Almahira

Almahira
Kenangan Baik



Hari perlombaan telah tiba. Hari itu mereka memutuskan untuk memakai baju cauple. Perpaduan antara putih dan kream, hanya berbeda model saja. Model lelaki dan model perempuan.


Baju itu adalah rancangan mereka sendiri. Mereka membeli kain dan meminta tolong bantuan mama untuk menjahit bajunya sesuai dengan sketsa baju yang Hira dan Gata buat.


Dan hasilnya diluar dugaan mereka. Sangat bagus, indah, cantik, keren, dan berkelas. Baju itu dibuat dengan semi formal. Tidak terlalu santai juga tidak terlalu formal.


Justru saat melihat mereka memakai baju itu, mereka terlihat lebih berkelas, seperti seorang yang bekerja di perusahaan.


Satu cantik dan satu lagi tampan. Sungguh, siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan mereka pasangan yang serasi.


Mereka diberikan waktu satu jam setengah untuk membuat sketsa baju yang sudah mereka sepakati jauh hari. Baju itu juga harus cauple. Baju untuk laki-laki dan untuk perempuan.


Mereka juga diberikan waktu tiga puluh menit untuk menjelaskan sketsa yang sudah mereka buat.


Presentasi mereka dibatasi, harus menjelaskan secara singkat tetapi mewakili semua elemen yang ada di sketsa yang mereka buat. Termasuk pernak pernik maupun garis atau apapaun yang ada.


Mereka harus menjelaskan apa fungsi dari semua elemen yang mereka persembahkan di sketsa yang mereka buat.


Hira dan Gata memutuskan untuk membuat sepasang baju pengantin yang pernah mereka buat waktu latihan di perpustakaan.


Mereka merasa baju sepasang pengantin itu adalah sketsa unggulan yang pernah mereka buat. Mereka hanya mengubah, menambahi, dan lebih mempercantik dari yang sebelumnya pernah mereka buat.


Hasil akhir begitu memuaskan. membuat mereka yakin bahwa mereka akan menjadi sang juara kembali.


Dan lagi-lagi kekompakan yang mereka bangun membuahkan hasil yang memuaskan dan juga membanggakan. Mereka kembali membawa piala kejuaraan untuk sekolah tingkat kabupaten.


Hira dan Gata secara reflek berpelukan. Hanya sebentar, sebentar sekali. Sebelum pada akhirya mereka dipanggil maju untuk mengambil piala dan melakukan sesi foto bersama dengan para juri dan juara 2 serta juara 3 yang sudah ada dipanggil terlebih dahulu.


Beberapa kali potret yang diambil. Mereka keluar dari ruangan setelah saling berjabat tangan dengan para juri dan lainnya.


"Mungkin ini akan menjadi piala terakhir yang kita bawa untuk sekolah, Ta". Ucap Hira tiba-tiba.


"Setelah ini kita akan lebih difokuskan dengan berbagai macam ujian kelulusan". Lanjutnya lagi karena melihat ekspresi Gata yang bingung.


"Iya, Ra. Setidaknya ini akan menjadi persembahan dari kita sebelum lulus dari sekolah". Gata menarik nafas sejenak. "Setidaknya ada kenangan baik yang bisa mereka ingat dari kita".


"Senang berkerja sama denganmu, Ta".


"Aku juga. Aku juga senang bekerja sama denganmu, Ra".


Beberapa detik mereka saling diam, sama-sama mencerna apa yang baru saja mereka ucapkan.


"Foto yuk, Ta". Ajak Hira mencairkan suasana. "Buat kenangan".


"Boleh, yuk"


Mereka mengambil beberapa potret dengan berbeda gaya. Ada yang memegang piala ada juga yang tanpa memegang piala.


Hari itu sebelum pulang, mereka menghabiskan semangkok bakso terlebih dahulu.


Bakso yang sama saat dulu Hira memesankan untuk Gata tetapi malah dibungkuskan untuk diberikan pada pemulung yang sedang mengais rezeki.


Bukankah separuh dari rezeki yang kita miliki termasuk ada rezeki orang lain yang dititipkan lewat kita?. Itulah yang Gata lakukan, memberikan hak orang lain dari sedekah yang ia lakukan.


