Almahira

Almahira
Hati dan Logika



"Dinding dan pagar di sekolah ini punya mata dan telinga". Jawabnya, yang tidak menghentikan gerakan tangan memplaster luka di lutut Hira.


"Lalu?"


"Hampir semua anak di kelas menceritakanmu"


"Lalu?"


"Apa?". Menghentikan sejenak tangannya dan melihat sekilas pada Hira.


"Jaket yang kamu pinjamkan ke aku?"


"Gue hanya merasa bersalah sama lo"


"Merasa bersalah?"


"Hmm. Karena ulah gue waktu itu, lo jadi berurusan dengan Diana"


"Kamu juga melakukan hal yang sama pada setiap anak yang berurusan dengan Diana?"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Karena bukan gue yang menyebabkan mereka punya masalah dengan Diana. Mereka sendiri yang mendekati gue, bukan gue yang mendekati mereka. Jadi gue tidak punya tanggung jawab untuk membela mereka".


Baru kali ini Hira mendengar Gata berbicara dengan kalimat yang panjang.


"Seperti kamu yang membelaku waktu itu?". Tanya Hira memastikan satu hal. "Kamu juga selalu ada disaat aku habis ditindas Diana". Lanjutnya.


Gata membereskan kotak obat dan tidak punya niatan untuk menjawab pertanyaan yang Hira berikan.


"Sudah selesai".


"Terimakasih, Gata"


Gata berjalan keluar perpustakaan. Namun, baru beberapa langkah berjalan ia harus menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat yang Hira sampaikan.


"Em, kita satu kelompok".


"Ya. Gue akan menghubungi lo nanti"


"Oke, aku tunggu". Ucapnya dengan senyuman tipis.


Niat Hira ke perpustakaan tadi untuk meneruskan sketsanya. Tetapi dengan keadaan tangannya yang penuh luka dan plester tidak memungkinkan untuk Hira melanjutkan menggambar. Jadi Hira putuskan untuk melihat reverensi yang ada.


Ditengah perjalanan menuju kelas, Hira bertemu dengan Siska yang berlari kecil, sepertinya akan menyusulnya ke perpustakaan.


"Astaga, Ra!". Teriaknya ketika sudah ada di depan Hira. Menelisik lutut dan tangan Hira yang lecet. "kamu beneran jatuh?. Ku kira Gata cuma bohong"


"Gata?"


"Dia bilang kamu jatuh dan butuh aku buat mapah kamu jalan". Jelasnya. "Sini". Siska merangkul Hira.


"Makasih, Sis"


Sampai di kelas, Hira tidak mendapati Gata ada di tempatnya.


"Setelah bilang ke kamu, Gata kemana, Sis?"


"Gatau, setelah bilang kalau kamu jatuh, dia pergi gitu aja gatau kemana". Hira hanya mengangguk saja.


"Kamu sudah mengobrol dengannya, Ra?"


"Sudah"


"Terus gimana?"


"Tidak seperti yang aku duga"


"Bagus deh"


"Ng, kamu tahu apa yang membuat bajuku basah waktu itu, Sis?".


"Hemm". Siska mengangguk. "Semua anak di kelas ini sepertinya sudah tahu, Ra. Jadi kamu tenang aja, aku pastikan nggak ada yang berfikir macam-macam seperti yang Diana katakan, kok".


"Iya". Hira mengangguk dan tersenyum. "Alhamdulillah".


Hira hanya memastikan bahwa apa yang dikatakan Gata tadi benar adanya. Dan, ya, memang benar. Gata tidak hanya memberikan alibi tetapi Gata berbicara tentang fakta yang sesuai.


***


Semalaman Hira dibuat tidak bisa tidur dengan overthingkingnya.


"Bukankah itu berarti secara tidak langsung, Gata bilang kalau dia mendekatiku?. Lalu muncul rasa bersalah dan kemudian bertanggungjawab, menolongku saat setelah berurusan dengan Diana?. Apa mungkin dia selalu mengikutiku?".


Hira mencoba mengurai pernyataan dan pertanyaan selogis mungkin untuk diterima akal. Tetapi Hira tidak kunjung mendapati jawab yang pasti.


"Tengah malam kenapa bengong sendirian di dapur, Ra?". Tegur mama yang melihat anaknya duduk melamun di kursi dapur.


"Mama belum tidur?, atau kebangun?".


