
Semangat kelulusan berkobar untuk anak kelas XII. Hari ini ujian nasional waktu belajar 3 tahun akan diputuskan dalam 4 hari ini. Dan sekarang hari terakhir ujian nasional, kelulusan akan diumumkan 2 minggu yang akan datang.
Ddrrtt...Drrrtt suara getaran dari hp Aresta. Aresta menyentuh layar lalu menempelkan hp kearah telinga.
“Iya paman ada apa” Balas Aresta untuk seseorang yang berada disebrang sana
“ Bisa keluar sebentar Aresta? “ Jawaban disebrang sana
“Baik paman, Aresta keluar sebentar lagi” Lalu panggilan ditutup.
“Kenapa Res?” Tanya Dea
“Gue udah dijemput paman Arta, dia udah nunggu didepan gerbang”
“Lo mau pulang sekarang?” tanya Dea lagi
“Gue mau kekelas Xavier dulu, balikin ini” Aresta menunjuk kotak makanan yang sudah kosong
“Yaudah barengan gue juga mau kesana”
Aresta dan Dea berjalan bersamaan menuju kelas Xavier, langkahnya terhenti ketika didalam kelas Aresta mendengar pembicaraan 3 cowok bersahabat itu.
“Selamat bro, lo menang taruhan” Kata Leo
“Kunci sama sertifikat villa nanti ambil dirumah gue” Kata Rio
“Gue beneran mau tanya, beneran lo nggak ada perasaan apa-apa sama Aresta? Lo bisa mengaku kalah dari taruhan ini” Leo bertanya
“Gue lihat lo sayang Aresta bukan karena taruhan ini, tapi memang dari hati lo Xav?”
Aresta menjatuhkan kotak makan, seketika 3 cowok itu menoleh pada sumber suara pandangan Aresta dan Xavier bertemu.
Aresta membalikan badannya lalu lari.
“Shit” Umpat Xavier
“Gue kecewa sama loe semua” Ucap Dea marah kepada 3 cowok itu
“Rio, kita putus” Kata Dea pada Rio lalu Dea ikut berbalik dan pergi.
Xavier berlari mengejar Aresta.
“Arestaa, tunggu gue bisa jelasin” ucap Xavier namun Aresta sudah jauh berlari. Xavier melihat Aresta masuk kedalam mobil hitam.
“Gue bisa jelasin Res” kata Xavier mengatur nafasnya sambil melihat mobil Aresta menjauh.
Artha seorang pria berusia 35 Tahun yang menjadi kaki tangan sang Bunda.
Aresta menangis, hatinya sangat sakit ketika cintanya hanya dijadikan bahan taruhan.
“Nona Aresta? Tidak apa - Apa ? ” Artha bertanya karena khawatir melihat Aresta menangis.
“Tidak apa-apa paman” Balas Aresta
“Kita mau kemana?” Tanya Aresta setelah tangisannya mereda
“Kita kerumah sakit” Balas Artha
Aresta nampak bingung
“Siapa yang sakit paman?”
“Nanti nona akan tahu “
Setelah sampai dirumah sakit, Aresta mengikuti langkah Arta lalu berhenti diruangan ICU.
“Silahkan nona masuk”
Aresta membuka pintu lalu masuk kakinya terasa lemas setelah melihat siapa yang berada diranjang ruangan tersebut.
“B-bunda” Ucap Aresta tergagap, Air mata Atesta jatuh tak terbendung. Aresta menangis sejadi-jadinya disamping ranjang sang bunda.
“Saya akan jelaskan nona”
“Jelaskan” Balas Aresta
“Nyonya mengalami serangan jantung setelah melihat ini”
Artha menyerahkan amplop putih kepada Aresta. Aresta membukanya lalu meremasnya
“Sialan siapa yang mengirim ini” Kata Aresta. Didalam amplop tersebut menyebutkan fakta yang Aresta sembunyikan selama ini. Ayahnya memiliki anak sebelum Aresta
“Kandungan bunda bagaimana?” Tanya Aresta
“Adik nona berhasil diselamatkan, Dia anak laki-laki”
“Aku ingin melihatnya”
Aresta berjalan mengikuti Artha
“Ini adik anda nona, dia sangat mirip dengan nyonya”
Aresta membawa tangan mungil kearah bibirnya lalu mencium dengan lembut
“Hey jagoan, kakak berjanji akan melindungi mu” Ucap Aresta meneteskan air mata
Setelah Aresta keluar untuk menuju ruangan sang Bunda. berbarengan dengan keluarnya seorang pria berjaket dari ruangan sang bunda, pria itu nampak mencurigakan.
