
"Dia..."
Bu Siti tiba-tiba sudah berdiri di dekat
putrinya,Andia. Andia sedikit terkejut.
"Ibu .. mengagetkan Dia.."lirih suaranya.
"Dari tadi kamu belum keluar kamar nduk.. belum makan. Ibu kawatir denganmu. Makanlah dulu.." kata bu siti sambil mengelus bahu Andia dengan lembut.
"Iya bu.. nanti Dia makan. Sebentar ya bu.."
Dia tak beranjak dari posisinya.
"Assalamu 'alaikum .. " terdengar suara seseorang dari pintu kamar Andia
Suara yang sangat tak asing bagi Andia.
Suara yang selama ini begitu akrab ditelinganya. Suara yang setiap saat tak bosan menyapanya meski jarak memisahkan mereka.
Sesaat Andia menghela nafas dan menoleh ke arah suara tersebut.
"wa 'alaikum salam " jawabnya singkat dan kembali sibuk dengan aktifitas sebelumnya.
Fokus dengan tugas-tugas yang ada di meja kamarnya.
"Sayang.. sibuk sekali.."
sapa pemilik suara itu, ya.. siapa lagi kalau bukan Nirwan. Laki-laki yang sudah setengah mati mencintai Andia. Laki-laki yang bahkan sudah merasakan jatuh cinta jauh sebelum keduanya bertemu. Laki-laki yang sudah menyerahkan seluruh hatinya untuk seorang Andia.
Andia tak menjawab.
Nirwan perlahan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur Andia, disamping meja tempat Andia menyibukkan diri.
"Aku bawakan kamu bakso dan kue kesukaanmu.. makanlah dulu selagi hangat. Belajarnya nanti lagi. Bu Siti bilang kamu belum makan.." Suara Nirwan lembut
"Aku tidak lapar"jawab Andia pendek tanpa menoleh kearah Nirwan.
"Tapi aku lapar.. " lirih suara Nirwan
"Kau bisa memakannya" dingin suara Andia
"Aku tak akan bisa makan kalau kau juga tak makan.."Nirwan masih mencoba membujuk Andia
"Kau orang dewasa. Kau tau mana yang baik untukmu. Jangan bergantung pada orang lain"
Andia tetap tak perduli dengan yang diucapkan Nirwan.
Nirwan menghela nafas.
Nirwan meraih tangan Andia. Digenggamnya dengan hangat.
"Tentang apapun itu, aku minta maaf. Untuk hari-hari yang lalu dan untuk hari kemarin. Maafkan aku, aku sudah membuatmu tersiksa karena sering memaksamu untuk bersamaku. Dan maaf aku juga telah mengecewakanmu.."
Nirwan berkata pelan sekali.
Laki-laki itu, dia yang sebelumnya akrab dengan dunia malam. Laki-laki yang terbiasa dengan kehidupan kerasnya. Laki-laki yang sebelumnya sangat sulit untuk tersenyum. Kini dia bisa tersenyum begitu lembut tiap ada didekat Andia. Kini dia lebih tenang ada di rumah untuk menemani adik perempuannya. Dan kini dia juga lebih tenang dalam menjalani kehidupannya.
Tak ada respon dari Andia.
Nirwan menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Dia.."panggil Nirwan pelan bahkan lebih menyerupai sebuah keluhan
"Aku siapkan mangkuk dan makanlah disini. Setelah itu pulanglah, kasihan Kania sendirian dirumah."jawab Andia kemudian masih tanpa ekspresi.
"Aku memilih tidak makan asal bisa disini lebih lama bersamamu.." Andia urung keluar dari kamarnya mendengar sahutan Nirwan
"Terserah kau saja.. Kau mengganggu waktuku" Jawab Andia ketus dan kembali duduk
"Kau lanjutkan saja belajarmu, aku tak akan mengganggumu. Kau bisa sepanjang hari ada di kamarmu .. dan aku juga akan sepanjang hari menemanimu disini." Nirwan kini berkata tanpa ekspresi. Wajahnya mulai datar.
Andia menghela nafas kemudian.
Dan menatap kearah Nirwan.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? "
tanya Dia dingin
"Aku ingin kau memaafkan aku Dia" jawab Nirwan cepat
Dia tak menjawab dan kembali memalingkan wajahnya dari wajah Nirwan.
"Aku ingin kita seperti sebelumnya.. Bersama-sama lagi.. Maafkan aku sudah mengecewakanmu.. " terdengar lirih kembali suara Nirwan
"Aku memang telah mengecewakanmu. aku tahu aku salah.. Tapi itu tak semuanya benar. Tolong biarkan aku bercerita untuk menjelaskan tentang kejadian malam itu" Nirwan kembali meraih tangan Andia. Dan digenggamnya dengan erat.
"Aku malas. Sudah tak ingin dengar apapun." dingin jawaban Andia
"please.." Nirwan memohon
"Sudah kubilang aku tak ingin dengar apapun"
Andia menekan suara hingga terdengar mulai sedikit emosi.