Andia

Andia
episode 23



"Assalamu 'alaikum.."


Sebuah suara yang sangat tak asing membuat Andia bangun dari tempat tidurnya.


Andia merapikan dirinya lalu segera keluar dari kamarnya.


Dia tersenyum melihat pria tampan yang berdecak sambil menggelengkan kepala menatap kearahnya.


"Wa 'alaikum salam .. hai.. bikin kaget"


"jam berapa ini.. masih bau bantal.


segeralah mandi " kata Nirwan


"malas ah.. nanti saja." Andia menjawab malas sambil duduk menekuk kakinya diatas sofa


"Ya sudah kalau tidak mau mandi. Tidak ada masalah, ayo berangkat !" kata-kata Nirwan mengagetkan Andia.


Andia menegakkan badannya.


"Hah ! berangkat kemana ?"


"kakak !" Kania muncul tiba-tiba dari depan pintu dan kembali mengagetkan Andia


"Kania ! " Seru Dia sambil meraih tangan Kania mengajaknya duduk


"kalian ini .. Kania sudah mulai usil ya.."


Andia mentowel pipi kania


"Abang yang suruh Kania sembunyi " Jawab Kania sambil tersenyum lugu


"Kalian mau kemana?" tanya Andia kemudian


"Abang hari ini mau temani kita kemanapun kita mau "Jawab Kania dengan semangat


"Cepatlah mandi.. Nanti kesiangan." Nirwan


"Kebiasaan.. belum berubah juga.. Selalu seenaknya seperti itu . Tidak kasih kabar dulu"


Andia bangkit sambil menggerutu dan melemparkan bantal yang ada dipangkuannya ke pangkuan Nirwan.


"Dia ! " Seru Bu Siti yang muncul dari dalam membawa nampan berisi minuman


"Maafkan Dia mas Nirwan.. "kata Bu Siti kemudian.


"Tidak apa-apa bu.. saya yang menggodanya lebih dulu.. Kania, salam sama ibu Kak Dia"


Ucap Nirwan


"Ibu.." Kania mendekat dan mencium tangan bu Siti


"Ini nak Kania ya.. cantik sekali" bu siti menatap kania sambil tersenyum.


Yang dipuji tersenyum malu


"Bu.. saya minta ijin mau mengajak Dia keluar"


"Mau kemana mas Nirwan? " Tanya bu siti


"Mau menyenangkan mereka berdua" jawab Nirwan


Bu Siti tersenyum mendengar jawaban Nirwan.


Dia tahu bahwa Nirwan sangat mencintai dan mengasihi Andia putrinya.


"Iya mas Nirwan.Titip Andia ya.. "pesan bu Siti.


***


"No ! kali ini kamu duduk didepan bersamaku. Kalian ini, dari tadi asik berdua ngobrol tertawa dibelakang. Kalian pikir kalian sedang naik taxi online.." kata Nirwan tiba-tiba saat Andia kembali duduk bersama kania di bangku belakang.


"Ternyata abang bisa ngomel juga.. apakah Kania takut dengan omelan abang ?"


bisik Andia


Kania tersenyum tapi kemudian menggeleng


"abang lucu.. seperti anak kecil"


kata Kania pelan sambil menunduk


Pecahlah tawa Andia


"Ha ha ha ha.. abang dengar ?


bukan aku lho yang bilang.." celetuk Andia


"Kania .. kamu mau abang jewer ?"


"maaf abang" kania menyembunyikan senyummnya


"Dia.. kamu tidak dengar ?" Nirwan mengingatkan


"siapa yang mau duduk di dekat pria galak begitu.." ganti Andia yang mengomel


"iya iya .. maaf.. aku gemas dengan kalian seharian ini.."suara nirwan pelan


"Bukannya tadi abang bilang, hari ini memang abang mau nyenengin kita berdua" suara Andia lagi.


"Iya sayang.. aku hanya bercanda..


Sini duduklah didepan disampingku.. Kania sayang, abang pinjam kak Dia ya.. abang takut ngantuk nanti kalau sendirian" alasan Nirwan.


"iya abang.. " jawab Kania


"Kania.. kakak duduk didepan sama abang ya..


daripada abang ngomel ga jelas. Nanti kita ga diajak jalan-jalan lagi." pamit Andia pada Kania


"Iya kak.. kakak didepan saja temani abang"


jawab Kania sambil tersenyum.


Andia pun turun dan pindah duduk didepan disamping Nirwan.


Nirwan tersenyum .


"Sudah.. ada lagi ..? hem.? " Kania mendekat dan menatap tajam ke arah Nirwan.


Kali ini Nirwan yang tertawa.


Andia sempat terpana melihat Nirwan tertawa.


Pemandangan yang langka.


Aura kegantengannya makin terpampang nyata.


"Sudah.. tidak ada lagi.. trimakasih sayang" ditepuk-tepuknya pipi Andia pelan sambil tersenyum lembut pastinya


Terlihat rona bahagia di wajah Kania memperhatikan kedua insan itu.


Dia begitu bahagia melihat abangnya yang sudah banyak berubah. Nirwan yang tak seserius dulu. Nirwan yang sekarang lebih sering tersenyum.Dan Nirwan yang lebih sering ada dirumah bersamanya daripada bersama teman-temannya.


"Trimakasih kak.. Trimakasih untuk cintamu. Aku tahu kakak juga mencintai abang, walaupun kakak tak pernah mengatakannya.Walaupun dulu kakak hanya terpaksa ada disamping abang.


Trimakasih juga sudah membuatku kembali bangkit dari keterpurukanku.


Jangan pernah pergi dari hidup abang.. jangan pergi dari kehidupan kami.. kami membutuhkanmu bersama kami kak.."


batin kania sambil bersandar dan memejamkan mata.Kania memilih tidur dan memberikan waktu untk Nirwan yang ingin ditemani Andia