Almahira

Almahira
Berkunjung



Hari ini Hira meminta izin pada mama untuk berkunjung ke rumah Gata. Hira mengatakan bahwa itu permintaan langsung dari bunda.


Mama dan bunda sudah saling mengenal. Mereka bertemu saat bunda mengantarkan Hira pulang ketika pertama kali Hira berkunjung.


Ya, ini bukan pertama kali Hira berkunjung, tapi sudah yang ke dua kali. Pertama kali Hira berkunjung, tak lama setelah mereka bertemu saat berbelanja.


Bunda selalu mengusik Gata dengan menanyakan pertanyaan, kapan Hira ke sini?, kapan Hira berkunjung?, bunda mau bertemu Hira!.


Rengekan itu membuat Gata mau tidak mau menawari Hira untuk berkunjung ke rumahnya untuk menemui bunda.


Tidak menolak, Hira mau memenuhi permintaan bunda. Hira merasa bunda punya kehangatan yang membuatnya merasa nyaman.


Sayang sekali, pertama kali berkunjung Hira tidak bertemu dengan ayah Gata. Hendra terlalu sibuk berkerja. Namun, hal itu sangat disyukuri Gata.


Setiap kali mau berkunjung bunda selalu meminta Gata untuk menjemput Hira. Tapi Hira selalu menolaknya. Hira mengatakan bahwa dia bisa pergi sendiri dan tidak mau merepotkan Gata.


Alhasil hari ini Hira juga kembali berkunjung ke rumah bunda seorang diri lagi.


Bunda menyambut Hira di depan rumah. Dengan senyum yang terus mengembang.


"Assalamualikum, bunda". Hira memeluk bunda saat bunda sudah membukakan pagar untuk dirinya.


"Waalaikumussalam, cantik". Balas bunda dengan pelukan yang sangat hangat.


"Hira kangen bunda". Ucapnya sedikit terdengar manja.


"Bunda juga kangen, kangen sekali". Balas bunda dengan suara yang juga dimanjakan. "Yuk masuk". Ajaknya kemudian.


"Hira bawa buah dan sayur bunda". Mengangkat bawaan yang sempat ia letakan dibawah ketika memeluk bunda.


"Harusnya ngga usah repot-repot, cantik. Kamu datang berkunjung saja bunda sudah senang". Hira tersenyum dan tertawa kecil.


"Yaudah yuk, kita masak sayurnya"


"Yuk, bunda"


Mereka masuk ke dalam rumah. Membersihkan buah dan sayur lalu mulai mengeksekusi agar bisa disantap dengan nikmat.


"Gata kemana, bunda?"


"Tadi pagi pamitnya mau lari pagi sama teman-temannya, tapi sampai jam sepuluh gini belum pulang juga. Paling juga lanjut nongkrong". Jelas bunda. "Kau rindu pandanya?".


"Eh?, enggak bunda. Hira cuma tanya karena belum lihat Gata dari tadi".


Rindu Gata?, Yang benar saja!. Kedatangan Hira ke rumah bunda adalah untuk bertemu bunda bukan Gata.


Lalu kenapa ia bertanya tentang kehadiran Gata?.


"Bisa-bisanya dia lupa kalau kau akan berkunjung hari ini".


"Ngga apa, Hira berkunjung kan untuk bunda. Gata pasti juga rindu dengan teman-temannya. Belakangan ini dia sering ke perpustakaan sama Hira, bun".


"Untuk persiapan lomba itu ya?. Tanya bunda. "Bagaimana persiapan lombamu itu, Ra, sudah sejauh mana?"


"Alhamdulillah, semua sudah kami persiapkan dengan baik bunda".


"Minggu depan, kan, lombanya?"


"Iya, doakan yang terbaik, ya, bunda"


"Pasti dong. Bunda pasti doa yang terbaik untuk kalian, selalu".


"Makasih bunda". Ucapnya sebari memeluk bunda.


Pelukan yang singkat, teramat singkat. Namun selalu Hira rasakan kehangatan dalam pelukan itu.


Sayangnya, Hira tidak menyadari makna tersirat dari ucapan bunda. Tetapi seseorang yang kini sedang berdiri tidak jauh dari mereka begitu paham akan maksud bunda.


Tatapan orang itu begitu sendu, tersirat kesedihan juga rasa bersalah yang teramat ketara jelas. Segera orang itu menetralkan perasaannya. Dia tidak mau merusak momen hangat yang sedang tercipta.