"Kebangun, mama haus, air dikamar habis". Jawabnya, lalu menegak air yang sudah terisi di dalam gelas yang ia bawa. "Ada apa?". Tanyanya sekali lagi.


"Nggak ada, ma, Hira cuma kepikiran sama seseorang".


"Cowok?". Tebak mama. Hira hanya tersenyum dan mengangguk.


Mama duduk di kursi sebelah Hira. Siap untuk mendengar cerita yang membuat anaknya tidak bisa tidur hingga tengah malam.


"Menurut mama, kalau ada anak yang tiba-tiba muncul di momen saat kita emang benar-benar butuh. Menurut mama orang itu gimana?.


Maksudnya gini, misalnya mama lagi sakit terus dia kasih obat, mama lagi lapar tiba-tiba di belikan makan, mama lagi kedingan dia bakal kasih jaketnya untuk mama. Tanpa mama yang memintanya padanya. Menurut mama, dia ada felling ke mama atau cuma karena rasa manusiawi saja?".


Mama hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apapun. Menatap wajah putrinya terlihat sedang mengartikan sesuatu.


"Ih malah senyum-senyum. Gimana menurut mama?"


"Kamu lagi bahas cowok tanggung itu, ya?". Tanya mama tersenyum lagi.


"Bukan". Hira menggeleng. "Cowok tanggung siapa?, namanya Gata ma, tanggung itu na-". Kalimat Hira berhenti karena menyadari sesuatu.


Niat hati mau mengelak justru ia malah membenarkan dugaan mamanya. Dan parahnya, Hira menyebut namanya.


"Ohh namanya Gata, ya?". Ucap mama meledek.


"Ish, mamaaa". Merengek adalah jurus utama Hira untuk keluar dari suatu topik pembicaraan yang menyudutkannya.


"Tanya sama hati kamu sendiri, rasakan, apakah cowok tanggung itu beneran ada felling atau memang ada hal lain yang tidak kamu tahu. Logika memang penting tapi jangan tinggalkan hatimu untuk merasa. Ingat, hati nggak pernah bohong, Ra.


Logika dan Hati harus bermain bersama, jangan hanya melibatkan salah satunya karena kita butuh keduanya untuk menjawab sesuatu yang abstrak agar tidak tersesat dalam penafsiran yang salah"


Hira termenung memikirkan kalimat kiasan yang mamanya berikan. Hati dan logika?.


"Mama ke kamar dulu. Udah larut malam, kamu juga harus segera tidur".


"Iya, ma. Selamat tidur"


"Selamat tidur".


***


Pagi hari di kelas Hira terasa normal, terlihat seperti awal Hira masuk ke kelas itu. Mereka sibuk meminta contekan pekerjaan rumah pada temannya yang sudah mengerjakan lebih dulu. Termasuk teman sebangkunya.


"Ra, tugasmu matematika kemarin, sudah?"


"Sudah. Nih, mau nyalin tugasku, kan?"


"Terbaik". Ucap Siska mengancungkan kedua jempolnya.


'Tumben, biasanya baca buku dan duduk tenang dibangku. Hari ini terlihat lebih manusiawi tidak lagi berdiam diri'. Batin Hira.


Hira melihat ke samping belakangnya. Kosong!. Pantas saja mereka terlihat lebih santai. Ternyata tidak ada yang memberikan aura intimidasi. Pikirnya.


Ting. Bunyi ponsel Hira yang menandakan ada pesan masuk.


"Pulang sekolah, temui gue di parkiran, kita bahas tugas praktik". -Gata


"Kamu nggak ke kelas, Ta?". Balas Hira. Tidak ada jawaban dari seberang.


"Baiklah". Tulis Hira lagi pertanda dia menyetujui ajakan yang diberikan Gata padanya.


"Ok".


"Ish anak ini sok cuek banget". Gerutunya.


"Siapa, Ra?".


"Gata, dia ajak aku ketemu di parkiran pulang sekolah buat bahas tugas praktik. Kamu tunggu aku bentar, ya, Sis?"


"Yahh, kayaknya aku nggak bisa nunggu deh, Ra, soalnya aku juga mau bahas tugasku bareng Nisya nanti".


"Jadi aku sendiri, nih?". Tanya Hira, lebih ke diri sendiri. Siska menganguk tanda mengiyakan pertanyaan Hira.