
Terlihat Hira yang sedang fokus menggoreskan pensilnya diatas buku gambar yang ia letakan dimeja.
Tidak ingin membuyarkan fokusnya, Gata berjalan pelan ke arah Hira. Gata masih berdiri melihat Hira dari arah belangkang, sedikit disamping Hira.
Melihat apa yang digambar Hira membuatnya merasa seperti familiar dengan gambar itu.
"Kau sedang menggambar baju pengantin wanita?". Tanyanya mengagetkan Hira, untung saja saat itu Hira tidak sedang menempelkan pensil di sketsanya.
"Astagaa, Ta. Kau mengagetkanku ku saja". Ucap Hira.
"Maaf, aku tidak sengaja. Coba lihat sketsa bajunya".
Gata mulai menelisik apa yang sudah Hira buat. Sketsa baju yang begitu elegan. Pernak pernik yang tidak terlalu banyak terkesan tidak ramai.
Baju itu dibuat dengan kerah baju yang tidak terlalu memperlihatkan bagian pundak dan punggung. Terdapat payet yang ditengahnya ada berlian kecil yang akan membuat baju itu berkilau.
"Jangan berkomentar yang menyakitkan lagi, Ta. Kamu bisa bilang kurangnya dimana dengan baik-baik kepadaku". Ucap Hira yang masih belum melupakan kritik meyakitkan yang Gata berikan kemarin.
"Apa kata-kataku kemarin terlalu menyakitkan?"
"Ya, sangat menyakitkan"
"Maafkan aku kalau begitu, tetapi gambarmu kemarin memang sangat jelek".
"Gata!"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Ra. Jika kemarin aku bohong dengan mengatakan gambarmu bagus. Kau tidak akan berkembang dan menghasilkan karya yang sebagus ini".
"Menurutmu ini bagus?"
"Sangat bagus, cantik, dan terlihat elegen"
"Makasih". Hira tersipu dengan sanjungan yang diberikan Gata padanya.
"Lalu, mana sketsa baju untuk mempelai lelakinya?"
Dengan ragu Hira mengambil kertas lain yang ada didepannya. Sengaja tadi ia membaliknya agar tidak ada yang melihat. Dan sekarang Gata menanyakan bagian ini?.
"Astagaa, Ra, Apa ini?".
"Aku tahu, itu sangat jelek"
"Bukan hanya jelek tapi juga menyeramkan, Ra, sangat menyeramkan. Bagaimana bisa gaun seorang prinses kau sandingkan dengan baju pangeran yang seperti ini?".
Kali ini bukannya marah Hira justru terpaku dengan kalimat yang Gata ucapkan.
Mengapa rsanya kalimat itu pernah ia dengar, tapi kapan dan dimana?. Sungguh, kalimat itu terasa tidak asing ditelinganya.
"Tunggu sebentar aku akan memperbaikinya, nanti kau tinggal memberikan polesan terakhir yang menurutmu kurang".
"Baiklah"
Hira masih memikirkan kalimat itu lagi. Tiba-tiba ia teringat dengan anak kecil beberapa tahun lalu yang menghampirinya di taman.
Ah, bukankah kalimat seperti itu bisa diucapkan siapa saja, kan?.
"Ra". Panggil Gata
"Ra". Panggilnya lagi.
"Almahira Karindra!". Panggilnya dengan nama lengkap dan langsung mendapat direspon.
"Ya, kenapa, Ta?"
"Kau sedang memikirkan apa?"
"Bukan apa". Hira menggeleng. "Tadi ada apa?". Tanyanya lagi.
"Gimana menurutmu, kurang apa?". Tanya Gata menyodorkan hasil sketsa yang ia buat.
"Bagus sekali, Ta". Hira mengagumi hasil yang Gata buat. "Em tapi ini mengapa dasinya seperti ini, akan terlihat lebih keren lagi kalau dasinya kupu-kupu dan tidak ada garisnya".
"Iya, ya. Kalau dasinya seperti ini nanti kesannya mau kerja".
"Nah itu".
Banyak momen yang membuat mereka terlibat dengan hal yang sama membuat keduanya semakin terlihat dekat.
Kedekatan itu membuat Hira melihat beberapa hal yang sebelumnya tidak Hira lihat ada pada diri Gata.
Tapi setelah Gata keluar dari perpustakaan dan berbaur dengan yang lainnya maka Hira akan melihat Gata seperti awal ia melihatnya. Dingin, penuh misterius.
