Andia

Andia
episode 11



Andia merasa kacau.


Ia malas untuk melakukan apapun.


Ia sibuk dengan banyak hal yang ada dipikirannnya.


Tentang hidupnya, kuliahnya, dan tentu saja tentang hatinya.


Ia seakan tak mampu berbuat apa-apa bahkan meskipun itu menyangkut tentang perasaannya sendiri.


Belakangan ini ia makin sering berdiam diri di kamar. Dia hanya keluar kamar seperlunya.


Pagi berangkat kuliah, menjelang sore baru pulang.Jangankan keluar rumah, keluar kamar pun tidak.Padahal rumahnya tidak besar, apalagi kamarnya.Sebuah rumah yang ada di perkampungan yang padat penduduknya.


Andia memang jarang bergaul di kampungnya.Namun bukan berarti dia tidak ngehits disini.Siapa yang tidak tau Andia.


Dia cantik,manis, ramah walau terkadang bisa galak juga.Dia aktif, dan Dia juga memiliki pemikiran dan cara pandang yang berbeda dibandingkan teman-teman ataupun orang-orang yang tinggal disekitar rumahnya.


Andia sering kali dimintai untuk memberikan pertimbangan ataupun pemikirannya jika ada yang sedang membutuhkan solusi.


Hp yang ada di atas meja kamarnya terlihat menyala.Andia sempat meliriknya,namun ia biarkan saja.Sesaat Hp itu menampakkan layar yang bercahaya kembali.Menandakan ada panggilan ulang.


Dengan malas Andia meraih Hpnya.


"assalamu 'alaikum.."sapa Andia pelan


"Aku tidak melihat Hp dari tadi, aku sedang mau istirahat... Hpnya aku silent.." Dia menjawab dengan tidak bersemangat.


"iya aku di rumah.. malas ah.. aku sedang tak ingin kemana-mana. aku ingin dirumah saja"


"hah ! sebentar lagi sampai ? .. apa kau tidak bisa membuat keputusan melibatkan orang lain ? Kau hanya pura-pura bertanya, padahal semua selalu sudah kau rencanakan dan kau putuskan sendiri.!"dengan kesal Andia menutup sambungan telpon.


Dia masih saja kelihatan kesal sambil menggerutu tak jelas dan berjalan ke kamar mandi.


Bu Siti ibu Andia menatap heran wajah anaknya ketika berpapasan di dapur.


"Kenapa kamu nak, kenapa sepertinya kesal sekali ?"Tanya Bu Siti


"Teman ibu itu.. Apa dia tidak ada kerjaan .


Dia selalu membuatku repot."


Dia masih saja bersungut-sungut sambil masuk ke kamar mandi.


"Anak gadisnya bu Siti jam segini baru mandi"


Terdengar sambutan seseorang sambil berdecak geleng-geleng kepala ketika Dia menuju kamarnya.


Dia terkejut melihat pemilik suara itu.


Siapa lagi kalau bukan Nirwan


Dan Dia bukannya bergegas, tapi sengaja berlama-lama di dalam kamar.


Ia seakan enggan menemui laki-laki yang sebenarnya memang sengaja datang untuknya.


"Dia.."terdengar suara ibu


Dia tak menjawab.Ia masik asik menyisir rambutnya.


"Dia.."Terlihat ibu sudah muncul di pintu kamarnya


"Temuilah Pak Nirwan. Dia sudah menunggumu"


Hanya itu yang diucapakan Bu Siti.


Tak lama kemudian, Dia keluar .


"Hai.."sapa Nirwan.


Seperti biasa dia selalu tampak manis didepan Dia. Nirwan yang memang usianya jauh lebih dewasa terlihat begitu sabar menghadapi Dia yang selalu dingin terhadapanya.


"Ada apa ?" tanya Dia pendek


Lagi-lagi Nirwan tersenyum


Dalam hati Dia geregetan melihat Nirwan yang masih saja tersenyum meskipun dia selalu memperlakukan Nirwan dengan dingin.


Sebenarnya Dia ingin membuat Nirwan bosan menghadapinya,dan menjauh dengan sendirinya dari kehidupannya.


"Ini kan hari libur. Apa kamu tidak ingin pergi kemana.?" tanya Nirwan


"Tadi bukannya aku sudah bilang kalau aku sedang tidak ingin kemana-mana"


jawan Dia


"Aku belum sarapan.. Maukah kau menemaniku sarapan ? " Pinta Nirwan


"Bukannya barusan dari rumah, kenapa tidak sarapan di rumah tadi ? " Dia


"Aku ingin sarapan ditemani kamu"Nirwan


"Tunggu sebentar"Dia bangkit dan hendak menuju ke dapur


"Dia.."panggil Nirwan


Dia menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Nirwan


Nirwan menggeleng pelan


"Aku ingin sarapan di luar" Katanya kemudian.