
Setelah selesai dengan liburan. Mereka disibukan dengan mata pelajaran tambahan
“ Aaaaaa, bisa gila gue udah tiga bulan ini pulang sore belajar lagi, belajat terus ” Teriak Leo frustasi
“ Sama Le gue juga pusing ” Balas Rio menyenderkan punggungnya dikursi
“ Semangat woy, gue mau kuliah diinggris ” Ucap Xavier mengagetkan kedua sahabatnya
“ Serius lo? Otak lo nggak akan korslet? ” Tanya Rio khawatir
“ Nggaklah, gue serius tau ” Balas Xavier
“ Aresta mengalihkan segalanya oy ” Ucap Leo
“ Bentar gue mau ngasih bekal makan siang dulu ke Aresta ” Ucap Xavier mengambil kotak makanan dari dalam tas
“ Lo berdua pada ikut nggak? Gue mau kekelas IPA? “ Tanya Xavier
“ Ikut, ada soal yang harus gue tanyain ke Aresta ” Kata Leo
“ Gue mau nyamperin Dea ”
Mereka bertiga berjalan menuju kelas Aresta. Aresta dan Dea terlihat fokus dengan buku-buku dihadapannya, sampai tidak sadar jika Xavier, Leo dan Rio sudah berdiri disamping mereka.
“ Serius banget sih yang? ” Rio duduk dihadapan Dea, kebetulan sang pemilik kursi sedang berada dikantin
“ Sejak kapan lo disini? ” Dea menatap Rio
“ Sejak tadi, lo sibuk amat sih yang santai aja napa? ”
“ Nggak bisa! Gue mau ngejar ujian kedokteran setelah lulus jadi nilai gue harus bagus” Balas Dea
“ Ulu calon istri aku mau jadi dokter? ” Rio menjewel pipi Dea menggoyangkan kekanan dan kekiri
“ Sakit Yo ” Ringis Dea
“ Gemes sih ”
“ Udah makan? Jangan terlalu sibuk nanti sakit, sampai chat gue nggak lo bales dari kemarin ” Kini giliran Xavier
Aresta menggeleng
“ Maaf, gue nggak buka hp sama sekali ” Balas Aresta tanpa memalingkan tatapannya pada buku-buku dihadapannya
“ Buka mulut lo, makan dulu ” Xavier menyodorkan sendok didepan mulut Aresta.
Tanpa menolak Aresta membuka mulut menerima makanan yang disuapi Xavier.
“ Res, soal ini gimana sih ” Leo menyodorkan buku sambil berdiri
“ Pakai rumus ini Le, coba deh kerjain ” Balas Aresta
“ Bener ternyata gue salah rumus ” Leo membeo
“ Nggak makan? ” Tanya Aresta
“ Ini makan berdua sama lo ”
Aresta mengangguk
“ Xav, lo beneran mau kuliah diinggris ” Ucap Rio lagi meyakinkan
“ Iya, lo ikut gue ? ” Tanya Xavier pada Rio
“ Nggak, gue disini aja nemenin calon istri gue ” Balas Rio
“ Emang lo yakin bakalan nikah sama Dea? De emang lo mau nikah sama Rio ” Tanya Leo
“ Iya dong, kita melalu semuanya dari NOL sama-sama ” Balas Dea
“ Bucin tingkat akurat lo berdua ” Leo
“ Lo mau lanjut kemana Res? ” Tanya Xavier
“ Belum tau ” Jawab Aresta acuh
“ Yah LDRan deh ” Goda Rio
“ Emang seyakin itu ya? Hubungan kita bakalan bertahan lama? ” Balas Aresta
“ Jadi selama kita pacaran lo nggak percaya gue ” Kata Xavier
“ Lo tau sendiri, lo playboy kalo lo bosen tinggal cari yang lain, di kampus banyak cewek canti Xav apalagi diluar negeri, apa gue seyakin itu lo nggak akan berpaling? ” Tanya Aresta
Xavier diem. Ucapan Aresta tidak salah sebentar lagi kelulusan itu artinya taruhannya selesai.
“ Gue tetep sayang lo Xav, walaupun hati lo belum tentu gitu ” Kata Aresta, membuat ketiga orang saling bertatapan merasa bersalah.
“ Gue masuk kelas dulu ya ” Balas Xavier
“ Oke, hati-hati ya ” Aresta melambaikan tangan
*** Dikelas Xavier
“Xav, lo bener nggak ada perasaan apapun sama Aresta?” Tanya Leo
“Gue yakin lo mulai jatuh cinta juga Xav tapi hati lo belum sadar” Rio memberikan pendapat
“Bisa jadi sih, kalo lo mau batalin taruhan ini bisa ko Xav”
“Gue belum yakin sama perasaan gue” Balas Xavier pada kedua sahabatnya
“Lo pastiin dulu, sebelum semuanya terlambat” Kata Rio
“Nanti kalo udah waktunya, gue pasti kasih tau lo pada” Balas Xavier