
"Ra, ini banyak sketsa yang bagus". Tunjuk siska pada sebuah buku yang banyak berisikan sketsa baju.
Saat pertama kali masuk ke kelas, hanya bangku yang ada di sebelah Siska yang tidak ada penghuninya. Alhasil mereka menjadi patner satu bangku.
Sebenarnya masih ada beberapa bangku yang kosong. Tetapi kata anak-anak yang lain, bangku itu sudah ada yang menempati. Entah kemana penghuninya, Hira tak peduli.
Dan ternyata penghuni di bangku kosong itu adaah kawanan geng tanggung.
Karena duduk satu bangku, membuat Hira dan Siska menjadi berteman dekat. Bahkan sudah seperti kawan lama yang berjumpa kembali.
"Mana?"
Seminggu kemarin Hira banyak menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan daripada di kantin.
Karena penasaran, Siska menjadi ikut menghabiskan waktunya di perpustakaan juga. Padahal sebelum ada Hira, perpustakaan menjadi tempat yang sangat anti untuk di datangi ketika jam istirahat.
Tenang, kesan pertama yang Sisika rasakan saat duduk di perpustakaan.
Ya, perpustakaan yang ada di sekolahnya itu begitu nyaman dan menenangkan. Rak buku yang berjejer rapi pun dengan pengaturan buku-bukunya.
Ada pendingin ruangan yang menyejukan. Poin penting dari perpustakaan itu adalah tak banyak anak yang berkunjung sehingga ruangan itu tak begitu ramai dengan hiruk pikuk siswa.
Itulah poin penting untuk Hira yang suka dengan kesendirian, ketenangan.
Hira menggoreskan pensilnya pada sebuah buku gambar yang ia bawa. Bermodal dengan sketsa yang ada di buku, ia mencoba menggambar ulang dengan model yang sedikit berbeda ditambah dengan pernak pernik yang akan membuat gambarnya tidak sama persis dengan sketsa yang sudah ada.
"kamu mau menjadi designer, Ra"
"Sebenarnya ini cuma hobi, sis. Tapi kalau kamu mendoakan aku menjadi designer maka akan aku Aamiin-kan"
"aamiin". Siska pun dengan spontan ikut meng-aamiin-kan.
dengan suara lirih terkesan berbisik, Hira mengentaskan rasa penasarannya.
"Em, tentang geng tanggung tadi-".
"kamu masih penasaran, Ra?"
"iya". Jawab Hira dengan sebuah senyum yang canggung. "Gimana awalnya bisa dinamai geng tanggung, Sis?, unik banget namanya"
Sebenarnya, Hira bukan tipikel orang yang kepo. Bahkan Hira bisa dibilang orang yang paling cuek dengan hal-hal yang tidak terlalu menarik untuk diperhatikan. Namun, penamaan 'geng tanggung' berhasil mematik kobaran api penasaran di hati.
"Awalnya mereka itu tidak sedekat itu. Tapi waktu itu sekolah dihebohkan dengan Arhan yang berantem dengan anak kelas sebelah namanya putra, lebih tepatnya Arhan dikeroyok, tiga lawan satu. Lalu tiba-tiba Gata datang terus bantuin Arhan"
"Lalu?"
"Setelah mereka semua yang terlibat perkelahian di bawa ke ruang guru ternyata Arhan duluan yang nonjok wisnu. Arhan geram karena wisnu mengerjai seorang siswi adik kelas di toilet cowok. Lebih tepatnya melakukan pelecehan, tapi bukan pelecehan yang itu, lebih kaya menggoda dengan sebuah kata 'cat-calling' lalu melakukan grep*-gpr* dan Kebetulan Arhan ada di salah satu bilik toilet"
"lalu, Gata?"
"Melihat teman satu kelasnya dikeroyok, naluri untuk menolong pasti muncul, kan?"
Hira Menggaguk, membenarkan opini yang Siska ucapkan "lalu?"
"Kejadian itu membuat mereka menjadi semakin dekat dan entah karena apa mereka punya kawanan pengikut. Anak-anak menamai mereka geng tanggung seperti yang bilang tadi".
"Oke. sekarang aku paham"
"Kamu tahu gak?".
"Apa?"
