Almahira

Almahira
Berbuat Ulah



Yang dikatakan Siska benar terjadi. Beberapa hari belakangan ini Diana berulah. Berulang kali sengaja menabrak bahu Hira jika berpapasan.


Lalu hari ini di jam istirahat kedua, Diana kembali mengusiknya. Diana mengerjai Hira ketika Hira dan Siska sedang menyantap semangkok bakso untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


Menambahkan lima sendok makan cabai ke mangkok Diana adalah langkah awal yang ia lakukan bersama kedua temannya.


Tidak hanya itu, saat perhatian Hira terfokus dengan yang dilakukan Diana. Ada yang dengan senyap menambahkan garam pada minuman yang ada di samping Hira.


"Buruan makan!". Hira masih bergeming.


"Atau temen lo yang makan?". Sinis Diana tertuju pada Siska yang menunduk.


Hap. Satu sendok bakso masuk ke dalam mulut Hira. Enak!, ternyata rasanya tidak sepedas yang ia kira.


Satu suap, dua suap, tiga suap. Alih-alih kepedasan, Hira justru menikmati bakso yang ia santap dan mengabaikan Diana yang masih menunggu reaksinya.


Dengan kesal Diana menuang semua sambal yang masih ada di mangkuk kecil yang digunakan khusus untuk tempat sambal.


"Heiii!". Seru Siska tidak terima.


"Apa?, lo mau makan juga?".


"Biar aku aja, Di".


"Bagus, buruan!"


Hap. Satu suap bakso berwarna merah merona khas warna cabai, masuk ke mulut Hira. Uhuk. Rasanya begitu menyengat, seakan membakar lidah dan tenggorakan.


Tangan Hira mulai meraih gelas minuman yang ada disampingnya. Dan itu adalah momen yang ditunggu Diana sedari tadi.


Mulut Hira sudah ada di bibir gelas, siap untuk menyesap minumannya. Huek. Belum sempat tertelan, minuman tersebut dimuntahkan Hira karena rasanya yang asin.


"Ini, Ra, minum punyaku".


Huekk. Hira memuntahkan lagi minuman yang diberikan Siska padanya. Rasanya lebih asin dibandingkan miliknya sendiri. Entah kapan mereka menuangkan garam pada minuman Siska. Mereka benar-benar ahli dibidang mengerjai.


"Bentar, Ra".


Dengan cepat Siska berlari ke arah kantin yang menjual minuman. Tujuannya adalah minuman instan yang ada di botol. Jika memesan jus maka akan membutuhkan waktu yang lama.


"Hahahaha". Suara khas telapak tangan yang diadukan terdengar, memeriahkan kemenangan yang mereka dapatkan, tos!.


"Cabut gaes".


Belum sempat melangkah. Padangan Diana terpaku dengan kedatangan seorang lelaki yang berjalan kearahnya.


Gata meletakan minuman botol didepan Hira yang sedang menunduk menahan rasa pedas dan asin dimulutnya.


Hira langsung membuka tutup minuman tersebut tanpa melihat siapa yang meletakan di depannya. Ia fikir itu pasti Siska.


Glek glek


"Gata!" seru Diana dengan nada tidak percaya.


Mendengar itu, Hira membuka matanya yang tertutup saat ia minum untuk menetralisir rasa aneh di mulutnya.


Degg!. Benar!, Gata ada di hadapannya, sejak kapan?


"Berhenti mengganggunya". Diana tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gata.


Baru kali ini ia melihat Gata membela seseorang dan itu ia lakukan pada Hira. Anak baru itu?. Diana tidak terima.


"Pergi!". Tegas Gata.


Diana pergi dengan menghentakan kaki memandang sinis pada Hira yang bahkan berani membalas tatapannya. Sial!, baru kali ini ada yang berani membalas menatapnya.


"Kamu berhak melawan, bela dirimu, jangan mau diperlakukan semena-mena". Cerca Gata, sebelum akhirnya melenggang pergi.


"Tentu saja". Jawab Hira dengan dibumbui senyuman. Senyum tipis tetapi terlihat begitu manis.


"Hei. Ngapain berdiri di situ?". Ternyata sedari tadi Siska melihat apa yang terjadi.


"Baru kali ini aku lihat Gata membela seseorang, Ra".


"Oh ya?".


