Almahira

Almahira
Sidang



"Assalamualaikum, Maa. Mamaa"


"Wa'alaikumussalam, sebentar, Ra"


Melihat mamanya menghampiri, Hira meraih tangan mamanya untuk dicium.


"Hira mandi dulu, ya, ma". Ucap Hira yang ingin segera menghindar dari mamanya.


"Tunggu!". Seru mama menghentikan langkah Hira.


'Mampus'. Batin Hira.


Mama menelisik kerah baju yang dengan sengaja disembunyikan Hira dengan rambutnya. Hira lupa jika tatapan mamanya setajam pisau.


"Kenapa lagi ini?. Kemarin noda kuning, sekarang merah?. Mama tidak terima alasanmu yang terkena jus. Kalau jus kamu tumpah maka yang terkena noda baju bagian bawah bukan di kerah"


Skak. Belum sempat memberikan Hira sudah dibuat tak berkutik.


"Lalu ini jaket siapa". Hira serasa mati kutu.


"Ng, i-ini, punya em-"


"Buka!". Tegasnya.


"Ha? Apa?"


"Buka!"


"Maaa".


"Buka jaketnya, Hira, mama ingin tahu apa yang kamu sembunyikan"


"Tapi, ma"


"Mama bilang buka!". Tegasnya lagi, kali ini Hira tidak bisa membantah.


"Mama ini seperti Diana saja". Gerutu Hira.


"Siapa Diana?". Tanya mama.


Hira tidak punya niat untuk menjawabnya dan hanya fokus melepas jaket yang sengaja ia lambatkan. Setelah ini akan ada sidang dadakan ketika mamanya melihat baju yang dikenakan anaknya basah dan terlihat mengenaskan saat tidak dirangkap dengan jaket.


"Astaghfirullahaladzim, Hira!. Apa ini?".


"Maa, Hira bisa jelasin kok". Ucapnya sedikit memelas.


"Mandi, makan, lalu temui mama". Tanpa mendengar jawaban Hira, mama berlalu pergi.


Tepat seperti dugaan Hira. Akan ada sidang dadakan setelah makan. Selama mandi dan makan Hira masih memikirkan jawaban yang paling tepat untuk dipersembahkan pada mamanya nanti.


Hira sengaja memperlambat waktu makannya. Agar bisa sedikit memangkang waktu.


"Semakin lama kamu makan, maka waktumu dengan mama nanti juga semakin lama"


"Iya, mama sayang, ini udah selesai kok".


Hira lupa jika ia tinggal dengan mama tidak hanya sehari atau dua hari saja. Jadi tidak heran jika setiap gerak gerik yang Hira lakukan akan mudah ditebak oleh mama.


Fhuhh. Hira menghelas nafas dalam sebelum akhirnya menghampiri mama yang sedang menonton televisi. Merasa dihampiri putrinya, segera mama mematikan televisi yang sebenarnya sedang menayangkan sinetron kesukaannya.


'Ternyata mama benar-benar menungguku'. Batin Hira yang sedikit gusar.


'Biasanya mama sangat sayang dengan sinetronnya, dan hari ini rela mematikan telivisi demi menyidangku. Astaga'. Lanjutnya membatin.


Hira mendudukan dirinya tepat disamping mama dan hanya berjarak beberapa jengkal saja. Melihat Hira sudah duduk, mama mengubah posisi duduknya menghadap tepat pada Hira yang duduk dengan gusar.


Belum berbicara apa-apa keringat dingin terasa muncul di dahi. Hira juga merasa tenggorokannya kering karena susah menelan salivanya sendiri.


"Ceritakan". Ujar mama, tanpa basa basi.


"C-ceritakan apa, ma?"


"Kau sudah tahu kan tujuanmu menemui mama untuk apa?". Tegasnya.


"Ceritakan". Ujarnya lagi yang tidak sabar.


"Ngg, yang bagian mana, ma?"


"Semua, mama mau mendengar semuanya".


"T-tapi, ma-"


"Hira, stop mengulur waktu!".


Mendengar desakan itu membuat Hira memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi padanya.


Mulai dari tentang geng tanggung yang membuatnya penasaran, bisikan Gata, cerita tentang Diana, tentang sambal dan noda di baju yang disebabkan karena ulah Diana yang menjadikan dirinya sebagai target, juga tentang jaket. Hira memutuskan untuk jujur dan menceritakan semuanya pada mama.


