
Setelah mengantarkan Aresta pulang. Xavier melajukan mobilnya ke suatu club malam. Disana teman-temannya sudah menunggu dentuman musik begitu kencang, kerlap-kerlip lampu menyinari orang-orang yang tengah menari.
“Lama lo Xav” kata Zain
“Sorry, tadi agak macet waktu mau kesini”balasnya sambil mengambil minuman beralkohol yang sudah disediakan
“Cuma segini yang kumpul? ” tanyanya lagi
“Lo ngarepin siapa lagi ? Biasanya emang segini”
Zain, David dan Reza salah satu temannya yang berbeda sekolah
“Cuma gue,Leo,David, Reza emang biasanya segini kan” jawab Zain lagi
“Lo udah mabuk ya Xav sebelum kesini?” Tanya Leo
“Mabuk cinta si Sandra ya lo” tanya David
“Jijik anjay gue, kapan Xavier bisa jatuh cinta, yang ada ini bocah cuma main-main aja” jawab Reza
“Berisik lo pada” ucap Xavier
“Xav bentar lagi kan kita lulus, lo mau lanjut kuliah dimana? Biar kita barengan iya nggak men” kata Leo
“Emang yakin Xavier bakalan lulus?” Tanya Reza sambil tertawa
“Semua bisa dibeli dengan uang” balas Xavier sambil menyeringai
“Iyalah yang punya banyak duit mah bebas, pulau aja bisa dibeli sama dia mah” kata Zain malas
“Kuliah dalam negeri aja, gue cuma butuh izajah aja, buat apa kuliah jauh-jauh kalo gue udah punya segalanya” kata Xavier berbangga diri
“Udah mah ganteng, tajir cuma kurang pinter aja lo Xav” kata Leo
“Pinter bisa nyusul tenang aja”
“Bisa ya pinter dadakan gitu” kata David
“Sebenernya gue udah pinter cuma pas berteman sama lo pada aja gue kebawa bodoh” balas Xavier sambil tertawa
Reza Zain Leo dan David hanya bisa menggelengkan kepala, kenapa dia bisa berteman dengan bocah ini pikir mereka.
***
“Xavier BANGUN!” suara ketukan pintu yang sangat keras
“Xavier kalo 10menit lagi nggak bangun semua fasilitas mamah sita!”
Teriak Desi mamah Xavier
Kalo udah denger ancaman ini sudah berasa mimpi buruk bagi xavier, laki-laki itu bangun dari tidur nya lalu berjalan kearah pintu untuk membuka.
“Iya mah ini udah bangun”
“Mamah bilang jangan main terus!” Ucap Desi sambil berkacak pinggang
“Kan jarang-jarang mah”
“Jarang-jarang kamu bilang? Mamah cape ya, cepat mandi lalu turun sarapan!” melongos pergi karena takut keriput setiap hari dibuat marah-marah oleh anak pertamanya itu.
Setelah selesai mandi dan bersiap untuk pergi sekolah xavier turun ke lantai bawah keluarganya sudah menunggu untuk sarapan bersama.
“Kakak lama ih, Zihan udah lapar tau kak” kata adik perempuan satu-satunya sambil cemberut
“Siapa suruh nunggu kakak?” Jawabnya acuh
“Mamah yang suruh, gantian dong kakak sesekali yang nungguin Zihan, aku terus yang nungguin” Katanya lagi
“Kamu habis darimana semalam” kini giliran Farhan ayah xavier yang bertanya
“Aku habis kumpul sama temen yah” jawab Xavier
“Belajar yang benar, kamu tahu setelah selesai pendidikan yang akan menggantikan ayah menjadi direktur itu kamu, jadi jangan banyak bermain-main Xavier, Ayah tau nilai kamu disekolah itu tidak ada yang bagus”
Xavier hanya diam tanpa mau membalas ceramahan ayahnya, karena kalo dibales malah makin gawat bisa-bisa selesai sampai nanti jam 12 siang.
Xavier melirik kearah adiknya yang hanya menjulurkan lidah mengejek.
“Sudah ayah, makan nanti telat kekantor katanya ada rapat” Ucap Desi menyela
Akhirnya sarapan pagi berakhir dengan keheningan.