
Kesibukan siswa-siswi SMA garuda kelas dua belas yang sedang menempuh sementer enam tak lain yaitu belajar, belajar, dan belajar.
Tidak ada satu haripun yang mereka lewatkan untuk tidak belajar.
Jika biasanya mereka sering menumemui jamkos (jam kosong) dibeberapa jam pelajaram. Maka berbeda dengan semester enam. Mereka akan menemui jamkos hanya sesekali bahkan minggu ini tidak ada jamkos sama sekali.
Hal itu disebabkan karena para guru sudah menargetkan bahwa materi yang mereka pelajari harus tuntas semua diawal bulan februari mendatang.
Target yang disusunpun bukan hanya membuat para siswa kewalahan tetapi para pengajarpun juga merasakan hal yang sama.
Bagaimana mungkin materi yang masih ada beberapa bab harus selesai dalam jangka waktu emoat bulan?.
Karena hal itu semua elemen yang terkait dalam kebijakan ini harus sama-sama kompak untuk lebih giat belajar dan tentunya lebih semangat lagi dalam mempelejari materi.
Empat bulan berlalu terasa begitu cepat. Setelah bersama untuk mengejar target materi yang harus dituntaskan. Kini mereka harus lebih mempersiapkan diri lagi menghadapi berbagai ujian kelulusan.
Tahapan pertama ujian yaitu, Ujian Tengah Semester, disusul dengan Ujian Akhir Semester, dan yang terakhir adalah Ujian Sekolah.
Dua sesi ujian telah terlewati dengan banyak menguras pikiran juga mental. Mereka terus belajar untuk mengejar nilai yang memuskan.
Kini saatnya mereka menghadapi Ujian Sekolah yang tentunya akan lebih menguras tenaga, Pikiran, juga mental mereka.
Ujian sekolah berbeda dengan yang lainnya. Dimana ketika Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester, hanya mengambil materi dari kelas dua belas. Maka Ujian Sekolah ini mengambil materi dari kelas sepuluh semester pertama.
Semua yang menjalani tahap ini pasti akan meresakan sedikit tekanan. Begitupun juga dengan Hira.
Hira benar-benar memanfaatkan waktunya dimalam hari untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Bahkan mama sampai khawatir jika Hira jatuh sakit.
Berulang kali mama selalu mengingatkan dan memastikan agar Hira bisa tidur tepat jam sepuluh malam, karena paginya jam tiga Hira selalu bangun untuk melanjutkan sesi belajarnya.
Tanpa diingatkan maka tak jarang Hira tidak tidur hingga pagi. Hal itu yang membuat mama harus konsisten mengingatkan waktu tidur Hira.
Sebuah usaha, perjuangan, dan kesungguhan tentu tidak akan mengkhianati hasil yang didapatkan.
Hira tersenyum puas melihat sebuah kertas yang ditempelkan disebuah mading dekat dengan ruang guru.
95,5 nilai terbaik diangkatan Hira, berhasil diduduki Hira dari kelas IPA dua. Disusul dengan Gata yang memeperoleh nilai yang beda tipis dengan Hira 95,3.
Dua poin?. Astaga dua poin lagi yang Gata dapatkan maka posisi di nomor satu akan diduduki oleh Gata.
Untuk Siska, ia.menempati tempat diposisi enam besar dengan nilai 90,8. Berada dibawah satu tingkat dengan Arhan yang menduduki tempat di limat besar dengan nilai 91,5.
Walaupun berada di posisi enam dan lima. Itu sudah menjadi sebuah pencapaian yang sangat memuaskan bagi mereka.
Bukankah masuk disepuluh besar juga prestasi yang baik?.
"Wait wait, udah cantik pintar lagi". Kelakar Tomy yang berdiri tepat didekat Hira. "Selamat Hira, kamu sudah berhasil menyisihkan Gata dari posisi pertama"
"Menyisihkan?"
"Dari kelas 10, Gata selalu juara satu, Em, ya, semacam juara umum gitu. Dan sekarang posisinya berhasil di akuisi oleh anak yang notabenya murid baru disini". Sambung Dimas.
Hira menatap Gata yang sedari tadi berdiam diri. "Sorry, Ta". Ucapnya lirih.