"Sepertinya seru sekali bergabung dengan kalian". Hendra berjalan mendekat, masih membawa tas kerjanya.


"Ayah, kapan sampainya?". Bunda menghampiri Ayah, mencium tangan suaminya lalu mengambil alih tas yang kini sedang dibawa Hendra.


"Ada yang mengabari kalau calon mantu datang. Ya sekalian ayah makan siang di rumah". Ucapnya, membuat wanita yang merasa sedang dibicarakan merona.


"Ini yang namanya Hira?". Tanya Hendra, menyapa Hira.


"Iya Om. Assalamualikum". Tak lupa Hira juga mencium tangan Hendra.


"Waalaikumussalam. Masya Allah, cantiknya".


"Benar, kan, apa kata bunda". Ucap bunda bangga.


"Kok, om, sih". Protesnya. "Panggil Ayah saja. Seperti kamu memanggil bunda dengan sebutan bunda".


"Eh?, e, I-iya, yah".


Momen apa ini?. Ayah? Bunda? Apakah semua teman Gata juga memanggil mereka dengan sebutan itu?. Atau hanya dia saja yang memanggil mereka dengan sebutan yang biasa Gata gunakan?.


"Tuh, bunda, sekarang udah beneran cocok jadi calon mantu, kan". Ucap Ayah disambut dengan tawa bunda. Hira mati kutu dibuatnya.


Apa ini?. Calon mantu?. Hira ingin membatah apa yang diucapkan Ayah. Tetapi Hira tidak mau merusak tawa mereka.


Ayah berpamitan untuk ke kamar membersihkan diri. Tepat ketika bunda dan Hira menyajikan makan di meja. Pintu rumah terbuka disusul dengan ucapan salam.


Gata datang dengan keadaan baju yang setengah basah dibagian atasnya.


"Darimana saja kamu. Jam segini baru pulang?".


"Tadi habis lari pagi, Gata lanjut ngegym, bunda".


"Hira sudah menunggumu dari pagi. Dikunjungi pacarnya sendiri malah pergi".


"Kami hanya berteman bunda". Sela Hira. Tidak mau jika ada kesalahpahaman yang berkelanjutan tentang hubungannya dengan Gata.


"Maaf. Aku lupa kalau Hira datang bunda".


"Ya sudah, sana bersihkan dirimu. Kita makan siang bersama nanti". Bunda kembali masuk ke bagian dapur belakang mengambil makanan penutup.


"Maaf, Ra. Aku lupa kalau kamu datang hari ini".


"Nggak apa, Ta. Lagi pula aku berkunjung kesini untuk bunda".


"Aku mandi dulu".


"Iya".


***


Makan siang di rumah itu terasa canggung. Seorang Ayah yang mencoba mencairkan suasana tetapi hanya direspon dengan begitu dingin oleh putranya.


Tidak mau menebak-nebak, Hira memutuskan untuk tetap menikmati makanan yang telah tersaji.


Sore hari, Hira putuskan untuk pulang. Mama sempat telvon sekali memastikan keberadaanya.


"Biar bunda antar ya, Ra. Atau kamu diantar Gata, mau?".


"Hira pulang sendiri aja, bunda, kan Hira bawa motor tadi"


"Ya sudah kalau gitu". Bunda merentangkan kedua tangannya dan Hira langsung masuk dalam dekapan hangatnya. "Senang bertemu denganmu, cantik".


"Hira juga senang bertemu bunda".


"Kapan-kapan berkunjunglah lagi kesini, ya".


"Iya bunda, Insyaa Allah".


"Ehemm. Ayah nggak dipeluk ini?".


"Pelukannya diwakilkan bunda saja. Ayah jangan macam-macam, ya".


"Iya, iya. Bunda pemenangnya".


"Hahahaha".


"Hira pamit pulang dulu, ya, Ayah, bunda". Hira menyalami tangan ayah dan bunda bergantian. "Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam. Hati-hati ya, Cantik".


"Iya bunda"


Gata mengantarkan Hira keluar menuju motornya.


"Yakin nggak perlu kuantar, Ra?".


"Nggak usah, Ta. Nggak apa". Tolaknya. "Aku pulang dulu ya, Ta".


"Iya, Ra. Hati-hati".


Gata masih memperhatikan Hira yang perlahan keluar dari gerbang rumahnya hingga pandangannya tak lagi menemukan gadis itu.


Gata memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Entahlah apa yang kini sedang ia pikirkan hanya Gata sendiri yang tahu.