Aresta

Aresta
Eps 5



Perdebatan kecil terdengar diruangan tempat Xavier dan Aresta belajar.


“Bukan itu rumus nya Xavier”


“Bener ini” kata Xavier tidak mau kalah


“Salah” jawab Aresta sabar


“Yang bener yang ini” Aresta menunjuk buku


“Oh salah ya”


“Udah salah, nyolot lagi”


“Ya maaf” Xavier menunduk mecatat


“Xavier, Aresta” ayo makan dulu kata Desi


“Nggak usah tante, aku mau pulang ko” pamit Aresta


“Loh, ko pulang? Emang udah selesai ya belajaranya?”


“Udah tante”


“Yah, padahal tante udah masak banyak”


kata Desi kecewa


“Makan dulu ya sebelum pulang” bujuk Xavier karena tidak mau melihat mamahnya kecewa


“Masakan mamah gue enak loh”


“Yaudah” Merasa tidak enak kalo menolak.


Desi tersenyum lalu menggandeng Aresta menuju meja makan.


Aresta duduk di samping gadis kecil yang cantik “halo kakak” sapa Zihan


“Halo adik kecil” Aresta membalas sambil tersenyum


“Kakak pacar kak Xavier?”


“B-bukan” jelasnya cepat


“Jangan mau pacaran sama kak Xavier” ucap Zihan


“Adik kecil tau apa tentang pacaran?” Balas Xavier


“Gini-gini juga Zihan ngerti kak, temen sekelas Zihan udah ada yang pacaran”


“Belajar yang bener” Tegas Xavier


“Kenapa jadi ribut sih, kasihan tuh Aresta udah nungguin”


“Maaf ya kak” ucap Zihan pada Aresta


“Nggak apa-apa Zihan” balas Aresta sambil tersenyum menepuk puncak kepala Zihan.


***


Aresta menaiki tangga menuju kamar Mia, ketika dibuka Aresta mendapati Mia sedang terduduk menangis, lalu Aresta berlari menghampiri Mia


“Bunda kenapa?” kata Aresta sambil memeluk Mia


“Kamu sudah pulang nak?, bunda tidak apa-apa” sambil membalas pelukan Aresta.


“Jangan berbohong bunda”


“Bunda tidak apa-apa”


“Jika ayah tidak menginginkan bunda, ingat masih ada Aresta yang menginginkan bunda” ucap Aresta sedih


“Maafkan bunda, kamu harus melihat ini semua”


Aresta menggeleng


“ini bukan salah bunda, ini salah ayah”


Ya aresta tau kalo ayahnya meninggalkan bundanya demi wanita lain, dan Aresta tau kenapa Mia bisa menangis.


Pasti ayahnya baru pulang kerumah dan bertengkar hebat.


“Kamu sudah makan?” tanya Mia pada Aresta


“Sudah bunda, tadi aresta belajar bersama dirumah teman”


Mia mengangguk sambil membenerkan anak rabut Aresta


“Tumbuhlah menjadi gadis baik hati” ucap mia sambil tersenyum.


Aresta mendongak membalas senyuman mia “pasti bunda” balas Aresta, lalu memeluk Mia


“Kalo bunda udah nggak kuat sama ayah, bercerailah”


“Jika nanti sudah saatnya” ucap Mia


“Jangan menyakiti hati bunda, Hati ibarat raja jika raja sakit maka pasukannya pun akan lemah”


“Bunda kuat sayang, selesaikan sekolah mu, gapailah cita-cita mu, bunda akan selalu mendukung”


Aresta bersyukur walaupun ayahnya tidak peduli pada dirinya, setidaknya masih ada bunda yang sangat baik hati. Aresta janji akan membanggakan bundanya.


“Aresta kekamar dulu ya bunda, mau ganti baju”


“Istirahatlah pasti kamu lelah”


***


Aresta merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil bermain handphone. Ada pesan masuk rupanya dari Xavier


“Gue udah nyampe, jangan khawatirin gue, makasih ya hari ini” isi pesan itu.


“Siapa yang peduli?” Terkirim


Aresta membuang handphone ke samping setelah membalas pesan Xavier. Aresta memejamkan matanya tidak lama suara dengkuran halus terdenger, rupanya gadis itu tertidur tanpa mengganti pakaian.