Andia

Andia
episode 4



Cuaca saat itu tak sedikitpun mengurangi keceriaan mereka.Mereka masih saja asik ngobrol meski sebagian dari teman-teman mereka sudah mulai berlalu lalang meninggalkan kampus tersebut.Sesekali terdengar tawa mereka berderai saling bersahutan.Entah apa yang mereka bicarakan, hingga mereka tak menghiraukan lagi keadaan disekitar mereka.


"Eh lihat dech, sepertinya orang itu dari tadi nglihatin kita. coba kalihan lihat.."


kata salah seorang dari mereka tiba-tiba.


Obrolan mereka yang tadinya seru pun ikut terhenti.


Mereka reflek melihat ke arah yang dimaksud oleh teman mereka.


"Mana ? ga ada .." kata salah seorang dari mereka lagi


"Itu.. yang di dalam mobil itu.. mobil sedan abu-abu itu..Yang didalam mobil itu dari tadi melihat kearah kita." jelasnya lagi.


"Ah mana mungkin .perasaanmu saja itu..


mana mungkin.. memang ada diantara kita yang kenal sama yang ada di dalam mobil itu ?"


timpal yang lain.


Mereka saling berpandangan satu sama lain, dan kemudian sama-sama mengangkat bahu .


"Eh dia turun.. orangnya jalan kearah kita sepertinya...eh kita pura-pura tidak lihat saja lah ya" bisik salah satu diantara mereka lagi.


Mereka yang tadinya begitu seru , tiba-tiba hening.Mereka tampak serius menyimak buku ataupun Hp yang ada di tangan mereka.


"Hai.." terdengar suara seseorang menyapa.


Mereka serentak menoleh ke arah suara, karena orang yang di maksud tadi benar-benar menuju kearah mereka.


Mereka hanya mengamati pria tersebut, kemudian saling berpandangan satu dengan yang lain.Terlihat ekspresi yang jelas menggambarkan kalau mereka tak kenal pria tersebut.


"Permisi nona-nona cantik.. apakah saya mengganggu kalian?" tanya pria itu sopan


"Maaf .. sepertinya kami tidak mengenal anda..


Apakah ada yang bisa kami bantu ?"


Tanya salah seorang dari mereka.


"Ya..tentu saja.. Kalau tidak mana mungkin aku kesini.. Aku ingin mengajak Andia pulang.."


Jawab pria itu dengan senyum sopannya.


Mereka kembali saling berpandangan, kemudian menoleh kearah Andia yang asik dengan Hpnya.


"Hei ! ternyataaa.. dari tadi diam saja.


Sentak Dini, salah seorang teman Dia yang paling bawel.


Dia tampak sedikit jengah.Dengan wajah malas dia menatap kearah pria tersebut.Yah siapa lagi kalau bukan Nirwan.


Tak ada senyum sama sekali diwajah Dia.


"Ayo aku antar kau pulang Dia"


Kata Nirwan masih saja tersenyum


"Kau tak lihat aku sedang bersama teman-temanku" jawab Dia sekenanya


"Jangan galak-galak Dia"


seloroh neni sambil tersenyum senyum melihat andia


"Kita juga bisa bareng sekalia kok. Kurasa mobilku masih muat untuk mengantar kalian semua.Aku sudah ijin orang tuamu tadi.."


Nirwan masih saja berusaha membujuk andia.


"ciee.. sudah ijin orang tua segala..


aduh duh duh " suara usil neni kembali terdengar.


"Ayo.. kita semua bisa pulang sama-sama"


Ajak Nirwan lagi


Namun yang diajak bicara tak bergeming sedikitpun.


"Boleh. Ayo kita cuz.Lumayan nich ada tumpangan gratis." sahut Dini tiba-tiba


Andia tampak melotot kearah Dini.


Yang dipelototi asik saja tanpa wajah berdosa, bahkan kemudian tampak berbisik-bisik dengan yang lainnya.


"Ayo !" Dini segera bangkit dari duduknya dan menggamit lengan Andia yang terlihat kesal dengan temannya itu.


Yang lainpun mengikuti menuju mobil Nirwan.


Nirwan tampak tersenyum memasuki mobilnya.


"Eh ! no no no ! Meskipun Risa tidak ikut satu mobil dengan kita karena dia bawa motor sendiri, tapi akan terlalu sesak kalau kita bertiga di belakang semua. Kamu di depan Dia."


Tolak Neni saat Dia mau ikut duduk di belakang.