
Suara itu berbeda. Hira menoleh dan ternyata Arhan yang mendatanginya.
"Makasih, tapi aku sudah pesan taksi".
Menerima penolakan dari Hira. Arhan tidak lekas pergi, ia justru turun dari motor dan melepas helm yang melekat dikepalanya.
"Kenapa masih disini?".
"Menunggu taksi yang lo pesan datang".
Hira tidak merespon Arhan. Ia masih sibuk melihat ponsel yang ia pegang. Menekan nekan ponsel itu dengan resah.
Tiga puluh menit lebih ia habiskan untuk menunggu taksi yang katanya ia pesan tetapi tidak kunjung datang.
"Gue tau taksi yang lo pesan nggak ada kan?. Sudah larut malam, lo mau ikut gue atau lo menunggu disini sampai pagi". Arhan kembali memakai helmnya.
"Setelah gue pergi, gue nggak bisa pastiin kalau mereka nggak bakal mengganggu lo".
Hira melihat ke seberang jalan. Ada bayak lelaki yang nongkrong disana sedang menatap kearahnya. Sejak kapan mereka ada disana? Pikirnya.
Tatapan lelaki yang ada diseberang jalan begitu terasa mengintimidasi. Bagimana jika yang dikatakan Arhan benar?.
Suara mesin motor terdengar sudah menyala. Dengan kecepatan kilat Hira naik keatas moto tanpa disuruh dua kali.
"Tolong antarin aku pulang". Mendengar itu Arhan tersenyum tipis dibalik helm fullface-nya.
Arhan tidak lekas melajukan motornya. Ia melepas jaket yang ia kenakan lalu memberikannya pada Hira.
"Apa?".
"Ikatkan dipinggangmu, rokmu terlalu pendek". Hira melihat posisi duduknya dan memang benar roknya semakin terlihat pendek saat ia duduk di atas motor sport itu.
"Cepat pakai, aku tidak mau seseorang menghajarku jika melihatnya". Tanpa banyak bicara ia lekas mengikatkan jaket itu dipinggangnya. Jaket itu ternyata sangat membantu untuk menutupi pahanya yang tadi sedikit terekspos.
"Memangnya siapa yang akan mengahajarmu?".
Tidak ada jawaban dati Arhan. Ia lekas melajukan motornya setelah melihat sekilas kearah spionnya.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Hira dan Arhan juga melajukan motornya setelah melihat motor yang ada didepannya melaju.
Dengan jarak yang sedikit jauh ia terus mengikuti rute yang dilalu motor yang ada didepannya.
"Makasih, han, sudah mengantarku".
"Hmm, aku pulang dulu".
"Iya, hati-hati".
Setelah Hira masuk. Arhan memutar motornya menuju sebuah ke sebuah tepi jalan yang tadi ia lewati. Motornya berhenti tepat disamping sebuah motor sport yang mirip dengan miliknya.
"Lo masih peduli padanya, kan?. Tetapi lo tertalu pengecut. Jadi jangan salahkan gue kalau gue memilih untuk melangkah didepan lo". Setelah mengatakan itu Arhan melajukan lagi motornya dengan kecepatan penuh.
"****. Gue nggak akan ngebiarin hal itu terjadi, si*l". Ucapnya menahan geram.
Ketika melewati sebuah rumah yang tadi menjadi perhatiaanya. Ia sedikit melambatkan laju motornya. Menatap rumah itu dengan pandangan nanar.
"Maafkan aku". Ucapnya lirih tanpa melepas pandangannya pada rumah Hira.
Sama seperti Arhan, dia juga melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
***
Hari ini murid kelas dua belas SMA Garuda Merdeka masih menjejekan kakinya di sekolah tercinta.
Walaupun sudah melaksanakan ujian yang terakhir tetapi kereka masih punya kewajiban untuk sesekali datang ke sekolah guna melengkapi administrasi yang masih ada beberapa kurang lengkap.
Selain itu mereka juga harus mengisi beberapa tanda tangan sebagai bukti telah mengikuti ujian praktik yang telah mereka laksanakan di sela-sela ujian yang kemarin berlangsung.
