Andia

Andia
episode 3



Dia berjalan dengan santai sambil menikmati semilir angin pagi. Langkahnya terlihat ringan namun masih terlihat anggun dibalik penampilannya yang sederhana.


Sesekali tangannya bergerak menyingkirkan anak-anak rambut yang tertiup angin menutupi kening dan pipinya.


Penampilannya tampak enak untuk dilihat. Wajahnya manis, bajunya terlihat sopan untuk gadis jaman sekarang.Celana warna hitam dipadukan dengan kemeja polos warna marun favoritnya, membuat kulitnya jadi tampak lebih bersih.


Sesekali terdengar suara klakson menyapanya.


Namun entah kenal atupun tidak, dia tak menghiraukannya.


Ia berdiri menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke kampus.


Sesekali dia melirik jam tangan yang ada dipergelangan tangannya.


Ia mulai gelisah , karena angkutan yang ia nanti selalu penuh dengan penumpang.


"Tin !" terdengar suara klakson


Sebuah sepeda motor mendekat ke arah Dia.


Dia tak menghiraukannya.


Dia menganggap seakan tak ada siapa-siapa didekatnya saat itu.


"Hai" sapa orang tersebut.


Dia hanya meliriknya sekilas.Tanpa ekspresi apalagi senyum.


"Dia" pria itu kemudian membuka helm yang dikenakannya. Dirapikannya rambut yang sedikit berantakan itu dengan jari-jarinya.


"Sombong sekali sih kamu"


kata pria itu lagi


Dia melirik lebih tajam ke arah pria tersebut.


Dia tampak berpikir, mengingat - ingat kapan dan dimana pernah melihat pria tersebut.


"Maaf, aku tak mengenalmu"


Dingin dan singkat suara Dia.


"Aku Nirwan, kawan ibumu.. bukankah aku pernah mengenalkan diriku, meski hanyalewat telepon" jelas pria tersebut.


"Ohh.. "hanya itu jawaban Dia


"Ayo aku antar.. kurasa kau bisa terlambat ke kampus kalau masih menunggu angkutan umum"


Pria itu menawarkan diri


"Tidak.trimakasih. Aku tidak bisa pergi dengan orang asing" jawab Dia singkat.


Ketika ada angkutan yang mendekat, dia segera merapat.Namun sial, lagi-lagi ia mendapat penolakan karena angkutan memang sudah penuh dengan penumpang.


"Ayolah Dia, aku akan mengantarmu..


aku tadi kerumahmu,. ibu kamu bilang kalau kamu sudah berangkat. Aku coba menyusulmu. Dan ternyata kau masih disini."


Pria itu belum menyerah juga


Dia tampak mengeluarkan nafasnya dengan kasar.


Pria itu mengeluarkan hp nya terdengar ia berbicara dengan seseorang diujung telponnya.


"ini.. ibu kamu mau bicara" pria itu menyerahkan hpnya pada Dia.


Dia menatap tajam ke pemilik hp tersebut.


Dan yang di tatap hanya mengangguk meyakinkan.


Dia pun menerima telpon tersebut.


"Ya.. ibu apa-apaan sih bu.. ? kenapa bu ?..


sudahlah bu.."


Dia mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu.


Dikembalikannya telepon tersebut kepada pemiliknya.


"Kau percayakan kalau aku tadi sudah ketemu orang tuamu.. ini pakelah. Sudah siang, nanti kau terlambat ke kampus"


Nirwan tak menunggu jawaban Dia. Disodorkannya sebuah helm ke tangan Dia, dan dia segera memakai helmnya dan naik ke motornya.


"ayo cepat naik. Sudah siang" katanya lagi


Dia tak menjawab lagi dan segera naik ke motor Nirwan.


"jangan ngebut" hanya itu ucapnya pendek


"pegangan"hanya itu jawab Nirwan


Dia tak bersuara di balik punggung nirwan.


Dia hanya tahu kalo Nirwan begitu lincah membawa motornya . Yang pasti dia tak terlambat untuk kuliah kekampus hari ini.


"Sudah sampai nona.. apakah anda tertidur.."


Suara Nirwan membuyarkan lamunannya.


"oh.. ya.." Dia segera turun dan menyerahkan helm yang dia pake.


"trimakasih" tanpa menunggu jawaban dia segera berlalu meninggalkan nirwan.


"nanti aku jemput ya" seru nirwan


"tidak usah." dia menoleh sesaat dan kembali melangkah meninggalkan nirwan.