Andia

Andia
episode 25



"Sayang.."Sebuah suara dan sentuhan lembut di pipinya, mengagetkan Andia.


Dia mencoba membuka matanya.


Dilihatnya Nirwan perlahan mulai bangun dan duduk mendekat ke arah Andia yang tadi tertidur di kursi samping tempat tidurnya.


Dia hanya menatap Nirwan dingin. Tak ada yang diucapkannya.


"Jangan menatapku seperti itu.." Diraihnya tangan Andia.


"Aku.."Nirwan mencoba mengatakan sesuatu


"Aku mau pulang. Aku harus ke kampus pagi-pagi." Andia bergegas bangkit dari duduknya


"Tidak sayang.. dengarkan aku dulu. Aku ingin menjelaskan sesuatu.." Nirwan berusaha mencegah Andia.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi." datar dan begitu dingin suara Andia


"Tidak. Kumohon dengarkan aku. Jangan pergi."


Nirwan segera memeluk Andia erat.


"Lepaskan aku. Biarkan aku pergi !" Andia meronta dengan kasar


"Tidak ! Sebelum kau mendengar penjelasanku "


Nirwan pun sama kerasnya. Ia tak membiarkan Andia pergi begitu saja.


"Memang apalagi yang mau kau jelaskan ?


Kau pergi ke tempat hiburan malam. Pulang dalam keadaan mabuk, bahkan kau sampai tidak sadarkan diri. Apalagi ?" Suara Andia mulai meninggi.


"Dia.. saat itu.." Nirwan mencoba berkata lagi.


"Apa ? Apalagi pembelaanmu hah ?


Bahkan berita tentang keributan di bar tadi malam juga sudah dimuat di media online.


Kau mabuk-mabukan. Dan kau berkelahi dengan pengunjung lain gara-gara perempuan! Itu yang mau ke perjelas ?" terdengar kembali suara lantang Andia.


Nirwan mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafasnya.Kemudian diraihnya wajah Andia dengan kedua tangannya.


"Aku tau aku salah. Aku menghianati kepercayaanmu. Aku minta maaf. Tapi tolong, dengarkan aku dulu. please.."Nirwan memohon


Segera disingkirkannya tangan Nirwan. Didorongnya tubuh Nirwan agar menjauh dari dirinya.


"Kau bicara apa Andia ? tidak .. kita akan tetap bersama.. " Nirwan mencoba kembali meraih Andia.


Andia mundur dan hanya menggeleng.


"Aku pergi" katanya kemudian.


Dia segera berlalu dari kamar Nirwan.


"kakak.." Andia menghentikan langkah kakinya sesaat. Dia menoleh kearah suara itu. Dilihatnya Kania yang ada di ujung ruangan sambil menahan tangisnya.


"Jangan pergi kak.. "katanya pelan


Andia menghela nafas. Namun kemudian..


"Kakak pergi.."Kata Andia sambil kembali melangkah meninggalkan rumah itu.


Ia bahkan tak berhenti , meskipun itu permintaan dari Kania.


Kania tak bisa lagi menahan tangisnya.


Dia Terduduk begitu saja di lantai. Ia menangis sesenggukan.


Nirwan mendekat kearah Kania. Dipeluknya gadis yang tengah menangis itu.


Tangis Kania justru makin menjadi.


"Sudah Kania.. jangan menangis seperti ini.


Kau membuat abang makin merasa bersalah. Maafkan abang.." lirih suara Nirwan


"Tolong kejar kak Dia abang.. Jangan biarkan Kakak pergi. Kania tak mau Kak Dia pergi meninggalkan kita. Tolong abang.. Tolong abang bawa kembali kak Dia bersama kita lagi disini.." Disela-sela isak tangisnya, Kania terus memohon kepada Nirwan abangnya untuk membujuk Andia.


"Itu pasti kania.. itu pasti. Abang pasti akan membujuk kak Dia. Tapi mungkin tidak sekarang. Kau sudah dengar dan lihat sendiri bukan semarah apa kak Dia tadi.. Biarlah Kak Dia sedikit lebih tenang dulu." Nirwan terus berusaha menenangkan Kania. Dibelainya kepala adik kesayangannya itu, sambil sesekali diciumnya pucuk kepala Kania.


"Minta maaflah pada kak Dia abang.. Minta maaflah.. Abang sudah berbuat kesalahan. Abang sudah buat Kakak kecewa.." ucap Kania kembali.


"Iya kania.. Itu pasti.. Abang tau abang salah.. Abang juga tau Kak Dia pasti kecewa sekali sama abang.. Abang menyesal Kania. " Suara Nirwan terdengar pelan sekali.


"Istirahatlah kembali Kania.. Kau pasti juga tidak tidur semalaman gara-gara abang.." kata nirwan kemudian. Diraihnya wajah gadis itu. Dan diusapnya sisa-sisa air mata yang tertinggal di pipi kania. Dikecupnya kening Kania dengan penuh kasih.


"Maafkan abang.. Abang menyayangimu."