
"Main ke tempatku dulu ya.. kau tidak ada acara ke mana-mana bukan ? aku ingin kau dan Kania lebih dekat.."ajak Nirwan sambil mulai menghidupkan mobilnya.
"Abang.."panggil Dia pelan
"ya.." Nirwan menoleh sekilas kearah Dia namun kembali fokus menatap ke depan
"Apakah kau begitu menyayangi Kania ?" tanya Dia hati-hati
"Tentu saja .Kania adikku..aku sangat menyayanginya.Dan dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain aku.Kau tahu itu bukan" jawab Nirwan
"Abang.."Dia kembali mencoba membuka pembicaraan.
"Apa abang yakin Kania akan menerimaku?
atau justru dia nanti akan merasa cemburu melihatku dekat denganmu.. Selama ini hanya abang yang dimilikinya..aku kawatir.." Dia tak melanjutkan kalimatnya
"Aku tahu maksud pembicaraanmu.. Kamu tenang saja.Aku sudah pernah bercerita tentangmu.Aku akan bicara lagi pelan-pelan dengannya.Trimakasih sudah mengingatkanku.."
jawab Nirwan sambil tersenyum menatap Andia.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Nirwan.Kali ini Andia masuk lewat pintu depan mengikuti Nirwan.Tidak mengendap-endap melalui pintu samping seperti sebelumnya.
"Jangan sungkan ya, kau ada di rumahmu sendiri" kata Nirwan mengingatkan Andia
Andia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis mendengar yang diucapkan Nirwan
"Selamat siang Tuan.. Non Andia.. bibik senang bisa melihat non kesini lagi" sapa bibik ramah.
"Mulai sekarang Bibik akan sering bertemu Andia disini.Layani dia dengan baik ya bik, meskipun saya tidak ada di rumah.Dia akan menjadi bagian dari rumah ini." Nirwan menjelaskan sambil tersenyum penuh arti.
"Tentu saja tuan. bibi senang sekali mendengarnya..Non Dia mau minum apa non..?" bibik menawarkan
"apa saja bi.. trimakasih" sahut Dia sopan
Bibik berlalu ke belakang.
Nirwan menoleh ke arah pintu kamar Kania. Dia Tersenyum melihat Kania mengintip mereka dari balik pintu.Nirwan mendekat kearah Kania.
"Kemarilah Kania.."Nirwan meraih tangan Kania
Dan mengajaknya ke ruang keluarga, dimana ada Andia disana sedang menonton TV.
"Dia.."panggil Nirwan
Andia menoleh lalu tersenyum kearah Nirwan dan Kania.
"Hai Kania..aku Andia.."Andia mengulurkan tangan kearah Kania.
Kania menoleh kearah Nirwan.
Nirwan mengangguk sambil tersenyum.
Kania menatap Andia sejenak.
Andia masih tersenyum menunggu respon dari Kania.
"Kak Dia akan menjadi kakak iparmu Kania"
suara Nirwan membuat Andia sedikit tersipu.
"benarkah ?" suara Kania hampir tak terdengar.
"Tentu saja itu benar.. Benarkan sayang ?"
Nirwan berkata lembut ke arah Andia.
"Kau dengar itu Kania.. Abangmu melamarku "
terdengar tawa renyah dari andia.
Kania tersenyum dan meraih tangan Andia
"Senyummu manis sekali Kania.. kemarilah kania"Andia memeluk Kania dengan sayang.
Kania tampak senang sekali.
"kakak.."suara Kania membuat Andia dan Nirwan terharu.
Mata Nirwan terlihat berkaca-kaca.
Ia mendekat ke arah dua gadis yang begitu dicintainya itu.
Dipeluknya mereka.
Nirwan menatap Andia.
"Trimakasih sayang" Nirwan mengecup kening andia lama sekali.Andia tersenyum lembut menatap Nirwan.
"Mulai sekarang, kita berteman ya.. " kata Andia
Kania mengangguk
"Kemarilah kania.. duduk disampingku"
Andia mengajak Kania duduk di sofa panjang tempat Andia duduk sebelumnya.
"Kamu cantik Kania, cantik sekali.. "
Andia membelai rambut Kania.
Meskipun sudah mulai mau tersenyum, namun Kania terlihat masih sering menundukkan wajahnya.
"Kakak akan sering kesini menemanimu.. "
kata Andia kemudian
"Benarkah ? "Tanya Kania menatap Andia seakan tak percaya.
"Tentu saja.. bukan begitu abang..? " Andia meminta jawaban dari Nirwan
"Ya.. abang akan jemput Kak Dia usai kuliah untuk menemanimu..Tapi tentu saja kalo Kak Dia sedang tidak ada keperluan.. Kuliahmu tetap nomer satu, dan kau juga punya kehidupan diluar sana.. bukan begitu sayang..?"
Nirwan menatap Andia lembut.
"Sejak kapan kau begitu peduli dengan kepentinganku abang.. bukannya sebelumnya kau selalu memaksakan kehendakmu? " cibir Andia
"Sejak aku yakin bahwa kau sekarang tak akan pergi dariku." Bisik Nirwan lembut di telinga Andia