"Maaf-kan mama, nak". Ucapnya lirih, sedikit serak.


"Eh, loh k-kenapa, ma?". Hira menghadap mamanya.


Hira bingung dengan respon yang diberikan mama mengenai ceritanya. Mengapa begini? Bukankah seharusnya mama mengomel atau memberi petuah seperti biasanya.


'Mengenai geng yang membuatku penasaran hingga berurusan dengan Diana, bukankah seharusnya mama menjewer telingaku. Lalu respon apa ini?'. Batinnya, diluar perkiraan Hira.


"Dulu kamu tidak pernah diperlakukan seperti ini di sekolahmu. Tapi sekarang kamu justru menerima perlakuan buruk di sekolah barumu". Ujar mama sendu.


"Maaa". Hira juga menatap mamanya sendu.


"Kamu mau kembali lagi ke kota tempat alnarhum kakek?. Mama bisa kerja di sana, kita bisa cari kost, dan kamu bisa kembali bersekolah di sekolah mu yang dulu, Ra"


"Enggak ma, disini aja. Hira nggak mau melihat mama terlibat lagi dengan tante Karin".


"Tapi, Ra-"


"Ma, dengerin Hira dulu. Dalam perjalanan hidup bukankah hal yang wajar jika menemukan sedikit kerikil dan duri?. Di sini Hira bertemu Diana yang mengusik hidup Hira. Di kota Kakek, mama akan bertemu dengan tante Karin yang akan mengusik mama dan pastinya akan mengusik Hira juga.


Kalaupun seandainya kita pindah ke kota lain bukankah masih ada kemungkinan juga kita akan bertemu dengan sosok seperti Diana dan tante Karin yang lain, kan, ma?.


Kita tetap disini aja, ya?. Hira sudah besar, ma. Masalah seperti ini nggak akan membuat Hira tumbang. Hira yakin bisa melindungi diri Hira sendiri dengan baik nanti.


Tentang noda di baju dan perlakuan Diana. Sebenarnya Hira bisa dan berani membalasnya, Ma. Tapi Hira fikir untuk apa membalas hal kecil seperti itu yang nantinya membuat Hira menjadi sosok yang sama seperti Diana.


Tapi mama tenang aja, kalau Diana sampai berani nyakitin fisik, Hira akan membalasnya, Ma, Hira akan melawan. Tapi Hira nggak bisa melihat mama diperlakukan semena-mena sama tante Karin".


"Terimakasih, nak. Terimakasih karena sudah tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh,". Mama memeluk Hira, menumpahkan tangis harunya melihat putri kecil yang ia besarkan tumbuh menjadi gadis yang begitu tangguh.


"Itu juga karena mama yang mengajarkannya. Terimakasih sudah menjadi mama yang hebat untuk Hira". Balasnya yang juga menangis haru.


Hira masih ingat betul perjuangan mama yang membesarkannya seorang diri hingga Hira berumur berumur delapan belas tahun.


Lalu dimana papanya?. Bukankah seharusnya Hira juga dibesarkan oleh sosok seorang paa, kan?.


Entahlah, dimanapun dan dalam keadaan apapun, Hira malas untuk membahas. Anggap saja tidak pernah ada cerita sosok papa dalam hidupnya. Sama seperti akan sosoknya yang tidak pernah ada dalam hidup Hira. Sama sekali.


"Jadi kita akan tetap tinggal di sini, kan, ma?." Tanyanya memastikan satu hal.


"Tentu saja, mama tidak akan setega itu memisahkan dirimu dengan lelaki yang kau incar". Menaik turunkan alisnya, menggoda.


"Ishh, mama". Senyum hira malu-malu. "Terimakasih". Ujarnya lagi dan memeluk mamanya kembali.


"Apapun yang terjadi, apapun itu, ceritakan pada mama, Ra,"


"Pasti"


"Ra!". Teriak mama tiba-tiba, mengejutkan Hira yang masih menikmati momen romantis nan haru antara anak dan ibu.


"Ada apa, ma?". Tanyanya ikut panik.


"Remot mama mana?, aduhh sinetron mama ini aduhh mama ketinggalan ini".


"Astaga, ma". Hira hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa kecil melihat tingkah mamanya.


Ck, sinetron!