Perihal Diana. Ia sudah tidak menganggu Hira dengan cara yang brutal. Diana hanya menatap Hira dengan tajam dan sering sekali dengan sengaja menyenggol bahu Hira dengan kencang.
Namun Hira mengabaikan apa yang dilakukan Diana padanya. Toh nanti kalau sudah capek pasti akan berhenti dengan sendirinya. Pikirnya.
Ditengah keasikan Gata dan Hira yang sedang memberikan polesan akhir untuk lebih mempercantuk sketsa yang mereka buat, ponsel Gata berdering.
'Bunda tersayang' dengan emoticon love, tertera jelas di layar ponsel milik Gata. Panggilan video dari bunda tentu saja Gata tidak akan melewatkannya.
"Assalamualaikum, bunda".
"Wa'alaikumussalam, sedang dimana kamu?".
"Di sekolah lah, bunda, dimana lagi?"
"Mana, Hira?".
"Ada"
"Dimana?, ada di dekatmu nggak?. Bunda mau berbicara dengan Hira"
"Ish, bunda. Yanh ditelpon anaknya yang dicari orang lain". Gata menyerahkan ponselnya pada Hira.
"Siapa?". Tanya Hira lirih.
"Assalamualaikum, cantik. Ini bunda". Serunya.
"Waalaikumussalam, bunda. Bunda apa kabar?"
"Alhamdulillah, bunda sehat. Kenapa bunda telpon nggak diangkat?".
"Oh maaf bunda. Hira lagi di perpustakaan sama Gata dan ponsel Hira ada di kelas"
"Baiklah. Lalu, kapan kamu berkunjung ke rumah bunda lagi, Ra?"
"Kami sedang sibuk bunda". Sahut Gata yang ikut nimbrung dan memperlihatkan wajahnya di ponsel.
Tidak mau melewatkan momen itu, bunda mengambil tangkapan layar, memperlihatkan Hira dan Gata yang wajahnya terlihat begitu dekat.
"Ish, kau ini. Kau sudah berjanji dari kemarin kalau mau ajak Hira berkunjung ke rumah, bunda".
"Ya, tapi kami masih sibuk mempersiapkan lomba designe baju, bunda".
"Lalu, kapan Hira bisa berkunjung ke rumah bunda lagi?". Tanyanya dengan nada sendu.
"Weekend nanti, Insyaa Allah Hira berkunjung ke rumah bunda". Sahut Hira tidak tega melihat bunda berwajah sendu.
Bunda sudah hafal jika Hira akan luluh melihat ekspresi sedih dengan nada sendu. Jadi, bunda mengeluarkan jurus andalannya untuk menaklukan Hira. Dan terbukti cara bunda berhasil.
"Baiklah. Bunda tunggu, ya, cantik". Ucap bunda bersemangat lagi.
Setelah beberapa menit mereka mengobrol, bunda mengakhiri sambungan video itu.
"Kamu beneran bisa dateng?"
"Insyaa Allah"
"Kalau nggak bisa, nggak apa. Jangan dipaksa, Ra"
"Aku lihat dulu nanti, ya"
Mereka melanjutkan kegiatan mereka. Sebelum pada akhirnya mereka mendengar bel berbunyi pertanda kelas selanjutnya akan segera dimulai.
Suasana kelas menjadi terlihat semakin normal. Tidak seseram yang Hira rasakan beberapa bulan yang lalu.
Anak-anak yang lain juga sudah bisa bersikap normal pada Gata dan lainnya. Walaupun masih memberikan kesan yang dingin, tetapi aura intimidasi sudah tidak terlalu terasa lagi.
Beberapa anak juga mulai membaur dengan Arhan, Tomy, Dika, dan Dimas yang katanya menjadi anggota sebuah geng, Geng Tanggung.
Itu semua tidak terlepas dari Hira yang membujuk Gata agar bisa bersikap normal pada yang lainnya, tidak lagi terlalu memberi intimidasi.
Melihat Hira yang mereka anggap bisa menakkulan seorang Argata Mahendra. Tidak ada yang berani mengusik Hira. Itu sebabnya saat Diana mulai memprovokasi maka mereka akan lebih memilih membela Hira yang menyandang kedudukan penting disisi Gata.
Dari situ, Hira bisa menyimpulkan. Bahwa sebenarnya yang mereka takuti itu adalah Gata bukan Diana.
Lalu, apa yang mereka takutkan dari Gata?, Hira belum menemukan jawaban yang pasti.