Andia

Andia
episode 7



Andia tampak ragu.Diperhatikannya rumah itu lebih teliti lagi.Rumah itu cukup besar.Memiliki halaman yang cukup luas.Bersih,terawat, namun seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Pintu dan semua jendela tertutup, tampak sebuah garasi yang juga tertutup.


Ia lebih mendekat, berdiri di depan pagar.


"Maaf ..permisi.."terdengar suara seseorang mengagetkan Dia.Seorang perempuan paruh baya yang ditangannya terlihat keranjang berisi belanjaan,sepertinya dia baru dari pasar.


"Maaf..ada yang bisa bibik bantu nona..?"


tanya orang itu lagi.Dipandanginya sosok Dia dari atas sampai bawah.


"..emm.. maaf.. apakah ini benar rumah Pak Nirwan bi? " tanya andia tampak ragu


Perempuan paruh baya itu bukannya menjawab, tetapi kembali mengamati Dia dengan lebih teliti lagi dari atas sampai bawah.


"Nona siapa ? ada keperluan apakah? "


tanya nya kemudian


Andia mulai sedikit tersenyum lega.Sepertinya ia tidak salah, ini memang benar rumah Nirwan.


"Saya Andia bi, teman Pak Nirwan.. sudah lama saya tidak melihatnya ke kantor.Saya menghawatirkannya.Apakah Pak Nirwan baik- bIk saja.? Kenapa Pak Nirwan tak pernah kelihatab ke kantor?" Jelas dia sopan dan hati-hati.


Si bibik kembali mengamati Dia, tapi kemudian wajahnya mulai kelihatan tak setegang tadi.


"Maaf nona.. tapi tuan tidak ingin diganggu. Tuan tidak ingin bertemu siapa-siapa"jawab bibik dengan pelan.


Andia tersenyum, dipegangnya bahu perempuan yang ada di depannya.


"Bi.. percaya sama saya.. bibik tinggal tunjukkan kamarnya.Saya yang akan ke sana.."


Wajah bibi kembali ragu.


"Tapi nona, saya takut tuan marah.Meskipun saya juga sebenarnya kawatir dengan keadaan tuan, karena tuan terus mengurung diri di kamar.." ucap bibik tampak sedih.


"Bibi masih tak percaya sama saya?" tanya Dia lagi dengan wajah memohonnya.


"Baiklah non..mari bibi antar..tapi kita lewat pintu samping saja ya.. mari non"jawab bibi kemudian.


Andia mengikuti langkah bibi dari belakang.


Dalam rumah ini cukup luas; bersih namun tetap tak meninggalkan kesan seperti penghuninya. Misterius.


"Itu kamar tuan nona"bibi menunjukkan sebuah pintu yang terletak paling ujung di ruangan tersebut.


Bibi segera membuatkan teh hangat sesuai permintaan dia.


Dia menuju kamar Nirwan, membawa teh hangat buatan bibi


"Tok tok tok !" Dia mulai mengetuk pintu kamar Nirwan.Tidak ada jawaban


"Tok tok tok" Dia coba mengetuk kembali


"jangan ganggu saya " terdengar suara keras dari dalam kamar.


Dia menarik nafas perlahan.


Terlihat ia coba meyakinkan dirinya kembali


"Tok tok tok !"


"Sudah saya bilang saya tidak ingin diganggu!"Pintu dibuka dengan kasar disertai suara bentakan yang cukup keras.


Dia terkejut.Dan teh yang ada ditangannya terjatuh. Spontan Dia jongkok memunguti pecahan gelas yang berserakan.


Nirwan mengamati gadis itu.


"Siapa kau? sedang apa kau didepan kamarku ?"tanya nirwan dingin


"bi ! bibi! " terdengar suara nirwan lagi , berteriak memanggil pelayan rumah itu.


Dari arah dapur bibi tampak tergopoh-gopoh datang dengan wajah ketakutan mendekat ke arah Nirwan.


'Maaf tuan.. Maafkan saya...Saya.." bibi terbata-bata dengan suara ketakutan berusaha menjelaskan.


"Siapa dia bi? sedang apa dia disini ? sudah saya bilang jangan sekalipun mengijinkan siapapun masuk ke rumah ini tanpa seijin saya."


Suara Nirwan masih saja terdengar keras.


"Maaf tuan.." bibik mencoba menjelaskan


"ini aku.. " Andia berdiri tepat didepan Nirwan.


Suaranya dingin .Matanya tajam menatap ke wajah Nirwan.