Andia

Andia
episode 19



Dia tersenyum lembut sekali menatap laki - laki ganteng di sampingnya itu.


Diraihnya tangan Nirwan, Dia pun menggenggamnya hangat.


"Jangan menatapku seperti itu.. aku takut kamu akan bicara sesuatu yang akan membuatku.."


"Abang.. dengarkan aku." Dia berkata dengan tegas. Dipotongnya ucapan Nirwan.


"Dan jangan potong ucapanku.Ok ?"


Tatap Dia dengan tegas.Memastikan Nirwan menuruti kata - katanya.


Nirwan tersenyum - senyum sendiri, hingga membuat Andia mulai terlihat jengkel.


"Baik.Kalau abang tidak bisa, aku tidak akan melanjutkan."


Andia mengubah posisi duduknya.


Dia tak menghadap ke arah Nirwan lagi.


Bahkan Dia sedikit memunggungi Nirwan dengan melipat kedua tangannya di dada. Serta memasang wajah dinginnya.


Nirwan jadi salah tingkah dan serba salah melihat Andia seperti itu.


"Jangan marah sayang.. aku hanya makin deg-degan melihatmu seperti itu tadi.


Kumohon.. jangan bersikap dingin lagi padaku."


Nirwan bingung menghadapi sikap Andia yang tiba-tiba berubah dingin lagi seperti sebelumnya.


"Huh dasar ! Ceritanya saja orang jalanan. Laki-laki malam.Biasa ketemu preman -preman jalanan. Ketemu punggung sudah kebingungan."


Ucap Dia dalam hati


"Males " Dia bangkit dan ditinggalkannya Nirwan dan akan menuju kamar Kania.


"No ! Tidak Dia. Aku akan mendengarnya.


Tetap disini."Suara Nirwan mulai terdengar tegas.


"Tapi aku sudah tidak ingin bicara apapun lagi.


Aku mau ke kamar Kania saja." tolak Andia cepat


"Tidak . kita ke kamarku . Aku janji akan mendengarmu."Nirwan tetap memaksa dengan aura yang tiba-tiba sulit diartikan.


Andia menghela nafas. Ia menatap Nirwan.


"Tapi aku benar-benar sudah tidak ingin melanjutkan.. Kau membuatku jengkel." keluh Andia.


Nirwan mendekat


Diraihnya tangan Andia.


"Kamu marah Andia?" tanya Nirwan


Suaranya sudah mulai lembut seperti yang biasa Andia dengar.


"Iya..Sedikit " jawab Andia pelan


Dia memalingkan wajahnya


Nirwan meraih Andia ke dalam pelukannya.


"Abang selalu memperlakukan ku seperti gadis kecil." Andia mulai bersungut


Kembali mendengar panggilan sayang itu dan melihat Dia bersungut, Nirwan mulai bisa tersenyum.


Karena itu pertanda Andia sudah mulai mereda amarahnya.


"Maaf sudah membuatmu jengkel.."


"Aku punya sesuatu untukmu..ayo !"


kata Nirwan kemudian


Tanpa menunggu persetujuan Andia, Nirwan menarik tangan gadis itu ke kamarnya.


"Abang.." cegah Andia


"Aku ada oleh-oleh buat kamu. Aku hampir saja lupa."


Jelas Nirwan sambil tersenyum.


Nirwan memberikan sebuah bingkisan kepada Andia.


"Buat kamu.. Semoga kamu senang"


"Apa ini?"Tanya Dia dengan penasaran


"Dibuka saja"


Nirwan menarik Dia untuk duduk dipinggir tempat tidurnya.


Andia mulai membuka bingkisan itu.


Dan begitu Dia melihat isinya, matanya terlihat berbinar - binar.


Tapi kemudian..


"Abang.. ini.."


"Sudah.. jangan dibahas.. Apa kau menyukainya?"


Tanya Nirwan kemudian


Dia kembali menatap oleh-oleh yang diberikan Nirwan.Pelan Dia meraihnya dan melihatnya lebih jelas.


"Tentu saja abang.. ini cantik sekali.. aku sangat menyukainya.. trimakasih abang.. Maukah abang membantuku untuk memakainya ?"


pinta Andia sambil menatap Nirwan lembut.


Nirwan tersenyum, Dan menuruti keinginan Dia.


Nirwan memakaikan jam tangan itu di pergelangan tangan kiri Andia.


Tak hanya wajah Andia yang begitu berseri-seri. Nirwan pun terlihat puas sekali melihat jam itu terlihat makin cantik di pakai Andia.


Paduan warna silver dan gold membuat nya tampak begitu sempurna. Design yang tidak berlebihan namun terlihat elegan.


Jangan tanya tentang merek ataupun harganya ya.Author takut menanyakan itu, karena Nirwan saja juga tidak ingin membahasnya.