"Kenapa sorry?". Tanyanya mengangkat alis. "Aku turut senang dengan pencapaianmu, Ra. Selamat ya". Ucap Gata tersenyum menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hira.
"Makasih, kamu juga hebat, Ta. Selamat ya".
"Jangan pernah lagi merasa insecure. Apa yang kamu capai adalah hasil dari usahamu, tidak perlu merasa bersalah pada siapapun". Hira tersenyum dan mengangguk.
"Untuk merayakan kelulusan kita. Gimana kalau kitax makan-makan". Usul Dimas
"Terserah lah bebas".
"Gimana para cewek, pada ikut nggak?"
"Kamu ikutan Sis?"
"Kalau kamu ikut aku juga ikut, Ra"
Mereka memutuskan kumpul disebuah restoran yang buka dua puluh empat jam. Restoran itu sangat berbeda dengan yang lainnya.
Biasanya pihak restoran yang lain akan menyiapkan meja dan kursi yang tinggi. Tapi direstoran ini mereka akan duduk lesehan hanya beralas bantal khusus untuk tempat duduk.
Mereka memesan banyak makanan. Masing masing memesan menu kesuakan ditambah dengan menu favorit ditempat itu. Tidak lupa juga dengan minuman kesukaan yang mereka pesan.
Sungguh, meja yang berukuran sedang terlihat sbagat penuh.
Setelah hampir satu bulan digempur dengan padatnya jadwal ujian. Sekarang mereka dengan lepas menikmati makan dengan sesekali tertawa ceria.
Satu hal yang mencuri perhatian Hira sedari tadi. Hira melihat Gata yang jauh lebih pendiam dari biasanya.
Gata juga tidak terlalu menikmati makanan didepannya. Fikirannya jauh seakan tidak berada ditempat itu.
Sesekali diajak ngobrol juga tidak nyambung. Entah apa yang sedang difikirkannya.
Selesai makan mereka tidak langsung pulang. Bentar, turunin makanan dulu katanya.
Alhasil mereka masih menetap ditempat itu dengan berbagai macam kegiatan yang berbeda.
Ada yang scroll sosmed, ada yang chating, ada yang diam tidak melakukan apapun, ada juga yang dengan kamuannya sendiri menata piring menjadi satu tumpukan agar terlihat rapi.
"Ra, aku ke toilet dulu ya". Pamit Siska pada Hira. Hira menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Perlu kuantar, Sis?". Tawarnya.
"Nggak usah, Ra. Aku pemberani tauk". Ucapnya sedikit memanyunkan bibirnya dengan canda.
Tidak lama kemudian Gata juga izin keluar karena mau mengangkat telepon penting katanya.
Kepergian Gata membuat Hira menatapnya hingga hilang dibalik dinding pembatas.
'Setelah ini kita akan berpisah, Ta. Aku melanjutkan kehidupanku dan tentu kamupun juga sama, melanjutkan kehidupanmu'. Batin Hira sedikit merasa sedih.
Hubungan Hira dan Gata menjadi dekat ketika mengikuti perlombaan.
Tidak jarang mereka menghabiskan banyak waktu bersama, ke kantin dan yang paling sering adalah diperpustakaan. Kadang Gata juga sesekali membawa masakan dari bunda.
"Untukmu". Kata Gata. "Dari bunda". Lanjutnya.
Menjelang hari kelulusan bukankah wajar jika hati sediktt melankonis?. Begitupun yang Hira rasakan saat ini.
Walaupun tidak ada hubungan khusus, Hira sudah menganggap Gata menjadi teman terbaiknya.
Karena itulah Hira sedikit merasa sedih mengetahui fakta bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah karena perjalan yang tentu saja berbeda.
Saat Hira sedang merasakan sedih di hati. Berbeda halnya di lain tempat, seorang yang baru saja keluar dari toilet dikagetkan oleh seseorang yang berdiri bersendar di tembok dengan muka yang datar.
"Gue mau berbicara sebentar, bisa?". Ucapnya singkat, tersirat nada yang tidak ingin dibantah oleh orang yang menjadi lawan bicaranya.
"Katakan"