Almahira

Almahira
Bingkai Foto



Setelah Hira tidak lagi terlihat, Gata memutuskan untuk masuk. Tujuan utamanya adalah kamar dia sendiri.


Ayah sudah tidak ada lagi di ruang makan ketika Gata menghampiri bundanya terlebih dahulu.


"Gata ke kamar dulu bunda". Pamitnya pada bunda.


Gata merebahkan tubuhkan di atas kasur empuk yang selama ini menjadi tempat favoritnya. Tempat ternyaman kedua setelah panngkuan bunda untuk mengentaskan rasa lelah yang mendera setelah aktivitas panjang seharian.


Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak diatas nakas. Perlahan tangannya meraih bingkai itu, memperhatikan dan menelisik dengan pandangan yang sendu.


Foto itu diambil dari arah belakang. Terlihat dua anak kecil, perempuan dan laki-laki. Dua anak kecil sedang duduk dan memegang kertas yang bergambar sebuah baju, lebih tepatnya terlihat seperti gaun. Gaun pengantin.


Seperti kebanyakan gambar seorang anak kecil yang pasti terlihat sedikit acak-acakan, begitu juga dengan gambar yang mereka pegang.


Tetapi walaupun begitu, siapapun yang melihat pasti akan tahu apa yang sedang mereka gambar.


Saat masih asik menyelami kenangan dengan gadis kecil yang ada di foto. Pintu kamar Gata diketuk dari luar dan disusul dengan suara bunda yang izin untuk masuk.


Bunda berjalan kearah putranya yang masih berbaring sembari memperhatikan dan mengusap foto yang memperlihatkan dua anak kecil, yang masih setia ia pegang sedari tadi.


"Tadi bunda perhatikan, sepertinya Hira mencari foto itu lagi, Ar".


Pertama kali berkunjung, Hira memang melihat foto itu diletakan diruang tengah. Hira melihat saat sedang asik mengobrol dengan bunda waktu itu.


Hari ini Hira kembali diajak mengobrol diruang tengah tetapi Hira sudah tidak lagi menemukan keberadaan foto itu. Hira tidak sadar jika gerak geriknya diketahui oleh bunda.


Foto itu memang selalu diletakan diruang tengah, sedari dulu. Namun ketika bunda mengatakan pada Gata bahwa Hira pernah memperhatikan dan menelisik foto tersebut.


Gata memutuskan untuk meletakan foto itu dikamarnya sendiri. Agar nanti saat Hira kembali berkunjung, ia tidak melihat foto itu lagi.


"Kamu tidak mau mencoba menceritakan padanya?"


"Biarkan dia mengingatnya sendiri bunda. Atau mungkin dia tidak akan pernah mengingatnya".


"Kamu tinggal bilang, Ar, dan bunda yakin semua akan lebih mudah"


"Nggak semudah itu, bunda". Gata sedikit menjeda kalimatnya. "Gata nggak mau"


"Kenapa?"


"Biarkan dia mengingatnya sendiri. Kalaupun jika dia memang tidak mengingatnya, Gata juga tidak akan menceritakan apapun padanya". Gata menatap bunda serius, penuh keyakinan.


"Dan Gata minta tolong sama bunda, jangan menceritakan apapun padanya. Dan tolong jangan terlalu sering menyuruhnya berkunjung kesini". Lanjutnya memohon.


Bunda tidak lagi mendebat. Setelah mengusap kepala Gata, bunda keluar dari kamar.


Gata kembali mengusap bingkai foto itu. "Al...". Gumam Gata lirih terdengar begitu pilu.


***


Hira tiba dirumahnya pukul 16.30. Ketika masuk ke dalam rumah, Hira melihat mama yang sedang mencicipi masakan.


"Hira bantu, ya, ma"


"Kamu bersih diri aja, Ra. Bentar lagi sudah selesai kok, tinggal tabur bawang goreng aja".


"Yaudah kalau gitu, Hira mandi dulu, ma".


"Iya".


Makan malam dirumah Hira terasa begitu nikmat, walau dengan lauk apa adanya. Mereka begitu menikmati makanan yang sudah tersaji didepan mereka tanpa mengeluhkan apapun.


Yang penting tidak sampai kelaparan. Prinsip mereka dengan kompak.


