
"Assalamu 'alaikum sayang.."
sapa Nirwan pagi itu melaui sebuah pesan
"Wa 'alaikum salam.." jawab Andia
"Tidak ada sapaan yang lebih maniskah untukku pagi ini..😊?" disertai emot tersipu..
Andia tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan kelakuan Nirwan.
"Iya abaang.. "jawab Dia
"Aku antar ke kampus ya..?" Nirwan menawarkan diri
"Abang tidak repot ?"Tanya Dia.
"Tidak.. sekalian ada yang ingin aku sampaikan" jawab Nirwan.
"Aduh apa ini? kok jadi deg-degan gini ya" batin Dia
"tentang apa ?" balas Dia kemudian.
"Nanti saja kalau sudah ketemu.
Kamu mau diantar pakai apa sayang ?
motor atau mobil..? " tanya Nirwan menawarkan
"Kalau ada yang mau dibicarakan, abang bawa mobil saja.. jangan terlalu siang, nanti aku telat" pesan Andia
"Iya.. aku berangkat sekarang saja nich ?" tanya Nirwan
"Sarapan dulu !.. Baru berangkat" titah Dia
"Siap komandan ku sayang.. sampai nanti "
Nirwan menutup percakapan
Sekitar satu jam kemudian Nirwan sudah berdiri di depan pintu, tersenyum ke arah Dia yang sudah menunggunya.
"Assalamu 'alaikum.."Cogan itu, Sebutan dari teman-teman Andia tiap kali Nirwan ke kampus untuk Andia, menyapa dengan senyum khasnya.
"Wa 'alaikum salam.. abang.." jawab Dia dengan sengaja memberikan jeda untuk mengucapkan kata abang.
"kau ini" disentilnya ujung hidung Andia sambil kembali tersenyum
"Kita berangkat sekarang?"tanya Nirwan kemudian
Dia hanya mengangguk dan mereka berpamitan dengan orang rumah untuk berangkat ke kampus.
"Sarapan apa tadi " tanya Andia, tanpa menggunakan embel-embel apapun.
"Tadi bibik bikin sup ayam.. kesukaan Kania" jawab Nirwan
"Oh kania suka sup ayam.." komentar Andia ringan
"Katanya mau bicarakan sesuatu." kata Andia kemudian
Mencoba mencari tempat yang aman untuk menepi.
"Kenapa berhenti bang" tanya Andia
Nirwan menoleh ke arah Andia yang ada disampingnya. Dan ditatapnya dalam-dalam wajah Andia.
Dia berusaha menunggu dengan tenang meski sebenarnya dalam hatinyapun sudah mulai tak sabar.
"Dia.. siang nanti aku berangkat ke Malaysia.. aku akan ada disana untuk waktu dua minggu"
kata Nirwan kemudian
Dia tak berekspresi.
"Dia.." Nirwan akan kembali meneruskan kalimatnya
"Kenapa mendadak begitu ?" Tanya Andia .Tersirat sedikit pesan protes meski ia mengucapkannya dengan intonasi dibuat sebiasa mungkin
"Ada yang harus diselesaikan segera.
Dan aku yang ditugaskan kesana. Aku akan kembali secepatnya setelah semuanya selesai" Jawab Nirwan.
Dia tak berkata apapun
Nirwan meraih jemari tangan Andia. Dan didekatkan ke bibirnya, dikecupnya berulang-ulang.
"Apakah kau kehilanganku ?" Tanya Nirwan pelan
"Tidak " jawab Dia pendek
"Sudah pasti kau tak kehilanganku.. kau tak mencintaiku.." Kata-kata Nirwan lebih tepat seperti sebuah keluhan.Dilepaskannya jemari Andia yang tadi ada digenggamannya.
"Padahal aku begitu berat akan jauh darimu..
membayangkan saja aku tak sanggup..
Kenapa Aku terlalu berkhayal berharap kau akan kehilangan aku , sedangkan aku tau kau tak mencintaiku.." Nirwan menghempaskan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Aku tak mencintai kehidupanmu abang..
aku tak mencintai duniamu.
Aku sungguh tak bisa .."ucap Andia pelan yang lebih terdengar seperti rintihan.
"Kau bergaul dengan dunia malam. Kehidupan kerasmu. Dan teman-teman yang sungguh membuatku ingin menjauh darimu.Kau perokok saja itu sudah membuatku enggan dekat denganmu, apalagi kau minum!"
Suara Andia mulai terdengar mengeras
"Aku sudah tak ada disana Andia.. Aku tak keluar malam lagi untuk kumpul dengan kawan-kawanku..Aku juga sudah membatasi pergaulanku.. Aku sungguh-sungguh tentang itu.Aku sudah berusaha keras untuk itu."Nirwan mencoba meyakinkan Andia
Diraihnya kembali jemari tangan Andia
"Tolong percaya padaku Andia.Aku benar-benar cinta padamu"