
"Baiklah, anggap saja ini langkah awal untuk menuntaskan rasa penasaranku padanya". Gumamnya sebelum menuju parkiran.
Di parkiran, Hira melihat Gata yang sudah duduk dimotor sportnya lengkap dengan helm full face. Sendirian, kemana yang lain?.
"Hai, Ta".
"Bawa motor?".
"Bawa"
"Yaudah, yuk"
"Kita bawa motor sendiri-sendiri?"
"Hmm"
'Kenapa nggak boncengan aja sih?'. Batin Hira.
Plak!. Hira memukul lirih kepalanya. 'Apa yang kau Pikirkan, Hira?'. Batinnya.
"Kenapa tadi kamu nggak masuk kelas?". Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Ck, seharusnya Hira sudah tahu jika tanyanya tidak akan mendapat sebuah jawab.
"Kita cari makan dulu ya, Ta. Laperrr"
"Hmm"
Mereka melajukan motornya ke tempat tujuan. Gata menghentikan motornya tepat di depan sebuah warung bakso. Tempatnya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Poin pentingnya yaitu tempatnya yang bersih.
Di sana ada dua tempat duduk. Satu di dalam dan yang satu lagi di luar. Suasana di luar tidak terlalu panas kerena didekat tempat duduknya terdapat pohon yang memiliki daun rindang yang melindungi kepala dari teriknya sinar matahari. Hira memilih duduk di luar.
"Kamu nggak turun, Ta?". Gata menggeleng.
"Loh, aku sudah memesan dua porsi, loh. Dan aku nggak mungkin menghabiskan dua mangkok sekalig-". Kalimat Hira terpotong oleh pertanyaan yang diberikan abang Bakso.
"Ini dimakan di meja mana, mbak?"
"Itu mas yang paling depan ujung kiri, ya".
"Siap mbak".
Dengan segala jurus dan kalimat-kalimat yang Hira sampaikan mengutip dari wejangan ustad dan ustadzah yang sempat Hira dengar ketika bertausiah, Hira menyampaikan betapa tidak bagusnya jika kita mubadzir atau membuang makanan.
Akhirnya mau tidak mau Gata menuju ke meja tempat dimana dua porsi bakso telah menunggu untuk disantap. Hira yang tadi berjalan dibelakang Gata, duduk di kursi seberang meja. Mulai menyantap.
Di luar prediksi Hira. Bukannya duduk dan menyantap baksonya, Gata Justru mengambil mangkok miliknya untuk diantar ke tempat abang yang sedang melayani pembeli lainnya. Mau ngapain?.
Beberapa saat Gata berbicara dengan abang bakso. Hira melihat bahwa bakso yang dibawa Gata dibungkus dalam plaktik transparan ditambah dengan dua bungkus lagi kemudian dimasukan dalam kantong plaktik hitam.
Hira pikir, Gata membungkusnya untuk dibawa pulang, disantap dengan keluarganya yang ada di rumah. Tetapi Hira dibuat tercengang ketika Gata berjalan menuju ke seberang jalan membawa kantong plastik berisi tiga porsi bakso.
Gata memberikan bakso itu kepada seorang perempuan, Hira bisa menebak jika perempuan itu seorang pemulung karena perempuan itu sedang mencari botol bekas di tempat sampah. Sempat terlihat sedikit menolak tapi akhirnya pemulung itu menerima apa yang Gata berikan.
Terlihat dari tempat Hira bahwa perempuan itu membungkuk berterimakasih pada Gata dengan raut wajah yang berbinar.
Tanpa sadar, hal itu membuat Hira menarik sudut bibirnya. Tanpa berlama Hira segera memakan habis basko miliknya. Ia tidak mau membuat Gata menuggunya terlalu lama.
"Kita mau belanja dimana, Ta?"
"Apa aja yang kita butuhkan?"
Hira menyebutkan beberapa bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat anatomi sel tumbuhan dan sel hewan. Mulai dari plastisin bermacam warna, bola kecil, bola besar, dan lainnya.
Mereka melanjutkan perjalanan bersama. Lebih tepatnya Gata dengan motor sportnya di depan dan Hira dengan motor maticnya di belakang.
Sampai di tempat tujuan, Hira dan Gata berjalan ke arah yang berbeda untuk mencari bahan dan alat yang dibutuhkan.
