Almahira

Almahira
Kembali Bersinar



Keterampilan Hira dalam melukis dan menggambar sangat berguna untuk praktik biologi kali ini.


Bedanya, jika menggambar Hira akan menggerekan Pensil di atas kertas. Tetapi jika praktik kali ini, Hira akan langsung menggunakan tangannya untuk membentuk berbagai macam bentuk hingga bisa membuat plastisin bermacam warna itu menjadi terlihat seperti benar-baner sel hewan dan tumbuhan.


Patner yang tidak disangka juga terlihat begitu terampil dalam membuat berbagai bentuk dan memberikan kontribusi besar dalam praktik, membuat semangat Hira semakin membara.


Hira yakin nilai praktiknya akan mendapat nilai yang bagus dan memuaskan.


Kerja sama yang kompak membuat tugas yang mereka kerjakan terasa ringan dan mudah. Selesai tepat waktu dengan hasil yang rapi, bagus, dan memuaskan.


Prok. Tanpa sadar mereka mengadukan kedua telapak tangan mereka. Menandakan mereka begitu puas dengan kerja sama yang mereka kerjakan, dan tentu juga dengan hasil yang mereka dapat.


Kekompakkan dan keakraban mereka yang terlihat mencolok di ruang kelas, membuat seseorang memandang mereka dengan pandangan yang menyalang, pandangan iri yang penuh dengan rasa tidak suka.


Seseorang itu meremat apa yang sedang ia pegang. Merematnya hingga tidak berbentuk.


"Astaga Diana apa yang kau lakukan hah?. Kau menghancurkan bentuk sel lagi!, dan ini yang paling susah kau tahu". Teriak Arhan yang frustasi melihat apa yang dilakukan Diana.


Bukan hanya sekali tetapi ini sudah yang kelima kalinya Diana menghancurkan karya yang sudah susah payah Arhan buat. Wajar saja jika Arhan teriak frustasi.


Gata dan Hira saling menatap dan tersenyum. Lalu dengan kompak mengalihkan lagi pandangan mereka pada Diana dan Arhan yang masih berdebat.


Tunggu!, tersenyum?. Sejak kapan Gata bisa tersenyum?. Saat Hira ingin melihat senyum Gata lagi. Ternyata dengan cepat Gata mengubah wajahnya ke setelan pabrik, dingin.


Sesi pertemuan itu diakhiri dengan perdebatan Diana dan Arhan. Hasil kerja kelompok mereka memang selesai tetapi tidak sempurna karena kecerobohan yang Diana buat. Hal itu membuat Arhan sangat kesal.


"Terimakasih atas kerja sama yang begitu baik, Ta".


"Hmm".


"Benar kata bunda. Tidak mungkin kau akan mendapat kekasih dengan waktu yang dekat jika kau tetap saja berwajah dingin dan acuh seperti ini"


"Tidak masalah".


"Bunda akan sulit dapat menantu kalau sikapmu begini terus".


"Lo juga tidak mau jadi menantunya kalau gue begini?"


"Eh, ha?, ma-maksudnya?". Tanya Hira terbata.


"Coba beritahu gue, apa yang membuat seseorang mau menjadi kekasih gue dan mau menjadi menantu untuk bunda?". Tanyanya lagi.


"Tersenyumlah seperti tadi. Walaupun aku melihatnya hanya sekilas, tapi senyummu begitu tulus". Ucap Hira dengan gamblang.


"Dan berbicaralah dengan perempuan seperti kau bicara dengan bundamu waktu itu, penuh dengan kelembutan. Aku saja tidak percaya jika kau yang berbicara saat mendengar suaramu". Ucap Hira kembali mengingat saat Gata berbicara dengan bunda tempo hari saat bertemu ketika sedang berbelanja.


"Apa menurutmu cara bicaraku pada bunda terlihat lembut?". Hira mengangguk.


"Kau juga menyukai cara berbicara yang seperti itu?".


"Tentu saja, Ta. Semua perempuan pasti juga akan menyukai lelaki yang berbicara lembut padanya". Jawab Hira tanpa menyadari kemana arah pembicaraan Gata. Bahkan Hira tidak menyadari perubahann cara bicara Gata padanya.


"Setelah aku melakukan apa yang kau bilang. Apa kau juga mau menjadi menantunya bunda?". Deg!.


