
Aresta duduk didekat jendela bus. Ia melihat kearah jalan sambil menopang dagu.
“Hujan” Gumamnya.
Bus berhenti tepat dihalte dekat sekolah. Aresta berteduh sebentar
“Hujannya lumayan deras, kalo dilanjut bakalan basah, mana nggak bawa payung lagi. Daripada kesiangan mendingan lari aja kali ya”
Ketika Aresta akan melangkah. Bahunya ditarik kebelakang. Aresta memekik kaget, untung saja orang dibelakang sigap mengkap Aresta agar tidak terjatuh.
“Bareng gue aja” Ucap Xavier sambil memegang payung dengan posisi tangan sebelahnya memeluk Aresta. Aresta mendongak menatap Xavier
“Jangan gini caranya gue kaget Xav” Aresta marah
“Sorry deh, mau jalan nggak? Nanti kesiangan”
“Lepasin dulu pelukan lo, nanti gue diserang fans lo” ucap Aresta canggung
“Biar anget”
“Ck lepasin nggak!” Sambil mengarahkan tinju kearah muka Xavier
“Udah kan, Ayo jalan”
Aresta dan Xavier berjalan bersama. Mereka terlihat sangat serasi, siapapun yang melihatnya pasti akan berpendapat sama.
“Lo kok bisa ada dihalte?” Tanya Aresta
“Gue naik bus juga”
“Kenapa sih setiap hujan kaya gini yang nolongin gue pasti lo” Ucap Aresta
“Kalo hujankan langit menangis, nah siapa tau suatu saat nanti gue yang menghapus air mata lo ketika lo nangis” Ucap Xavier tanpa berpikir.
“Gue tunggu saat-saat itu, kalo itu mungkin” Balas Aresta sambil tertawa
“Jangan ketawa, Jadilah Aresta biasa”
“Maksud lo?”
“Aresta yang cuek, kalo lo banyak senyum atau ketawa nanti cowok-cowok banyak yang naksir lo, nanti gue banyak saingan”
“Gue nggak ngerti” Balas Aresta polos
“Udah nyampe, masuk kelas sana dingin” Xavier membuka jaketnya lalu memakaikan pada Aresta. Aresta terdiam
“Udah sana masuk”
“Thanks ya”
Xavier melangkah menuju kelasnya. Xavier masuk dan melihat Leo dan Rio sudah ada dikelas duduk dimeja saling berhadapan.
“Gila Xav, grecep amat” kata Leo
“Siapa sih yang akan menolak pesona seorang Xavier” Ucap Rio
“Sebentar lagi. Siapin aja hadiah gue” Balas Xavier kepada kedua sahabatnya
***
Aresta memutuskan akan memberikan jam pelajaran tambahan untuk Xavier setiap jam istirahat. Perpustakaan tempat yang disepakatinya.
“Res, pulang sekolah jalan yuk” Ajak Xavier
Aresta mendongak “Jalan kemana?”
“Dibalai kota ada pasar malam, gue mau ajak lo kesana”
“Gue ada waktu sore”
“Oke, sore gue jemput ya”
“Syukurlah, Jadi gue gak dimarahin bu ika terus”
“Besok tinggal Matematika”
“Kalo lo yang ngajarin, gue pasti bisa cepet pinter nih”
“Kekelas, udah bel masuk” Ucap Aresta sambil berdiri
Aresta berjalan beriringan bersama Xavier, sambil tertawa mendengar guyonan Xavier.
“Aw! Sorry, Sorry,” Ucap Aresta pada cewek yang tidak sengaja ditabraknya.
“Oh ini alasan lo jauhin gue Xav” Ucap cewek itu
“Maksud lo apa si san?” Balas Xavier
“Akhir-akhir ini lo kemana aja? Pesan gue nggak pernah lo bales” Ucap Sandra
“Dan lo” Sandra menunjuk tepat dihadapan Aresta
“Lo mau ikutin ibu lo? Ngerusak hubungan orang? Menjadi orang ketiga hah!”
Aresta bingung. Apa maksud cewek ini
“Ah lo nggak tau ya, kenalin gue anak pertama dari Ayah lo” Sandra mengulurkan tangan dengan senyum menyeringai.
“Maksud lo apa?” Balas Aresta
“Lo pasti udah dengerkan? Nggak perlu ada pengulangan lagi”
“Lo jauhin Xavier, lo cuma anak dari seorang jalang”
Aresta nampak mengepalkan tangan.
“Apa-apaan sih lo san, malu-maluin” Ucap Xavier tegas
“Kita masih pacaran Xav” Balas Sandra
“Yaudah mulai sekarang kita putus” Ucap Xavier datar
Xavier menarik tangan Aresta untuk pergi dari koridor. Siswa dan siswi sempat melihat perdebatan mereka.
Sandara yang tidak terima diputuskan Xavier sepihak hanya bisa marah “Awas lo Aresta” Teriak sandra marah.
***
Ketika Aresta sedang berjalan kearah gerbang sekolah. Dirinya ditarik beberapa orang cewek yang menggiringnya masuk kedalam gudang
“Ngapain sih” Kata Aresta
“Diem lo, bos gue mau ketemu lo, Ucap dari salah satu cewek
Aresta bingung, Bos? siapa bantinnya
Tidak lama 1 orang cewek datang. Aresta melihat Sandra yang sedang berjalan kearahnya
“Oh, bos dari geng cabe-cabean ini lo ternyata” Kata Aresta tertawa
“Sialan lo” Ucap Sandra menjambak rambut Aresta
“Jangan macem-macem lo, gue bukan tandingan lo semua” Balas Aresta dingin
“Lo bisa apa bocah” Sandra dan 5 cewek tertawa
Ketika Sandra akan memukulnya. Aresta siggap menghindar, lalu tangan Sandar ditangkap Aresta dan memutarnya kebelakang lalu Aresta mendorong Sandra.
“Gue bilang, gue bukan tandingan lo semua” sambil menepuk-nepuk tangan seperti ada debu. Lalu pergi
Sandra semakin marah “Awas lo Aresta, gue bakalan bales lo dari sisi lain”