
"Dia !.. Dia ! "
Terdengar ibu memanggil berulang-ulang dengan suara yang cukup keras.
Dia dengan segera keluar dari kamar, dan menemukan ibu masuk ke dalam rumah dengan wajah panik dan nafas yang terengah-engah.
"ada apa bu ? kenapa ibu sampai teriak-teriak seperti itu ?" tanya Dia cemas
"ikut ibu Dia !"
ibu menarik tangan Dia dengan segera
"bu !.. ibu mau bawa Dia kemana ?"
"sudah Dia ! tak usah banyak tanya.
ikut ibu segera"
"Sebentar bu.. lihat ini, aku tsmpak berantakan seperti ini "
Dia dengan repot dan sedikit panik karena ulah ibunya dengan tergesa merapikan penampilannya dan mengikuti kemauan ibunya yang sebenarnya dia sendiri tidak tau seperti apa.
Ibu tak memperdulikan protes dari sang anak.
Dia pun tak punya pilihan lain , karena sang ibu juga masih menarik tangannya, dan membawanya keluar rumah.
Tak lama, mereka sampai djalan dekat dengan gang rumah mereka.
Tampak kerumunan orang disana.
"Kenapa Dia dibawa kesini bu ?
ada apa ini?"
Tanya Dia tak mengerti
"Lihatlah Dia. lihat itu"
Kata sang ibu dengan sedikit menahan suaranya ditatiknya kembali tangan Dia untuk mendekat.
Dia masih belum mengerti.
Dia pun mencoba makin mendekat karena dibuat penasaran.
"Tolong maafkan saya Pak, maafkan saya.."
Lirih suara seorang anak laki-laki disamping temannya yang sudah lebih dulu terjatuh karena dihajar seoarang pria .
Kerah bajunya dicengkeram erat oleh pria tersebut.
"Enak saja ! minta maaf katamu!"
bentak pria tinggi besar tersebut.
"Dia . tolong hentikan dia.." kata ibu dengan nada kawatir.
"Pak Nirwan. Dialah Pak Nirwan"jawab ibu
Tentu saja jawaban sang ibu membuat Dia terkejut.
"Maaf kan saya pak "pinta anak itu lagi
"Tidak ada maaf untukmu !" bentak Pria itu
Tangannya sudah keras melayang kearah wajah laki-laki tersebut.
"hentikan !" teriak Dia dan mendekat berdiri diantara mereka.
Pria itu menatap Dia dengan tajam.
"Mereka ugal-ugalan dijalan. Mereka membahayakan orang lain.Dan mereka hampir saja menabrakku.Mereka harus diberi pelajaran." kata pria tersebuat dengan suara dingin dan keras.
Tangannya sudah kembali akan melayang
"Stop ! demi orang-orang yang kau sayang, tolong hentikan !"teriak Dia sambil jongkok dan menutup wajahnya
Seketika pria itu menurunkan tangannya.
Dia melepaskan anak laki-laki tersebut dengan kasar.
Ditatapnya sesaat wajah Dia dengan dingin, dan ia berlalu begitu saja dengan mengendarai motornya.
Dia masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya barusan.
Tatapannya masih saja berpusat ke arah motor tadi.Meski motor itu sdh melaju dan menghilang dari pandangannya.
"Trimakasih mbak.. trimakasih sudah menolong kami.. " kata dua berandalan yang tadi sempat beradu dengan Nirwan.
"Huu.. harusnya tadi mereka tidak dilepaskan.
biar jadi pelajaran buat mereka.!"
Kata pedas terdengar dari seseorang yang ada dikerumunan.
"Sudah ! Pergi sana ! Awas saja kalau masih berani membuat onar di daerah ini !"
Ancam yang lain.
Dua pemuda itu bangkit dengan tertatih segera meninggalkan kerumunan warga.
Mereka tak berani ambil resiko lagi apabila ada warga yang akan kembali murka dan menghakimi mereka.
Dalam hati Dia sedikit kesal, bisa-bisanya mereka bicara seperti itu.
Padahal tadi tidak ada yang mereka lakukan selain hanya menjadi penonton.
"Dia .. kamu kenal dengan orang tadi ?"
Tanya seseorang berhasil membuatnya sadar dari lamunannya.
"Tidak" Dia hanya menjawab singkat
Lalu segera berlalu dari tempat itu.