"Hah? A-apa?". Pertanyaan macam apa ini?.


Gata sunguh tidak tahu bagaimana detak jantung Hira yang tadi belum normal kini menjadi semakin parah.


"Lupakan. Menjawab hal sederhana saja kau tidak bisa. Apalagi menjadi menantu bunda dan menghadapi sikapku". Ucapnya.


Gata meninggalkan Hira yang masih susah payah menenangkan detak jantungnya.


Tanpa Hira lihat, Gata menarik sudut bibirnya saat melangkah pergi. Hanya sebentar, sangat sebentar. Namun, jika Hira melihatnya bisa dipastikan bahwa jantung Hira akan membutuhkan pertolongan pertama dari pihak medis.


***


Membuat bu Dewi memutuskan untuk menyeleksi Hira dan Gata untuk ikut olimpiade di bidang biologi di bulan September mendatang.


Dan lagi-lagi kekompakan mereka membuahkan hasil yang pantas diacungi dua jempol. Mereka membawa piala kejuaraan nomor satu di tingkat kabupaten.


Sinar Argata Mahendra yang semula meredup kini kembali bersinar seiring dengan kedatangan Almahira Karindra dalam hidupnya.


Saat ini mereka terpilih lagi untuk mewakili sekolah lomba yaitu membuat beberapa macam sketsa baju.


Untuk Hira jangan tanyakan lagi, itu memang bidang yang ia sukai. Dan Gata disini sebagai pemanis. Gata akan membantu Hira mencari ide kemudian memberikan polesan akhir di karya yang Hira buat.


Sebelum lomba itu berlangsung. Seperti lomba biologi waktu itu mereka akan menghabiskan waktunya di perpustakaan guna mempelajari materi dan sekarang mereka akan sering menghabiskan waktunya lagi diperpustakaan untuk berlatih membuat sketsa yang sempurna.


"Woi nyet. Lo mau ke perpustakaan lagi nih?". Tanya Arhan.


"Hmm".


"Lo sekarang asik bener sama si Hira, semangat bener ikut lomba-lomba lagi". Gata tidak menjawabnya.


"Kapan nih, nongkrong lagi. Udah lama kita-kita pada nggak nongkrong". Sahut Tomy yang juga merasakan kehampaan tanpa Gata ditongkrongan.


"Abis lomba kita nongkrong bareng".


"Deal ya, awal lo tipu tipu". Dika ikut menyahut.


"Hmm. Yaudah gue cabut ke perpustakaan dulu". Gata berlalu meninggalkan empat sekawannya di parkiran.


"Tu bocah keknya lagi filing in lop". Terawang Tomy.


"Apaan tuh?". Tanya Dimas.


"Jatuh cinta"


"Sama siapa?". Kali ini Dika yang bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan patnernya lombanya. Kita udah lama nggak lihat Gata semangat ke sekolah gini tapi semenjak ada tu cewek si Gata malah jadi juara-juara lomba lagi kayak dulu".


Arhan yang mendengar diskusi Dimas, Tomy, dan Dika pun hanya terdiam. Mencerna patah demi patah kata opini yang Dimas sampikan.


Senyum tipis diwajahnya tercetak sepersekian detik. Kemudian kembali acuh, Arhan tidak mau siapapun melihatnya tersenyum.


"Bagus deh, kalau Gata bisa kaya dulu lagi".


"Iya, gue juga seneng lihatnya"


"Jadi fiks nih, si Hira bakal jadi permaisurinya Gata?". Kelakar Tomy mengundang tawa dari yang lain.


"Bahasamu Tomm, permaisuri, emang ini kerajaan? Nggak sekalian Ratu gitu? Hahaha"


"Hahaha"


"Udah yuk ke kantin. Laperr nih gue"


"Let's go. Sebagai rasa syukur hari ini, Arhan yang traktir kita. Yuhuuu". Ucap Dika bersemangat.


"Heh, apaan kok bawa-bawa gue. Gak ada traktir-traktiran!"


"Ayolah, sesekali traktir kita itu termasuk sedekah loh. Amal jariah"


"Sesekali apa. Kemarin juga gue yang bayarin, kan"


"Hehe pisss". Ucap Dika. Menunjukan kedua jarinya, tanda berdamai.