"Enggak, ma". Hira menggeleng. "Mungkin fotonya sudah dipindahkan".


"Kenapa kamu begitu yakin kalau yang ada di foto itu kamu?"


"Baju yang dipakai anak perempuannya sama seperti bajuku waktu masih kecil, ma". Hira mencoba mengingat sesuatu. "Bahkan sampai sekarang aku masih menyimpan baju itu"


"Tapi baju yang seperti itu mungkin saja juga dimiliki orang lain, Ra, bukan hanya kamu".


"Iya juga ya, ma". Hira membenarkan.


"Tapi setelah melihat foto itu, Hira jadi teringat sama anak kecil yang menghampiri Hira di taman waktu itu, ma. Saat Hira sedang menunggu mama jualan kue".


"Kalau gitu kamu tanyakan saja langsung pada Gata". Usul mama.


Ya, jalan satu-satunya yang bisa dipastikan mendapatkan jawaban yang akurat adalah dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Argata.


Tapi apakah Hira akan semudah itu mau bertanya pada Gata?. Atau Hira sama seperti Gata?, tidak mau memulai apapun.


Ingatan Hira kembali pada beberapa tahun yang lalu, saat ia sekitar umur tujuh tahun.


Saat itu ia sedang duduk sendiri di sebuah bangku yang ada ditaman. Tidak jauh dari tempatnya duduk ada seorang ibu penjual kue yang tidak melepaskan pandangannya dari Hira. Beliau adalah Rumi, mama dari Hira.


"Hai, kau sendirian disini?". Tanya seoarang anak kecil, laki-laki, memakai baju casual dengan sepatu yang senada.


"Aku kesini dengan Ayah dan bundaku". Lanjutnya, karena tidak kunjung ada jawaban. "Kata bunda, kita nggak boleh sendirian ditempat ramai seperti ini".


Lagi-lagi tidak kunjung dijawab.


"Nama kamu siapa?. Namaku Argata, bunda biasa panggil aku Arga. Kau tahu, aku nggak suka dengan panggilan itu. Tapi aku membebaskanmu memanggilku apa saja, asal kau mau berbicara denganku". Lanjutnya mencoba mencari perhatian gadis kecil didepannya itu.


Argata memperhatikan gadis itu dengan seksama, merekam detail wajahnya.


"Kau sedang apa?. Boleh aku melihatnya?".


Argata duduk disamping gadis kecil itu. Memperhatikan gambar yang sedang dibuatnya.


Bingung dengan cara apalagi untuk mengambil perhatian. Akhirnya Argata memberikan komentar tentang gambar gadis kecil itu. Berhasil!. Gadis kecil itu merasa terusik dengan komentar yang diberikan Argata.


Mereka berdebat dengan serius. Yang satu tidak terima atas komentar yang diberikan dan yang satunya lagi semakin memancing agar gadis kecil itu semakin marah padanya.


Dia melakukan itu agar bisa mengobrol lebih lama dengan gadis kecil sang pencuri hati.


Dari kejauhan, Ayah yang melihatnya merasa lucu dengan tingkah mereka. Perlahan ayah menghampiri dan berdiri dibelakang. Mengambil potret keduanya dengan menggunakan kamera yang bisa langsung mencetak hasil potretnya.


Namun sayang sekali. Tak lama kemudian bunda mengajaknya pulang karena hari sudah semakin sore. Apalagi rumah mereka ada di kota lain.


Mereka ke tempat itu hanya untuk jalan-jalan dan menghabiskn waktu dihari weekend.


Sebelum pergi, gadis kecil itu memberikan sesuatu pada lelaki kecil yang menyapanya. Hal itu akan menjadi hadiah teristimewa, tidak akan terlupakan. Pancaran bahagia tercetak jelas.


Lelaki kecil itu berjanji akan selalu menyimpan dan menjaganya dengan baik.


***


Di lain tempat. Seorang lelaki berdiri di depan jendela. Memegang sebuah kertas yang terlihat sedikit lusuh dan pudar.


Memandangnya, mengusap, dan mengenang sebuah cerita yang ada dibalik kertas yang sedang ia pegang.


Senyum tipis tercetak beberapa detik kemudian memudar dengan seiring ia menutup jendela.