Aresta

Aresta
Eps 15



Setelah makan malam, Aresta dan Mia memutuskan untuk mengobrol sebentar diruang keluarga. Aresta terlihat sedang memeluk perut mia yang sudah membuncit. Tidak lama datang bi Diah menyela obrolan Ibu dan Anak itu.


“Maaf non, diluar udah ada temennya” Kata bi Diah


Aresta nampak bingung. Pasalnya Aresta tidak membuat janji dengan siapapun.


“Siapa bi?” Tanya Aresta


“Yang tadi pagi jemput nona”


“Xavier? Mau apa?”


“Yaudah samperin dulu aja siapa tau penting” Kata Mia


Aresta mengangguk


“Aresta kesana dulu ya bunda” Ucap Aresta pada Mia


Aresta melangkah menghampiri Xavier.


“Ada apa?” Tanya Aresta


“Mau ajak lo keluar sebentar” Balas Xavier


“Emang nggak bisa besok ya?”


“Ini penting”


“Yaudah gue ganti baju dulu”


Setelah berganti pakaian Aresta menghampiri Mia untuk meminta ijin.


“Bunda, Aresta mau keluar sebentar boleh?”


“Boleh, jangan pulang terlalu malam ya sayang” Ucap Mia


Mia dan Aresta berjalan menghampiri Xavier.


“Bunda” Sapa Xavier


“Mau ajak Aresta keluar sebentar ya”


“Jangan pulang terlalu malam ya” Balas Mia


“Beres bunda” Sambil mengacungkan jempolnya


“Mau kemana?” Tanya Aresta setelah masuk dalam mobil


“Kejutan” balas Xavier sambil fokus mengemudi


“So romantis lo”


Setelah 20 Menit mengendari mobil. Xavier dan Aresta berhenti disebuah bukit.


“Lo mau apa ajak gue kesini?”


“Udah turun aja, ikut gue”


Aresta turun dan berjalan mengikuti Xavier. Xavier memegangi tangan Aresta agar Aresta tidak jatuh atau terpeleset ketika naik.


“Gue tutup mata lo ya” Xavier menutup mata Atesta menggunakan tangannya


“Ck, bisa nggak sih lo mikirnya positif aja”


“Udah nyampe, nanti hitungan ketiga buka mata lo, 1 2 3” Kata Xavier


Aresta perlahan membuka kedua matanya. Dia telihat sangat takjub melihat pemandangan diatas bukit ini.



“Wow, ini kejutan” Ucap Aresta dengan matanya yang fokus melihat kedepan


“Lo suka?” Tanya Xavier yang berada disamping Aresta


“Suka banget, Thanks” Ucap Aresta sambil tersenyum manis


Aresta duduk sambil memeluk kedua lututnya. Xavier ikut duduk disamping Aresta


“Gue gak tau kapan terakhir kali gue liburan” Kata Aresta tiba-tiba


“Makanya waktu kemarin lo ajak gue kepasar malem itu rasanya bahagia banget. Gue emang terlahir dari keluarga berada. Tapi kalo gue bisa milih, gue mau terlahir dikeluarga biasa-biasa aja asalkan gue dapet kehangatan” Ucap Aresta sedih


Xavier membawa kepala Aresta agar menyandar dibahunya


“Kalo lo mau nangis, nangis aja”


“Gue emang nggak tau rasanya ada diposisi lo”


Aresta menangis disandaran Xavier


“Gue kangen Ayah gue Xav, tapi gue benci kenyataan kalo gue benci Ayah gue sendiri Xav”


“Gue benci bohongi, gue benci dikhianati”


Xavier menegang


“Lo boleh nangis hari ini, sebelum gue larang lo buat nangis”


Lama mereka terdiam. Menikmati angin malam yang sejuk dan pemandangan yang indah


“Thanks, sekali lagi lo udah buat gue bahagia”


“Gue udah janji bakalan bawa lo ketempat yang lebih indah. Sekalian ada yang mau gue omongin”


“Apa?”


Xavier membawa Aresta untuk berdiri menghadapnya.


“Gue sayang lo, mau nggak lo jadi pacar gue?” Tanya Xavier tanpa basa basi


Aresta diam.


“Gue butuh waktu Xav” Balas Aresta


“Oke gue tunggu jawaban lo besok dikafe depan sekolah”


“Gue tunggu jam empat sore”


“Oke” Jawab Aresta


“Gue nggak terima penolakan”