Almahira

Almahira
Peringatan



Setiap pagi, sebelum jam pelajaran pertama di mulai, semua siswa-siswi dan guru yang masuk di jam pelajaran pertama, wajib menyanyikan lagu indonesia raya.


Kegiatan itu dipimpin oleh seorang dirigen dari siswa mulai dari absen pertama hingga absen terakhir secara berurutan.


Berdoa dan bernyanyi telah terlaksana dengan tertib dan khusuk. Bu Mona, guru PPKN, sedang melakukan presensi.


Tepat saat nama Argata Mahendra dipanggil. Pintu diketuk dari luar. Munculah pak Budi, Guru BK dan diikuti dengan anggota geng tanggung dibelakangnya.


Setelah berbicara beberapa saat dengan bu Mona, pak Budi pamit keluar. Menatap sekilas kawanan geng yang tadi dibawanya masuk ke kelas.


"Kalian lagi, kalian lagi". Ucap Bu Mona terdengar Frustasi.


"Baiklah, ini toleransi terakhir dari saya, jika ini terulang kembali jangan harap bisa masuk di jam pelajaran saya. Silahkan berdoa dan nyanyikan lagu indonesia raya".


"Baik bu"


Mereka berdoa dengan khusuk di depan kelas dengan posisi berdiri. Kemudian Tomy bergegas memandu mereka bernyanyi.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang tidak mengalihkan perhatiannya pada salah satu diantara mereka.


Ternyata hukuman yang diberikan Bu Mona tidak hanya berdoa dan bernyanyi. Mereka di suruh push up 20 kali dan squat jump 20 kali.


Seseorang yang tidak melepaskan perhatiannya sedari tadi semakin dibuat kagum dengan cara mereka melakukan push up dan squat jump.


Ia sering melihat seseorang yang diberikan hukuman seperti itu akan melakukannya dengan loyo dan tidak bersemangat. Tetapi berbeda dengan yang ia lihat sekarang, mereka melakukannya dengan begitu gagah, penuh energi.


Hitungan ke-20 dan ke-20 telah mereka lakukan dengan sempurna tanpa ada kecurangan perhitungan.


Tepat ketika Arga dan kawan-kawannya dipersilahkan duduk. Seseorang dengan segera mengalihkan perhatiannya pada buku yang ada di depannya.


Tetapi jantungnya terasa mau lepas ketika ada yang menghampirinya. Orang itu meletakkan tangannya di meja dan sedikit membungkukan badan, mencondongkan wajah lalu medekatkan mulutnya pada telinga perempuan yang sedang duduk dengan gelisah.


"Jangan terlalu memperhatikan, aku tidak bertanggung jawab jika kau jatuh cinta".


Belum selesai menenangkan dirinya. Ketika melihat sekitar, banyak pasang mata yang memerhatikannya dengan tatapan yang berbeda-beda.


Termasuk ketika ia melihat teman sebangkunya, mulutnya sudah terbuka lebar dengan tatapan yang menyiratkan ketidak percayaan akan hal yang tadi ia lihat.


"Tutup mulutmu, sis, atau lalat akan masuk kedalamnya"


Hira masih mencoba menenangkan diri dan mencerna situasi. Mengapa begitu banyak tatapan sinis yang mengarah padanya?


Disisi lain, dimeja yang berbada baris dengan meja Hira. Teman duduk orang yang tadi mengampiri Hira juga merasa heran dengan apa yang dilakukan temannya.


"Apa yang kau lakukan padanya?". Tanya Arhan.


"Sedikit memberinya peringatan".


"Kau lihat, tatapan mengerikan dari mereka yang mengagumimu itu. Aku pastikan setelah ini dia yang kau hampiri tadi tidak lagi memiliki hari yang tenang. Parah, kau sudah menghilangkan ketenangannya, Ta".


Gata sedikit memikiran perkataan Arhan. Sebenarnya tadi ia melihat Hira yang menatapnya, memperhatikan dirinya tanpa mengalihkan pandangannya.


Gata hanya iseng menghampiri meja Hira untuk menegur dan memperingatinya. Tetapi tanpa Gata sadari apa yang dilakukannya itu sangat berbahaya untuk ketenangan hidup Hira kedepannya.