Hari ini, Hira datang seorang diri tanpa adanya Siska yang menemani. Rasanya begitu hampa.
Kalau boleh bilang Hira ingin seperti dulu selalu bersama dengan Siska kemanapun mereka berada.
Tetapi kejadian tempo hari. Membuat mereka memeliki jarak. Siska menjauh darinya.
Apa Siska marah karena melihat dirinya yang begitu dekat dengan Gata?. Fikiran itu terus berdengung di kepalanya.
Padahal kalau dulu Siska bilang lebih awal alasan yang sebenarnya. Hira juga akan lebih memilih menjaga jarak atau bahkan tidak pernah dekat dengan Gata.
Tapi semua sudah terjadi, tugasnya sekarang adalah menjalani dan kalau bisa juga memperbaiki.
Hari ini juga Hira bertekad untuk mengajak Siska mengobrol. Memberi pengertian padanya bahwa ia dan Gata tidak memiliki hubungan apapaun.
Hira juga akan memyampaikan sesuatu yang penting pada Siska terkait dengan kelanjutan rules perjalanan Hira kedepannya. Semoga saja Siska mau berbicara padanya.
"Kamu masih belum berbaikan dengan Siska, Ra?".
Hira menggeleng. "Belum, ma".
Hira meletakan sendok yang tadi ia pegang, mulai bercerita pada mamanya.
"Panggilan Hira tidak pernah dianngkat bahkan pesan yang Hira kirimkan juga belum dibalas, ma. Kemarin pulang belanja, Hira juga mampir ke rumah Siska, tapi dia nggak mau membukakan pintu, ma. Hitlra bingung harus gimana lagi".
Mama membelai kepala Hira, untuk menenagkan putrinya yang resah beberapa hari ini. "Nanti kamu punya kesempatan buat berbicara sama Siska"
"Tapi kalau dia tetap nggak mau gimana, ma"
"Mau tahu cara biar tetap bisa bicara sama siska walaupun dia nggak mau?".
"Gimana ma?".
"Bawa aja ketoilet lalu kunci pintunya". Mama berbisik, seakan itu rencana paling rahasia.
Hira tersenyum. "Setelah ada didalam, mau nggak mau, Siska pasti mendengarkan apa yang kamu bicarakan, kan?".
Hira spontan memeluk mama. "Mama the best".
"Mau sekalian mama bikinin bekal buat Siska?".
Hira mengangguk antusias. "Siska sangat suka dengan nasi goreng buatan mama. Telurnya doubel ya, ma. Siska pasti senng banget nanti".
"Laksanakan tuan putri". Mama juga senang akhirnya bisa melihat Hira yang mau berbicara dengan semangat lagi. "Habiskan sarapanmu, Ra. Dari kemarin kamu belum makan".
"Iya mama. Ini Hira mau ambil lagi nasinya".
"Habiskan saja, Ra. Nanti mama buat lagi".
"Nggak ma, ini udah kenyang banget". Hira mengelus perutnya yang sedikit membuncit karena makan terlalu banyak.
"Itu buat mama sarapan, jangan sampai mama melewatkan sarapan".
"Melihat kamu semangat makan gini membuat mama juga semangat untuk makan".
Hira memandang mama. "Dari kemarin mama juga belum makan?". Tanya Hira tidak percaya.
"Makan, mama makan roti yang kamu belikan kemarin".
"Maa"
Hira menatap mama tepat pada retinanya. "Hira lebih kuat dari mama, kalau Hira nggak makan satu hari itu nggak masalah buat Hira. Tapi kalau mama sampai tidak makan, Mama bisa sakit ma".
"Mama juga kehilangan selera makan saat melihatmu murung terus di kamar"
"Maafkan Hira, ma"
"Jangan melewatkan waktu makanmu lagi. Mama juga nggak mau melihat anak mama ini sakit".
"Mama juga nggak boleh melewatkan waktu makan lagi, Oke?"
"Oke"
"Sudah ini bekal buat Siska. Sampaikan salam mama untuknya, bilang kalau mama rindu dia berkunjung ke sini"
"Iya". Hira tersenyum kemudian memeluk mama.
"Makasih ma".