Almahira

Almahira
Berbuat Ulah (2)



Hira dibuat bingung dengan jawaban Gata. Menunggu?, ada hal penting apa sampai lelaki itu rela menunggunya di depan toilet?


"Untuk apa menungguku?"


Bukannya menjawab, Gata justru menyodorkan sebuah jaket denim berwarna army di depan Hira.


"Apa?". Tanya Hira, bingung.


"Pakai"


"Kenapa harus pakai?"


"Lo butuh ini, kan?"


"Enggak"


"Yakin?". Hira menggangguk dengan yakin.


Gata sengaja melirik bagian depan Hira. Menyadari apa yang dilakukan Gata, Hira ikut melihatnya. Dengan spontan hira menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bagaimana bisa ia lupa akan keadaan bajunya yang mengenaskan?


"Jangan lihat!!, dasar mesum!".


Merasa jaketnya tidak kunjung di ambil. Gata mendekat dan meletakan jaketnya di bahu Hira.


Hira dibuat linglung dengan perbuatan yang Gata. Tanpa berkata lagi, Gata meninggalkan Hira begitu saja.


Hira menyusul Gata yang sudah jalan lebih dulu didepannya, menjajarkan langkahnya dengan langkah lebar lelaki tersebut.


"Kok tahu aku di toilet?". Tidak ada jawaban


"Kenapa kasih jaketmu ke aku?"


"Lo butuh".


"Kok tahu aku lagi butuh?". Tidak ada jawaban lagi.


"Ng, tapi dikelas kan nggak boleh pake jaket, ya?". Tanya Hira, lebih ke diri sendiri.


"Bilang aja baju lo basah".


"Emang bakal dibolehin?" Tidak ada jawaban lagi.


Dipersimpangan jalan, Gata membelokan langkah kakinya menuju parkiran.


"Loh mau kemana?, bukannya kelas kita masih lurus"


"Ada urusan". Jawabnya singkat, kembali melangkah.


"Gata!". Panggil Hira, menghentikan langkah Gata.


Gata pun menoleh menatap sumber suara yang memanggilnya.


"Hmmm?"


"Makasih, ya". Ucap Hira memegang jaket yang menempel sempurna ditubuhnya. "Jaketnya"


"Hmm".


"Ternyata dia diam-diam perhatian juga". Gumam Hira, tidak lagi bisa menyembunyikan senyumnya yang sedari tadi ia tahan.


Hira tidak tahu apa maksud Gata memberikan jaket padanya. Hira juga tidak tahu bagaimana Gata bisa tahu Hira ada ditoilet dan memang membutuhkan sesuatu untuk menutupi bajunya.


Rejeki anak sholehah mungkin, batinnya terkikik.


Sebelum benar-benar masuk ke kalas. Hira memastikan sesuatu pada Sisika terlebih dulu.


Setelah mendapat jawaban dari Siska bahwa Bu Arum baru saja meninggalkan kelas. Hira melanjutkan lagi langkah Kakinya.


"Gimana perutmu, Ra, habis makan apa sih?. Loh sejak kapan kamu pakai jaket, Ra. Tapi, ini mirip punya Ga-"


Brakk!


"Heh anak baru, lo nggak tahu diri banget sih". Ucapnya, terlihat menahan amarah.


"Apa lagi sih, Di?".


"Cara apa yang lo pakai buat goda Gata, sampai lo bisa pakai jaketnya gini". Bisik Diana lirih.


Tidak ada jawaban yang diberikan Hira, membuat Diana semakin geram.


"Jawab!"


"Dia yang tiba-tiba kasih ke aku"


"Sial". Umpatnya. "Buka!"


"Apa?"


"Nggak mau"


"Buka!"


"Kamu apaan sih, Di. Kalau Hira nggak mau, jangan di pak-"


"Diam lo, jangan ikut campur!". Teriaknya memotong ucapan Siska yang mulai berani menunjukan pembelaannya untuk Hira. "buka!"


Tak kunjung dituruti, Diana mencoba membuka paksa jaket yang dikenakan Hira.


"Di, kamu apaan sih!!". Teriak Hira yang mulai terpancing amarah.


Hira terus mencoba melawan Diana yang masih kekeh berusaha melepaskan kancing jaketnya. Namun, tangannya tidak cukup untuk melawan Diana apalagi Diana dibantu dua kawannya.


