balasnya tanpa melihat ke arah Xavier
“Kenapa emang?” Aresta berbalik bertanya
“Aneh aja, lo cewek pertama yang ngajak gue makan disini. Biasanya cewek-cewek gue suka makan ditempat yang mahal” balas Xavier
“Kalo lo makan ditempat gini, lo bisa lihat seberapa beruntungnya lo hidup. Lihat deh kearah sana” Aresta menunjuk ibu-ibu yang sedang duduk menggendok seorang anak yang sedang menangis.
“Lo tau kan anak itu pasti nangis karena nahan laper”
“Mang, seperti biasa ya” ucap Aresta pada pedagang sate
“Siap neng Ares” Balas si pedang sambil tersenyum dan memberi hormat.
Xavier mampak mengkerutkan keningnya.
Setelah selesai Aresta menghampiri si pedagang “Udah selesai pak?”
“Belum neng bentar lagi”
“Aku bantuin ya pak”
“Neng Ares duduk aja, kan neng Ares pelanggan”
“Nggak apa-apa pak” Aresta meraih sate yang sedang dibakar lalu membolak-balikan sate tersebut agar tidak gosong.
Xavier tertegun melihat Aresta yang sedang berbicara sambil tertawa dengan pedagang sate.
“Selesai” Ucap Aresta dengan membawa beberapa bungkus sate
“Bentar ya Xav, gue mau bagiin ini dulu”
“Gue ikut” Ucap Xavier sambir meraih
beberapa bungkus yang dibawa pedagang sate
“Lo sering kaya gini?” Kata Xavier
“Setiap gue makan disini. Sebagian lagi bawa Xav siapa tau nanti dijalan ketemu orang-orang yang membutuhkan”
Xavier mengangguk dan membawa beberapa bungkus keresek kedalam mobil.
“Udah habiskan ya?” Aresta bertanya
“Udah habis, itu yang terakhir” Balas Xavier
“Berbagi nggak bakalan buat lo miskin Xav, biasain kaya gitu” Ucap Aresta sambil mengubah posisi duduknya agar ia bisa bersandar.
Setelah 20 Menit perjalanan mengantar Aresta pulang. Mobil Xavier berhenti tepat didepan gerbang rumah Aresta.
“Res udah nyampe lo gak turun?”
“Eh, Tidur ternyata” Xavier mebetulkan duduknya agar bisa melihar Aresta dengan jelas lalu menyalipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Aresta.
“Lo cantik, Baik, Pintar, Tapi sayang lo cuma jadi bahan taruhan gue”
Aresta yang baru membuka mata melotot kaget melihat wajah Xavier yang begitu dekat “lo mau ngapain sih?” Sambil mendorong kening Xavier menjauh
“Menikmati ciptaan Tuhan” Kata Xavier
Aresta gugup.
“Thanks untuk hari ini” Ucap Aresta sambil tersenyum tulus
Sebelum Aresta membuka pintu Xavier menahan tangan Aresta.
“Ada apa?” Tanya Aresta bingung
“Nggak ada” sambil melepaskan tangan Aresta
“Geje lo kaya dora” ucap Aresta sambil berlalu pergi masuk kedalam rumah.
***
Setelah Aresta masuk kedalam rumah disambut bi Diah pembantu rumah sejak Aresta kecil.
“Bi, Bunda dimana?”
“Nyonya dikamar non, kurang enak badan”
Aresta yang semula ingin menaiki tangga berhenti sebentar lalu menoleh “Bunda sakit apa bi?” Tanya Aresta lagi
“Biasa non kalo untuk ibu hamil, sering mual sama pusing”
Sungguh jawab bi Diah membuat Aresta berdiri kaku.
Bunda hamil batin Aresta tak percaya.
“Non Ares udah makan? Bibi siapin makan ya?” Tanya bi Diah
“Ngga perlu bi, Ares udah makan, bibi
istirahat aja”
“Ares keatas dulu ya bi, mau lihat bunda” Kata Aresta
“Sebaiknya besok aja non, lagi ada tuan”
Ucap bi Diah takut.
Takut terjadi perang dunia kedua bagaimana pun nona muda rumah ini sangat tidak menyukai keberadaan ayahnya.
Aresta mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar.
Aresta waktu jalan ketoko buku bareng Xavier
Ini Xavier