“Paman tolong tangkap orang itu” Artha sedikit terkejut
“Baiklah nona” artha berlari untuk mengejar orang tersebut
Sementara Artha mengejar orang yang mencurigkan tersebut, Aresta masuk melihat sang bunda yang kejang, lalu memcet tombol untuk memanggil dokter, tidak lama dokter datang dengan beberapa perawat
“Mohon ditunggu diluar nona” Ucap salah satu perawat
Aresta keluar dan duduk dikursi tunggu yang ada didepan ruangan
“Apa yang terjadi nona” Artha melihat Aresta yang duduk menangis
Belum sempat Aresta menjawab, dokter keluar
“Maafkan kami nona, kami sudah berusaha sekuat yang kami mampu, tapi Tuhan berkehedak lain. Pasien meninggal karena keracunan” Ucap Dokter tersebut
“Tidak mungkin” Aresta menangis terduduk dilantai
“Nona harus kuat” Ucap Artha memeluk Aresta
***
Pemakaman Mia dihadiri keluarga terdekat, Aresta terlihat sangat kacau, Aresta melihat sekeliling tidak menemukan sang Ayah.
“Nona harus bersiap, hari ini nona akan terbang ke Amerika” Bisik Artha
“Tidak ada waktu lagi nona, ayo cepat kita pergi” Artha berbisik lagi
Aresta dan Artha begegas masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan.
“Adik bagaimana?” tanya Aresta pada Artha
“Sudah diambil pengasuh nona, dia sudah berada dibandara menunggu kita”
“Sebenarnya ada apa?”
“Anda dalam bahaya nona, Ayah anda sedang mengincar anda” Jawab Artha
“Kenapa?” Aresta bingung
“Harta warisan nyonya besar 80% jatuh pada tangan anda, tetapi anda belum bisa mengambilnya karena anda belum berusia 20 Tahun, jika anda tiada harta warisan 100% jatuh pada tuan besar. Jelas Artha
“Jadi yang membunuh bunda” Ucap Aresta menggantung
“Anda benar nona, Tuan besar yang membunuh Bunda”
“Sialan” Aresta marah
“Jika kau dan aku pergi, siapa yang mengawasi pria itu dan perusahaan?”
“Masih ada orang kepercayaan saya yang akan mengurusnya, selama anda berasa di Amerika. saya akan terus menjaga anda nona”
“Lanjutkan studi di Amerika, jadilah apa yang nona mau” Ucap Artha lagi
“Dokumen lainnya?
“Biarkan saya yang mengurusnya nona”
Mobil berhenti didepan bandara, Aresta dan Artha disambut beberapa bodyguards.
“ Ikut saya Tuan, pesawat sudah siap” Ucap salah satu bodyguard
“Kerja bagus, tolong urus semuanya” Kata Artha
“ Mari nona” Artha mempersilahkan Aresta untuk mengikuti langkahnya untuk memasuki pesawat pribadi
“ Bunda banyak sekali menyimpan rahasia yang tidak aku ketahui” Aresta tidak tau jika sang bunda mempunyai pesawat pribadi
“Nyonya bahkan sudah menyiapkan ini nona, nyonya tau waktu ini akan tiba” Balas Artha
“ Istirahatlah nona, sepertinya ada kelelahan”
Aresta mengangguk lalu memandang keluar pesawat, dirinya belum sempat berpamitan pada Dea. Soal Dea Aresta jadi teringat tentang Xavier “ Aku tulus mencintai mu, mungkin aku harus melupakan mu mulai sekarang, selamat tinggal Xavier, selamat tinggal Dea, selamat tinggal negara yang indah, tunggu aku kembali” Ucap Aresta sebelum memejamkan mata.