Di lorong yang berbeda dengan Hira. Seorang perempuan dengan rambut sebahu dan dengan keranjang yang didoronh menghampiri Gata yang sedang mencari plastisin bermacam warna.
"Arga". Seru perempuan itu menepuk pundak orang yang disapanya. "Cari apa disini?". Tanyanya.
"Bunda". Seru lelaki yang dipanggil Arga.
Di keluarganya, hanya bunda yang memanggilnya Arga. Bunda bilang panggilan itu terasa istimewa. Bunda selalu mengabaikan protes putranya yang tidak suka dipanggil dengan panggilan itu.
Gata meraih tangan bunda yang ada didepannya lalu mencium punggung tangan orang yang sudah melahirkannya, kemudian mencium pipi Bunda.
Siapapun yang melihat pasti akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Gata begitu romantis. Termasuk dengan perempuan yang sedang berdiri di persimpangan lorong, menyaksikan interaksi mereka.
"Gata sedang mencari bahan buat praktik, bunda". Serunya, menjawab pertanyaan yang sempat bunda lontarkan padanya. "Dan sudah berapa kali Gata bilang, bunda, jangan panggil Gata dengan panggilan Arga. Gata nggak suka". Protesnya.
'Apa itu? Mengapa bicaranya begitu? Lembut sekali'. Batin seseorang yang tetap berdiri ditempatnya.
"Dan sudah berapa kali bunda katakan padamu. Panggilan itu spesial bunda berikan padamu jadi jangan memaksa bunda buat ubah panggilan bunda". Tolak bunda tanpa mau dibantah putranya.
"Ini, tumben sekali kamu mau belanja seperti ini. Dengan siapa kamu belanja? Kekasihmu?". Tanya bunda antusias.
Baru kali ini ia melihat putranya mau belanja. Ini sangat langka terjadi. Bunda begitu antusias mendengar jawaban yang putranya berikan.
Mendengar pertanyaan itu, membuat seorang perempuan yang ada di persimpangan lorong tidak sengaja menjatuhkan bola yang dia pegang. Mengalihkan perhatian Gata dan bundanya. Menatap Hira yang kemudian tersenyum dengan canggung.
"Gata bersama Hira, bunda".
Merasa namanya di sebut, Hira menghampiri kedua orang yang berbeda gender dan tentunya juga berbeda usia. Menyodorkan tangan hendak bersalaman dan disambut dengan senang hati oleh bunda.
"Masyaa Allah, cantiknya, kamu kekasih putraku?". Mendengar pertanyaan itu membuat wajah Hira terasa memanas, Hira yakin wajahnya memerah.
"Bukan tante, saya temannya Gata, kami sekelas dan kebetulan kami satu kelompok. Jadi kami sedang mencari bahan untuk keperluan kelompok kami". Jelas Hira panjang untuk menghindari kesalahpahaman yang runyam.
"Ya ya ya, tak usah kau jelaskan penjang lebar begitu, bunda sudah yakin kalau putra bunda tidak akan mndapat seorang kekasih secepat ini". Hira hanya tersenyum. "Siapa namamu?".
"Hira tante, Almahira Karindra".
Degg!. Nama itu membuat degup jantung seorang perempuan yang dipangggil bunda oleh putranya, berdegup dengan kencang tidak beraturan.
"A-almahira Karindra?". Ulangnya menyebut nama itu memastikan pendengarannya tadi.
"Iya tante". Sahut Hira membenarkan.
"Boleh bunda peluk kamu, nak?". Ucap bunda tiba-tiba.
"Eh?"
"Maaf bunda tidak bermaksud apa-apa, bunda hanya teringat dengan seseorang yang namanya mirip denganmu". Ucap bunda sedikit bergetar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Melihat itu, Hira mengahampiri bunda dan langsung memeluknya dengan hangat. Ya, Hira merasakan juga ada kehangatan di pelukan itu.
Sesetes air mata jatuh dari mata perempuan yang dipanggil bunda oleh putranya. Gata mengusapnya, mengerjapkan kedua matanya dengan pelan guna menenangkan bunda yang sedang terbawa perasaan.
"Sudah, ya, bunda". Ucap Gata tanpa suara.