"Hmm".


"Jangan-jangan Gata suka kamu".


***


Dan lagi apa yang dikatakan Siska benar adanya. Diana tidak akan puas jika melihat lawannya belum tumbang. Hari ini ia kembali berulah. Mengabaikan peringatan yang kemarin diberikan Gata padanya.


Saat Hira menuju kelas sehabis dari perpustakaan. Tiba-tiba tangannya ditarik menuju lorong yang ada dibelakang kelas.


Bahunya cekal kanan kiri. Sebelah kiri dicekal Vina, sebelah kanan dicekal Adel, dan dihadapannya berdiri seorang perempuan bermata nyalang, menyeruput jus yang ia bawa.


Jika anak lain akan ketakutan saat diperlakukan seperti ini. Berbeda dengan Hira, ia tetap terlihat tenang bahkan masih berani membalas tagapan Diana.


"Sekali lagi gue tanya!. Ada hubungan apa lo sama Gata?"


"Tidak ada"


"Bohong!!, terus kenapa kemarin Gata bela lo, beliin minum segala". Ucapnya tidak terima.


"Nggak tau". Jawabnya santai


"Gue nggak suka sama kejadian kemarin. Gue mau itu nggak pernah terulang lagi"


"Kamu bilang aja langsung, kan Gata yang lakuin itu"


"Kurang ajar, berani-beraninya lo ngejawab!"


"Tingggal bilang iya apa susahnya sih". Sahut Vina yang masih setia memegang bahunya.


"Nih anak minta dikasih pelajaran, Di, biar jera". Sahut Adel Ikut megompori.


"Iya nih, kalo nggak dikasih pelajaran bakal makin berani!"


"Ntar dia bakal tetep godain Gata, Di"


"Tangan gue juga udah gatel"


Perlahan Diana menuangkan jus yang sedari tadi ia pegang pada seragam putih yang saat ini dikenakan Hira.


Menuangkanya bukan hanya sedikit tetapi sampai jus itu habis tak tersisa. Padahal jus itu tadinya masih ada lebih dari setengah cup.


"Diana!!!". Teriak Hira marah.


"Apa? Nggak suka?. Cabut gaes!"


Baju putih yang tadi Hira kenakan kini penuh noda merah. Membersihkannya butuh waktu yang lama.


Hira putuskan untuk memberi pesan pada Siska agar mengijinkannya pada guru mapel bahwa ia tidak bisa mengikuti jam pelajaran dengan alasan perutnya mules. Hira tidak mau membuat Siska kepikiran jika mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sejak kapan ditoilet, Ra, kok tadi nggak berpapasan?"


"Mulesnya baru terasa sekarang, Sis. Tolong ijinkan ya"


"Aku perlu kesana nggak, Ra?"


"Kamu ikut pelajaran aja. Nanti aku minta catatan ke kamu"


Sekarang Hira dibuat Frustasi dengan keadaan bajunya. Noda merahnya sudah menghilang. Tapi sekarang bajunya yang basah terkena air jadi memperlihatkan apa yang seharusnya tidak terlihat. Bajunya yang putih menjadi transparan.


Sedikit lama Hira didepan cermin, Ia putuskan untuk menggerai rambutnya, berhasil. Walaupun masih sedikit terlihat tetapi tidak terlalu terlihat seperti tadi.


Perlahan ia membuka pintu, ragu-ragu. Ia berharap tidak banyak anak yang nongkrong seperti biasanya.


Klek. Pintu terbuka, Hira melangkah perlahan. Aman, tidak banyak anak didepan karena masih ada jam pelajaran. Kembali Hira melangkah. Tetapi kalimat seseorang menghentikan langkahnya.


"Kenapa lama sekali di dalam?".


Perlahan Hira menoleh ke belakang. Terlihat seorang lelaki sedang bersandar didinding dengan satu tangan dimasukan di saku celana. Deg!


"Gata?". Ucap Hira, mengernyit.


"Ngapain disini?". Tanya Hira keheranan.


"Nunggu lo, lama banget". Jawabnya dengan muka datar.


Gata menghampiri Hira yang masih mempertahankan raut wajah heran yang lebih condong tidak percaya dengan kehadirannya di sana, terlebih dengan jawaban yang diberikan Gata pada dirinya.


Menunggunya, untuk apa?