
"Kak..! Kak Dia ! kakak dimana ?"
Terdengar ada yang memanggil - manggil Dia.
"Abang.."Suara Dia pelan
Dia hendak menjauh dari pelukan Nirwan
Nirwan tak mengijinkan, dia hanya menggeleng sambil tersenyum nakal.
"Abang.. Kania mencariku !"
Andia mencubit pinggang Nirwan dengan gemas
Yang dicubit hanya menggeliat sesaat dan terkekeh.
Dan malah menggoda Andia dengan menggesek-gesekkan hidungnya dipipi Andia.
"Aku masih ingin seperti ini.. Kania kan sudah hampir tiap hari kau temani..
Aku hampir dua minggu tak bertemu denganmu.."
Nirwan tetap tak melepaskan pelukannya
"Abang !..hiih ..!"
Kania mencubit makin keras
Nirwan meringis
"Sakit sayang.. kok kamu tega sich .."
Nirwan memasang muka memelas
"Ga usah sok imut seperti itu.."
Dia mendorong dada Nirwan, menjauh dari pelukannya.
Lalu segera keluar dari kamar Nirwan.
"Kania.."
Andia mencari Kania dan menemukannya di teras samping.
"Kania.."
panggil Dia
"Kakak.. Kak Dia dari mana .. Kania cari-cari kakak.." Kania tersenyum senang melihat Andia
"Kakak dari kamar abang.. Kania sudah tau belum abang sudah pulang ?"Tanya Dia
Kania menggeleng
"Abang sudah pulang ?" Kania balik bertanya
"Iya.. abang sudah pulang !" terdengar suara Nirwan mengagetkan mereka.
"Abang !" seru Kania
Ia segera memeluk Nirwan
"Nia tidak tau abang sudah pulang.."
Kania terlihat bahagia
Nirwan mengecup ujung rambut Kania dan mengelus - elus kepala adik kesayangannya itu.
"Tadi abang lihat Kania tidur nyenyak sekali..
Kamu terlihat lebih segar Kania "
Nirwan tampak mengamati adik gadisnya itu.
Kania memang kini terlihat lebih segar. Sudah terlihat ada binar - binar bahagia dimatanya.. wajahnya pun kelihatan berseri -seri. Rambutnya dan bajunya rapi.Tak seperti Kania sebelumnya yang tak pernah merapikan dirinya ketika keluar kamar.
Kania tersenyum dan kemudian meraih tangan Andia
Kania mengatakan itu sambil tersenyum ke arah Andia. Terlihat ia lebih percaya diri, Tidak seperti sebelumnya yang slalu menundukkan wajah dan menyembunyikannya di rambutnya.
Nirwan tampak bahagia sekali.
Dia tersenyum menatap Andia
Mereka duduk ngobrol di teras samping, sambil menikmat minuman dan camilan yang sudah disiapkan bibik.
"Kania senang ditemani Kak Dia ?"
tanya Nirwan
Kania segera mengangguk
"Iya .. Kania senang.. kak Dia baik.. kak Dia juga pintar.."Kania memeluk Andia yang ada disampingnya.
"Kuliahmu bagaimana Dia ?" tanya Nirwan
"Baik.." jawab Dia pendek
"Kania tidak merepotkanmu kan ?"
tanya Nirwan lagi.
"Abang ini bicara apa ? tentu saja tidak..
kita ini teman ngobrol yang asik.. bukan begitu Kania ?" jawab Andia
"iya abang .. kakak bilang.. kapan - kapan , Kak Dia akan ajak Nia jalan-jalan keluar.. boleh kan abang.." pinta Kania dengan nada sedikit takut, kawatir kalau abangnya tak akan mengijinkan.
"Benar kah.. ahh.. Kau pasti senang sekali Kania.. tentu saja abang ijinkan.. asalkan perginya juga sama abang.. ok ? "
jawaban Nirwan tentu saja membuat Kania begitu senang.
Wajahnya begitu sumringah.
Ia kembali memeluk Andia.
"Kenapa bukan abang yang dipeluk ? kan yang kasih ijin abang..?" protes Nirwan
Kania hanya tertawa.
Sedangkan Dia terkekeh melihat dua bersaudara itu..
Kemudian Kania bangkit dari duduknya.
"Nia ke kamar dulu kak.. abang.."
Dia tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.
"Pinter juga itu anak.."
Nirwan tersenyum dan menggeser duduknya lebih dekat ke Andia.
Nirwan meraih tangan Andia , dikecupnya perlahan. Nirwan menatap Andia .
"Trimakasih ya.. sudah ikut menjaga Kania.
Bahkan kamu sepertinya lebih bisa merawat Kania daripada aku.." ucap Nirwan pelan
"Abang.. Kania sudah dewasa.. dia sudah tidak perlu dirawat.. Kania hanya butuh teman. Teman ngobrol.. teman bercerita.Abang hanya tidak punya waktu untuknya.."
Dia menepuk - nepuk pipi Nirwan sambil tersenyum
"Dia.. tinggallah disini.. bersamaku.. dan Kania.."
ucap Nirwan kemudian
"Itu tidak mungkin abang.. kita belum menikah.."
jawab Andia lembut
"Kalau begitu.. menikahlah denganku.."
pinta Nirwan kemudian