Ting ting ting. Bunyi yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan siswa.


Gata melewati meja Hira dengan sikap seperti biasanya, dingin, seakan tidak pernah terjadi apapun. Arhan sedikit menatap Hira, tersirat sedikit rasa prihatin.


Selepas kepergian Gata dan lainnya. Seseorang dengan tatapan elang yang sedari tadi seakan ingin mencabik mangsa. Menghampiri meja Hira dengan dua temannya


"Heh" sentaknya. "Ada hubungan apa lo sama Gata?"


"Tidak ada"


"Jawab yang bener!" sentak teman Diana.


"Kalian mau jawaban apa dariku?"


"Kurang ajar". Umpatnya


Tangan Diana memegang dagu Hira dengan sedikit menekannya. "Lo cuma anak baru disini, jangan macam-macam dan jangan berani caper ke Gata, ngerti?". Nadanya pelan tetapi penuh dengan intimidasi.


Setelah mengintimidasi Hira, mereka keluar dengan langkah angkuhnya seakan mengatakan bahwa tidak ada yang boleh melawan mereka.


"Lebih baik kamu jaga jarak dengan Gata, Ra". Ujar Siska, sedikit kerasa takut.


"Jaga jarak apa? bukannya memang dari awal sudah berjarak, kan?". Ada sedikit tawa kecil saat mengatakan itu, ada-ada saja. Menjaga jarak? Memang sejak kapan Hira dan Gata dekat?.


"Orang tua Diana punya kuasa apa di sekolah?"


"Setahuku tidak ada"


"Jadi Diana sama seperti kita, tidak ada dukungan dibelakangnya?"


"Iya"


"Lalu kenapa seakan Diana terlihat paling berkuasa?"


"Entahlah, kelas satu di semester kedua, Diana pernah menyatakan perasaannya pada Gata tapi tidak pernah mendapat respon.


Sejak itu saat jika ada siswi lain yang ketahuan dekat dengan Gata, entah itu ada tugas kelompok atau lainnya maka mereka akan di labrak oleh Diana, sama seperti yang dia lakukan tadi. Dan lebih parahnya Diana tidak akan berhenti mengganggu sampai dia puas dan ada target baru lagi yang mencoba mengusik Gata.


Kamu hati-hati, Ra, saat ini kamu menjadi targetnya. Melihat apa yang dilakukan Gata tadi, Diana pasti berfikir kamu menggodanya"


"Tidak ada yang mecoba untuk melawannya?". Siska menggelengkan kepalanya.


"Jangan bilang kalau kamu pernah menjadi korban". Siska menggangguk.


"Waktu itu aku satu kelompok dengan Gata. Pulang sekolah Diana mendatangiku dan marah-marah, aku di kunci di kamar mandi. Aku baru bisa keluar besok paginya saat petugas kebersihan datang untuk bertugas"


Tidak hanya itu, Siska pernah di suruh makan sambal satu sendok tanpa minum air sama sekali. Dan sering sekali di suruh membelikan makanan dengan uang yang kurang sehingga Siska harus menggunkan uang sakunya untuk menggenapi. Setiap ada tugas, Siska yang selalu mengerjakan tugas mereka bertiga tanpa adanya tolakakan.


Kejadian itu berakhir ketika ada anak yang keciduk menaruh coklat di meja Gata. Siska bingung antara merasa bersyukur atau kasihan pada anak yang akan merasakan apa yang ia rasakan.


Saat ini target selanjutnya adalah Hira.


"Tidak ada yang melapor?, ini termasuk penindasan loh bahkan masuk dalam kategori membuli". Siska menggelengkan kepala.


"Kamu nurut dengan semua yang Diana perintahkan?"


"iya"


"tidak mecoba melawan?". Siska menggeleng


"kamu takut pada mereka?". Siska mengangguk.


"Siska, kalau kamu takut dan tidak membela dirimu sendiri ketika ditindas. Maka jangan berharap orang lain akan membelamu. Satu-satunya yang bisa kamu harapkan adalah dirimu sendiri. Walaupun kamu lemah, tapi jangan pernah menunjukanya pada mereka. Beranilah melawan untuk melindungi dirimu sendiri"