
Sesampainya dirumah Aresta disambut oleh bundanya Mia.
“Anak bunda udah pulang? tanya Mia kepada anak perempuan satu-satunya itu.
“Bunda, aku ganti baju dulu ya” jawab Aresta
Mia mengangguk “nanti kalo udah selesai makan ya”
“Baik bunda”
Aresta menghempaskan tubuhnya diatas kasur setelah masuk kamar dan berganti baju sambil bermain handphone lalu duduk lagi setelah ada pesan masuk pada handphone nya. Aresta mengerutkan kening, nomor yang tidak dia kenali
“Hai Res gue Xavier” lama Aresta memperhatikan layar hp nya sampai suara ketukan pintu kamar terdengar membuyarkan lamunan.
Masuklah mia membawakan nampan berisi makanan
“Loh bunda kenapa bawa makanan kesini, pedahal resta mau kebawah” Tanya Aresta
“Bunda nungguin kamu lama loh, kok nggak turun-turun, eh dilihat malah lagi bengong”
“Hehe maafin Aresta bunda”
“Yaudah makan ya”
“Makasih bunda” jawabnya sambil tersenyum
***
Ditempat lain Xavier dan kedua teman nya sedang berkumpul dicafe langganan nya. Ketika xavier lama mengamati hp nya menunggu balasan dari pesan yang telah dikirim kepada seseorang.
“Dibales nggak xav?” tanya Rio
“Nggak dibales, baru kali ini gue dicuekin cewek” dengusnya
“Itu artinya lo cuma manusia biasa bukan dewa yang selalu dipuja banyak cewek-cewek” Jawab Rio sambil tertawa
“Taruhan nya sampai kita lulus ya, sekitar 5bulanan lagi” Jelas Leo
“Kalo gue kalah gue harus apa” Tahya xavier
“Lo harus tobat jadi playboy” Jawab kedua temannya barengan
“Gue yakin gue gak bakalan kalah” Jawab xavier masih percaya diri.
Xavier berdiri dari duduk nya “gue cabut dulu ya, sandra ngajak jalan” Pamit kepada kedua temannya
“Siapa sandra?” Tanya rio
“Anak IPS” Jawab leo
Rio hanya mengangguk mengerti, sudah hal biasa bila xavier berganti kekasih pikir rio
***
Setelah selesai menyimpanan piring kotor Aresta berjalan menuju ruang tv dilihat mia yang sedang duduk membaca majalah.
“Bunda” panggil Aresta
“Anak bunda udah cantik mau kemana?”
“Aku mau ketoko buku dulu bunda, cari novel boleh ?”
“Boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya ”titah Mia
“Oke bunda, aku pergi dulu ya”
Setibanya ditoko buku setelah masuk kedalam mall dan berjalan melewati berbagai macam toko yang ada didalam mall terbesar dipusat kota. Aresta berjalan menyusuri rak-rak buku yang berjejer, surga dunia bagi mereka para pembaca, bau buku baru menjadi candu untuk mereka para pencinta buku. Aresta mencari novel yang akan dibeli atau mencari lagi novel-novel yang sekiranya tertarik untuk cewek itu baca. Berhenti sebentar membaca sinopsis buku tersebut.
Setelah menghabiskan 2jam ditoko buku aresta berjalan menuju halte. hari sudah mulai mendung, sepertinya akan turun hujan.
Bener saja tidak lama setelah itu hujan turun dengan deras, aresta melihat jam yang berada dipergelangan tangannya menunjukan angka 5 sore cewek itu menghembuskan nafas
“sebentar lagi makan malam” gumam nya.
Aresta sangat bosan dan kedinginan saat ini. Menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti, dan parahnya Aresta lupa membawa handphone. Aresta hanya bisa merutuki kebodohan diri sendiri.
“Ayo”
Aresta menoleh kearah suara, sejak kapan Xavier ada dihadapan nya dengan membuka jendela mobil
“Kalo nunggu hujan lama. Jarang ada angkutan pula” ajak xavier lagi.
Aresta mengangguk. Xavier nampak tersenyum, lalu aresta berjalan ke arah samping kemudi
Tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut Aresta dan Xavier
“Rumah lo dimana” tanya xavier memecah keheningan
“Nanti didepan belok kiri” Kata Aresta
“Lo harusnya kelas sebelas kan?”
“Iya” balas Aresta acuh
“Lo pasti pinter banget ya sampai loncat kelas gitu”
Aresta hanya diam tak berniat membalas ucapan cowok itu.
“Rumah gue di depan”
“Oh, rumah lo disini”
Mobil berhenti tepat di depan gerang rumah aresta.
“Lo gak mau ajak gue makan malam di rumah lo gitu? Sebagai tanda terima kasih”
Aresta nampak mengerutkan dahi, bingung cewek ini berpikir dia belum sedekat itu dengan cowok ini.
“Maaf ya, kita tidak sedekat itu”
“Ya kan biar deket” kata Xavier sambil
Menaik turunkan kedua alisnya
“Nggak!”
“Yaudah tapi gue minta kalo ada pesan masuk dari gue bales ya, jangan dicuekin mulu kuota mahal tau”
“Bilang dulu iya, nanti gue buka kunci nya”
Aresta menghembuskan nafas kesal
“IYA!”
“Nah, gitu dong ngeGAS”
Aresta turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Xavier.