Ditengah mereka menikmati bakso. Ada seorang anak kecil perempuan sekitar umur sepuluh tahun, berjalan melewati Hira dan Gata. Bajunya begitu lusuh dan wajahnya yang sedikit berwarna coklat terlihat pucat.


"Dek". Paggil Hira, anak itu mendekat dan mununduk.


"Ada apa, ya, kak?". Tanyanya lirih.


"Sudah makan?". Anak itu menggeleng.


"Kamu mau bakso?". Tanya Hira yang lasung mendapat jawaban dengan mata yang berbinar.


"Mau kak". Ucap anak kecil itu. "Tapi apakah bisa dibungkus saja, kak?". Lanjutnya.


"Karena baksonya mau Nara makan sama ibu, kak".


"Ibu kamu dimana?"


"Di rumah, Ibu sedang sakit, kak".


"Rumah Nara dimana?"


"Disana, kak". Tunjuk Nara pada sebuah jembatan.


Hira bisa menyimpulkan. Bahwa Nara dan ibunya tinggal di kolong jembatan. Hati Hira sedikit terenyuh mengetahui fakta itu.


"Lalu, kamu tinggal dengan siapa saja selain sama ibu?".


"Hanya dengan ibu saja kak"


"Ayahmu?, kemana dia?"


"Ayah pergi, kak, meninggalkan kami".


Mendengar jawaban itu, raut wajah Hira berubah seketika. Gata yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanyan juga melihat perubahan raut wajah itu.


Raut wajah antara sedih juga bercampur marah.


"Yasudah, kamu tunggu sebentar, kakak pesankan dulu, ya".


Hira pergi menuju ke abang bakso untuk memesan dua bungkus bakso lagi. Selain itu dengan diam Hira memberikan juga selembar uang yang dimasukannya dalam kantung plastik.


"Ini, makanlah segera dengan ibumu". Hira memberikan bakso yang sudah ia pesan tadi.


"Makasih, kak". Ucapnya serak seiring dengan jatuhnya air mata bahagia karena akhirnya ia bisa mengisi perutnya juga perut ibunya yang kelaparan.


"Hei, jangan nangis". Hira mengusap air mata itu. "Nanti kalau Nara sudah besar. Nara harus bahagiain ibu. Sayang dan berbakti sama ibu, oke?".


"Iya, kak, pasti. Nara akan berbakti dan bahagiain ibu". Ucap Nara menggebu.


"Pintar". Ucap Hira tersenyum. "Yasudah, sana pulang ibumu pasti sedang meununggumu".


"Nara pamit dulu ya kak. Makasih baksonya. Nanti kalau Nara dizinkan bertemu dengan kakak, Nara akan membalas kebaikan kakak".


"Kakak menunggumu menjadi orang yang sukses".


Hira masih memperhatikan langkah kaki gadis kecil yang terlihat lebih ringan dari yang ia lihat saat melewatinya tadi.


Sedikit berlari agar segera sampai dirumahnya agar bisa segera menikmati bakso bersama sang ibu.


"Tega banget ayahnya. Meninggalkan Istri dan anaknya". Ucap Hira marah.


"Ayah macam apa yang tega meninggalkan istri dan anaknya. Membiarkan mereka kelaparan Seperti itu!". Ucapnya dengan emosi, setetes air mata jatuh dipipinya.


Gata yang melihatnya merasa tidak nyaman.


"Raa". Pagilnya, menenangkan Hira.


"Maaf, Ta. Aku terbawa perasaan". Hira menusap air matanya yang sempat jatuh.


"Aku cuma heran. Bukankah dulu mereka memutuskan menikah karena saling mencintai?. Lalu sekarang mengapa yang menjadi korban anak dan istrinya?. Lelaki itu tega meninggalkan dan membiarkan mereka tinggal di kolong jembatan, membuat mereka kelaparan".


Hira merasa sakit mengatahui fakta yang menimpa gadis kecil tadi. Sama seperti sakit yang ia rasa ketika sedang mencari papanya dulu. Setiap malam.


Bohong jika Hira tidak marah dan bohong jika Hira tidak merindukan kehadiran sosok seorang Ayah dalam hidupnya. Walaupun rindu itu berhasil ia tutupi dengan sangat rapi oleh sebuah rasa benci.