
Langit biru diiringi senyum mentari menemani langkah kaki seorang perempuan berparas cantik. Rambutnya yang indah bergelombang meriap tertiup angin.
Almahira Karindra, ia senang di panggil Hira. Setelah seratus hari meninggalnya Kakek. Hira dan rumi, ibunya, memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran sang ibu.
Keterampilan rumi mejahit. Membuat ia membuka usaha sendiri yaitu menjahit baju. Mulai dari baju anak-anak, remaja, dewasa, baju sekolah dan juga baju apapun.
Hira mencoba mencari sekolah yang kurang lebihnya sedikit sama dengan sekolahnya yang dulu supaya Hira tidak mengulang lagi dari kelas satu. Dan pilihannya jatuh pada sekolah Garuda Kebangsaan.
Hira duduk di kelas Ilmu pengetahuan Alam. Poin penting dari jurusan yang ia pilih karena adanya unsur 'alam'. Hira sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan alam.
Apapun itu jika masih memiliki keterikatan dengan alam maka Hira akan berusaha ada di barisan terdepan. Terbukti saat ia masih bersekolah di sekolah lamanya, Hira selalu Aktif di kegiatan Pramuka, Hira juga bergabung di komunitas SISPAlA (Siswa Pecinta Alam). Namun, Hira harus keluar dari komunitas itu saat pindah sekolah.
Hari ini adalah hari pertama Hira masuk ke sekolah barunya. Sekolah menengah Atas kelas dua belas.
Parasnya yang rupawan tidak heran jika banyak laki-laki yang betah memandangnya, menjadikannya pusat perhatian.
Walaupun banyak yang menatap kagum, Hira selalu memasang wajah jutek bahkan bisa dibilang judes, pada setiap lelaki yang ia temui. Para lelaki yang bagi Hira tidak memberikan kontribusi penting dalam hidupnya.
Sifat jutek yang Hira miliki, membuat sebagian lelaki yang mengaguminya mundur perlahan. Tetapi bagi para lelaki yang menyukai tantangan menjadikan sikap jutek Hira menjadi sesuatu yang sangat menantang.
Menaklukan perempuan cantik yang banyak dikagumi lelaki di sekolah, bukankah itu sesuatu yang luar biasa?
Sayangnya, cara mereka mendapat perhatian dari Hira, kurang berkelas. Hira mengabaikan cuitan para siswa lelaki yang nongkrong didepan kelas saat jam istirahat tiba.
Jalan lurus ke depan tanpa menoleh barang lima derajat sekalipun, menjadi satu-satunya respon yang diberikan Hira.
Respon itu menjadikan Hira terlihat angkuh dan sombong. Tetapi Hira tidak memperdulikan istilah apa yang akan disematkan padanya nanti.
Hira hanya tidak mau meladeni sesuatu yang tidak penting, terserah mereka mau bilang apa, Hira tidak peduli.
Prinsip Hira adalah hidup tenang di sekolah, terbebas dari jeratan lelaki dengan semua permasalahan dan drama-drama percintaan.
Pacaran adalah drama percintaan yang bagi Hira adalah drama yang begitu rumit dan hanya membuang waktu saja.
Hira ingin waktunya dihabiskan untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan, bukan hanya untuk meratapi sesuatu yang membuat hati tertekan.
Sedikit yang mau menetap menjadi teman Hira, lantaran Hira mempunyai sifat yang sangat pendiam, terkesan membosankan.
Tetapi itu hanya kesimpulan yang mereka buat sendiri, opini mereka sendiri. Seandainya mereka bisa mengambil simpatik dari Hira, maka mereka akan melihat pribadi lain yang Hira miliki. pribadi yang menyenangkan.
Dulu Hira selalu merasa takut jika temannya menjauh. Tetapi sekarang, Hira yakin sesuatu yang benar-benar baik untuknya akan selalu menetap dan sesuatu yang hanya memberi pengaruh buruk untuk hidupnya akan mejauh dengan sendirinya.
Buat apa punya banyak teman tetapi sebagian besar dari mereka hanya munafik?.