Siska mencoba membantu tetapi didorong oleh Vina Hingga terduduk. Dan yang membuat Hira merasa marah lagi sekaligus heran adalah tidak ada satupun anak yang berada di kelas itu tergerak untuk membantu. Mereka cuma melihatnya saja.


Entah apa pengaruh Diana, hingga tidak ada satupun yang berani mebantunya. Tetapi dari tatapan beberapa anak yang Hira lihat sebagian dari mereka ada yang merasa kasihan padanya.


Semua kancing dari atas hingga bawah sudah berhasil dibuka. Dengan satu tarikan saja maka jaket itu akan benar-benar terlepas dari tubuh Hira. Dan itu membuat Hira semakin panik.


Srekk. Jaket terlepas total. Dengan spontan Hira menyilangkan tangannya di bagian depan. Siska yang melihat pun, langsung menutup bagian belakang Hira menggunakan tas.


"Ohh jadi ini yang kamu sembunyikan?. Kamu lama di kamar mandi karena habis main, ya, sampai basah gitu". Ucap Diana lantang mempermalukan Hira.


Sekarang Hira tahu tujuan Diana melepas jaket itu. Apalagi ada yang diamcdiam mengambil video dirinya.


"Balikin, Di!". Hira masih mencoba menahan amarahnya.


"Lain kali kalau main tuh minimal cari tempat yang enak gitu loh, bukan di kamar mandi sekolah".


"huuuuu"


"Diana balikin!!b".


"Kasihan banget sih, udah dibikin basah kaya gini, eh, dibalikin ke kelas cuma dikasih jaket doang hahaha"


"Hahahaha"


"Diana, tolong balikin jaketnya".


"Kenapa? Malu ya?"


"Blikin jaketnya atau lo berurusan langsung sama gue!!"


Ucap seseorang didepan pintu, mengalihkan perhatian semua anak yang tadi terfokus dengan Hira, terutama anak laki-laki. Gata berdiri dengan tatapan nyalangnya. Baru kali ini mereka melihat tatapan itu.


Di samping Gata, ada Arhan dan temannya yang lain. Berdiri juga dengan tatapan nyalangnya, menyiratkan betapa tidak sukanya mereka dengan apa yang sedang mereka lihat.


Entah sejak kapan mereka berdiri disana. Tidak ada yang menyadari keberadaan mereka.


Gata mengambil jaket yang ada di tangan Diana tanpa perlawanan sama sekali. Memakaikan jaket tersebut hingga melekat sempurna di tubuh Hira.


Rasa tegang menatap tatapan Gata yang tadi ia lihat digantikan rasa malu dengan perlakuan Gata padanya. Bukankah itu terlihat manis?.


Saat Hira mencoba mengalihkan perhatiannya, ia justru dibuat bingung karena sekarang sudah tidak ada lagi yang melihatnya seperti tadi.


Bukankah seharusnya momen seperti ini akan ada banyak anak yang menyoraki?. Tetapi keadaan di kelas justru sebaliknya, menjadi sunyi.


"Siapapun yang mendokumentasikan kejadian ini, hapus sekarang juga!, atau kalian akan tahu resikonya". Seru Gata datar, dingin, tetapi penuh intimidasi.


Lagi-lagi Hira dibuat tercengang saat melihat beberapa anak langsung memegang ponselnya setelah mendengar seruan Gata. Dan siapapun pasti tahu kalau mereka sedang menghapus file dokumentasi seperti yang Gata bilang.


"Ta". Dengan lirih Hira memberanikan diri menyapa Gata.


"Duduk!". Perintahnya dengan nada dingin, dan ajaibnya Hira langsung menurut tanpa membantah.


Tanpa berkata Gata dan kawannya menuju ketemoat duduknya. Selang beberapa detik, bu Mona masuk ke kelas.


"Hira, kenapa masih pakai jaket?"


"Maaf bu Mona. Saya izin pakai jaket karena baju saya basah, bu".


"Bnaiklah". Ternyata semudah itu meminta izin.


"Anak-anak silahkan buka halaman selanjutnya, ya".


"Baik bu".


Beberapa menit mencoba untuk mengikuti pelajaran yang berlangsung, Hira tidak mendapati fokus sama sekali.


Tanpa sadar Hira menoleh kearah samping belakang, tempat dimana lelaki yang tadi memakaikan jaket padanya, Argata.


Deg! Ternyata Gata juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Tatapan mereka hanya bertemu beberapa detik saja. Karena Hira kembali mengarahkan pandangannya ke depan.