
Aresta bangun. dilihat jam diatas nakas menunjukan jam 5 sore. Aresta berjalan kekamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa lengket. Setelah selesai, Aresta duduk dimeja belajar lalu membuka buku pelajaran fisika untuk mengerjakan tugas yang diperintahkan guru.
Tok..tok...tok
Suara ketukan pintu kamar Aresta, Aretsa bangun dari duduknya lalu berjalan membukakan pintu.
“Sayang ayo makan malam dulu” ajak Mia
“Baiklah” Aresra berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Seketika langkah kakinya terhenti melihat siapa yang ada meja makan sedang duduk menikmati kopi, kenapa ayahnya bisa pulang lagi pikirnya heran.
“Kemarilah kamu tidak merindukan ayah?”
kata Rian berbicara.
Aresta berjalan lalu duduk. “tidak” balas aresta dingin
“Wah, kamu sungguh kurang ajar Aresta, apa ini sikap mu tehadap orang tua? Apa begini didikan mu Mia?” Tanya Rian sinis
“Oh aku tau, sikap tidak sopan ini pasti menurun darimu?” ucap Rian lagi menyalahkan Mia
“Tentu saja sikap ku yang tidak baik ini menurun darimu, kau kan memang tidak mempunyai sikap baik sama sekali” balas Aresta sinis
“Kau memang kurang ajar!”
“Cukup!! Aku benci melihatmu disini!
Lebih baik jangan pernah pulang ke rumah ini ! Kami baik-baik saja tanpa adanya kau” Kata Aresta sambil berdiri.
“Bunda Aresta sudah kenyang” katanya sambil memandang Mia
“Sayang, kamu belum makan sama sekali, ayo duduk lagi”
“Tidak bunda, Aresta kenyang, maafkan Aresta bunda” lalu Aresta pergi dari meja makan menuju kamarnya.
***
Pertengkaran masih berlanjut.
Dikamar Aresta nampak mengepalkan tangan sambil memejamkan mata. Dia tidak terima bundanya selalu saja disalahkan.
“Aku benci ayah” gumamnya
“Aku tidak akan pernah maafkannya,
walaupun dia berlutut dihadapan ku”
“Aku membencinya seumur hidupku”
***
“Apa!! Jangan harap kau akan lepas dari ku” kata Rian sambil mencengkram dagu Mia
“Kau serakah, kau ingin aku dan wanita itu?”Teriak Mia lagi
“Percuma kita melanjutkan pernikahan ini, kau hanya melihat wanita itu, tidak denganku dan Aresta anak kandung mu”
“Kau telihat sangat menyayangi wanita itu dan anaknya, yang bukan anak kandung mu”
“Aku harap suatu saat kau akan menyesal” Ucap Mua sambil berlalu pergi dengan air mata yang membanjiri di kedua pipi.
Rian duduk diruang keluarga. Melihat Aresta berjalan membawa ransel.
“Mau kemana Aresta?” Tegur Rian
“Bukan urusan mu” balas Aresta acuh
“Apa kamu ingin menjadi ****** Aresta?”
“Jika itu bisa membalas perlakuan mu terhadapa bunda, kau lupa bunda tersakiti seperti ini karena siapa? Karena ****** mu”
sinis Aresta
Ppllaaakkk.... tamparan mendarat dipipi Aresta. Aresta nampak memegangi pipinya yang terasa memanas.
“Jika kamu berani keluar dari rumah ini, jangan pernah lagi kembali” tegasnya
“Bahkan ini bukan rumah mu, ini rumah bunda ku”
“Ah, benar sekali, kalau begitu tinggalkan semua fasilitas yang ayah berikan untuk mu”
“Hahaha” Aresta tertawa
“Fasilitas? Fasilitas apa yang kau maksud? Mobil? Kartu Kredit? Aku tak pernah memakainya”
“Sekolah mu siapa yang membayar?
“Jangan lupa, kau membiayai wanita itu dari harta bunda” ucap Aresta tidak terima
“Aresta!!! Jangan kurang ajar!!” Bentak sang ayah
“Kau pikir aku tidak muak dengan semua ini? Dengan semua perlakuan mu terhadap bunda? Apa kau layak disebut sebagai ayah? Bahkan aku jijik memanggilmu dengan panggilan itu”
“Jangan mengatur ku, anggap saja aku bukan anak kandung mu” ucap Aresta sambil berlalu
Aresta rindu masa-masa kecilnya. Ketika ayah dan bunda begitu hangat. Ayah nya berubah ketika aresta berumur 5 tahun. Sang ayah memutuskan kembali kepada mantan kekasihnya.
Bunda dan ayah menikah karena dijodohkan dan Rian sama sekali tidak mencintai Mia, terlebih lagi Rian mempunyai anak dari mantan kekasihnya. Itu artinya Aresta mempunyai kakak dan Aresta tidak ingin tahu itu.