***
Hari ini, senin kedua Hira mengikuti upacara bendera. Di tengah-tengah pembacaan naskah undang-undang yang khusuk, terdengar suara yang sedikit berisik dari arah gerbang. Ada guru BK yang mengatur barisan siswa maupun siswi yang telat datang.
"Banyak sekali yang telat, ya?". Gumam Hira pada diri sendiri.
"Biasalah gengnya si Arhan itu, geng tanggung". Ternyata, siska, teman satu bangku, mendengar monolognya.
"Geng tanggung?". Tanya Hira, mengernyit.
"Anak-anak menamai mereka geng tanggung. Mereka sering berbuat onar di sekolah seperti sekarang mereka berbuat onar saat upacara bendera. Tapi mereka hampir tidak pernah mengganggu anak-anak yang lain. Makanya anak-anak menamai mereka geng tanggung"
Upacara bendera yang kehilangan kekhusukannya karena kehadiran geng tanggung selesai hampir pukul 08.00.
Biasanya upacara tersebut selesai sejak 07.30. Tetapi karena kehadiran geng tanggung, membuat pembina upacara harus memberikan amanat yang cukup panjang dan memakan waktu.
Barisan pun dibubarkan. Saat hendak menuju ke kelas, Hira melihat barisan geng tanggung yang masih diberikan pengarahan.
Guru BK memberi nasihat dan juga ancaman agar tidak kembali membuat kegaduhan saat upacara bendera di laksanakan.
Saat sedang mengamati barisan itu, tatapan Hira bertemu dengan salah satu siswa yang ada di barisan paling depan.
"Ayo, Ra. Jam pertama ada mapel kimia. Bahaya kalau sampai telat, bisa-bisa kita disuruh olah raga". Tegur Siska. Mengalihkan perhatian Hira.
Ting ting ting. Jam pelajaran pertama selesai. Tapat setelah bu Arum, guru kimia, keluar dari kelas. Segerombolan siswa masuk ke dalam kelas, kurang lebih ada lima anak. Dengan baju yang dikeluarkan dan dasi yang sudah tidak ditali dengan benar.
"Wah wah wah, siapa nih cantik banget" sapa salah satu dari mereka yang mempunyai rambut panjang sedikit pirang menghampiri meja Hira dan Siska.
"Hira, murid baru" belum sempat Hira menjawab, sudah lebih dulu dijawab Siska dengan wajah yang jutek.
"Wah pindahan dari mana?". Satu teman mereka yang memiliki kulit sawo matang ikut nimbrung.
"Dari Malang" lagi-lagi siska yang lebih dulu menjawab.
"Pantesan cantik. Kenalan dulu dong. Gue tomy".
"Gue Dika"
"Gue Dimas".
"Saya Almahira, salam kenal ya". Balas Hira dengan dibumbui sebuah senyum tipis.
"Masya Allah, manisnya". Ucap mereka serempak dengan berteriak begitu keras terdengar nyaring di kelas. Sesi perkenalan harus terpotong karena jam perlajaran yang kedua sudah di mulai.
"Bukannya mereka itu yang tadi baris di barisan yang datang telat ya, sis?". Tanya Hira berbisik
"Iya, Mereka yang ku ceritakan tadi"
"Mereka ada di kelas ini. Tapi kenapa aku baru melihatnya?"
"Mereka ijin tidak masuk, dengan alasan ada acara keluarga"
"Semua? dengan alasan yang sama?"
"Iya"
"Kamu tidak bertanya siapa yang tidak menyapamu tadi?". Siska sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh guru biologi yang saat ini sedang menjelaskan materi.
"Memangnya siapa mereka?"
"Yang duduk di sebelah kiri". Bisik Siska tanpa menunjuk orangnya. "Itu ketua geng tanggung, namanya Arhan. Terus yang duduk di sebelah kanan itu namanya Gata, Argata mahendra"
"Aku kira yang kanan ketuanya".
Hira merasa tidak asing dengan nama itu. Argata?. Ah bukankah yang memakai nama itu bukan hanya satu orang saja.