"Sebelum ada kejadian waktu itu dan sebelum akhirnya mereka menjadi satu geng. Gata itu anak yang berprestasi. Banyak piala kejuaraan yang di persembahkan untuk sekolahan. Nanti coba kamu lihat, piala yang di taruh di lemari kecil, semua itu piala yang di dapat Gata"
Juara 1 muadzim, juara 2 tolak peluru, juara 2 olimpiade sains, juara 1 lari jauh, juara 1 olimpiade matematika.
"Itu piala yang Gata dapat saat masih di kelas satu sampai kelas dua". Ucap Siska, sudah satu kelas dengan Gata sejak awal.
"Lalu mengapa sekarang seperti tidak semangat sekolah?"
"Entahlah"
"sayang sekali ya". Ucap Hira menyayangkan jika seorang siswa berprestasi seperti Gata harus meredupkan dirinya di saat-saat terakhir ia duduk dibangku sekolah. "Em, apa itu karena berteman dengan Arhan?".
"Aku sudah menduga kamu pasti menanyakan itu". Siska tersenyum menanggapi pertanyaan dari Hira yang dulu sempat ia pertanyakan juga.
"Dulu aku juga berfikir seperti itu. Tapi setelah melihat itu. Aku jadi ragu dengan dugaanku".
"juara 1 basket putra tingkat kabupaten, juara 1 basket putra tingkat provinsi". Baca Hira pada sebuah tulisan yang ada di piala yang tadi di tunjuk siska.
"Dulu Arhan kapten tim basket. Sering ikut perlombaan dan membawa kemenangan untuk timnya. Tapi sekarang aku juga tidak pernah melihat Arhan main basket lagi"
"Kenapa?". Siska mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia juga tidak mengerti.
Lonceng berbunyi, pertanda jam istirahat selesai. Hira dan Siska berjalan menunju kelasnya
"Ra".
"ya?"
"Hentikan rasa penasaranmu tentang mereka, jangan lanjutkan". Ucap Siska Tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Intinya jangan lanjutkan rasa penasaranmu itu"
"Kalau kamu tidak mau menjalaskannya, justru itu membuat aku semakin penasaran"
Tidak ada jawaban dari Siska dan itu membuat rasa penasaran yang masih ada di hati Hira bertambah menjadi dua kali lipat.
Saat Siska mengatakan untuk jangan lagi penasaran, Hira menangkap sebuah sorot mata yang resah dari tatapan siska padanya.
Jam terakhir pelajaran di hari itu, Hira merasa tidak fokus dengan penjelasan yang di berikan. Hira memikirkan banyak hal, lebih tepatnya memikirkan dua siswa yang berprestasi tetapi berubah secara signifikan.
Apa yang menjadikan mereka seperti itu?.
Terlebih lagi saat ini mereka sudah kelas tiga. Seharusnya mereka bisa lebih berprestasi lagi dan lulus dengan predikat terbaik, kan?"
Saat diparkiran seusai jam pelajaran berakhir. Hira berpapasan dengan geng tanggung. Geng yang tadi tidak ada dijam terakhir.
Fokusnya terkunci pada dua orang yang mengendarai motor sport yang berbeda.
"Eh Hira. Mau bareng?". Tomy, salah satu anggota geng tanggung yang tadi di kelas menyapanya kembali menyapa ketika berpapasan.
"Saya bawa motor sendiri, Tom, makasih"
"Yaudah kalau gitu gue duluan". Hira membalasnya dengan anggukan.
Sama seperti Tomu, dua anak lainnya yaitu Dika dan Dimas juga berbasa basi menawari Hira untuk di antar pulang dan berakhir sama dengan yang terjadi pada Tomy.
Berbeda dengan Arhan dan Gata, mereka tidak menyapa Hira bahkan melihat pun tidak.
Apakah Hira tersinggung?, tentu saja tidak. Justru apa yang Arhan dan Gata lakukan membuat rasa penasaran Hira semakin membuncah.
"sudah ku peringatkan, hentikan rasa penasaranmu itu, Ra".
'kamu tidak mau menjelaskan, maka aku akan mencari tahu sendiri'. Batin Hira, tak mengindahkan apa yang dikatakan siska padanya.