
Belakangan ini suasana kelas begitu sunyi. Biasanya ketika Hira masuk ke kelas ada beberapa siswa yang besenda gurau. Namun, seminggu ini mereka hanya duduk membaca buku dan berbicara dengan teman sebangku.
Hal berbeda yang Hira lihat adalah hadirnya geng tanggung dengan formasi lengkap juga membaca buku. Hira yakin sunyinya kelas ini disebabkan oleh kehadiran geng itu.
Walaupun tidak berbuat apapun hadirnya saja sudah mengintimidasi apalagi jika melihat tatapannya. Merinding!.
Karena mereka tidak mau atau lebih tepatnya takut mengganggu geng itu dengan suara bising. Maka secara otomatis mereka akan mengikutinya juga membaca buku.
'Bagus juga, membudidayakan gemar membaca'. Batin Hira terkikik.
Di kelas itu hanya Diana dan gengnya yang asik main ponsel dan sesekali mengambil gambar lewat layar depan, selfi. Jangan lupakan tatapan sinis yang tertuju pada Hira.
Sebelum duduk dibangku, Hira memberanikan diri menghampiri meja Gata.
"Jaketmu". Ujar Hira menyerah Hodiebag. "Makasih, ya".
Gata melihat sekilas sebelum akhirnya menerima hodiebag yang disodorkan Hira padanya. "Hmm".
Setelah mengembalikan jaket Gata, Hira memutuskan untuk kembali melanjutkan sketsa bajunya yang ia buat tadi malam. Halaman di buku khusus sketsa itu terlihat hampir di penuhi oleh karya yang Hira buat.
Siska yang melihatnya hampir saja mengutarakan komentar, kritik dan saran seperti yang biasa ia lakukan di perpustakaan. Namun, Siska sadar jika ia memulai pembicaraannya maka akan menjadi dialog yang sangat panjang antara mereka dan Siska tidak mau menganggu kekhusukan membaca buku pagi itu. Jadi ia putuskan untuk menahannya hingga jam istirahat.
Selang beberapa menit, Bu Dewi, guru Biologi, datang dengan membawa beberapa materi juga memberikan tugas praktik.
"Hari ini ibu akan membuat kelompok untuk praktik minggu depan, praktiknya membuat kerangka anatomi sel tumbuhan dan hewan, setiap kelompok terdiri dari dua anak". Ujar bu Dewi.
Pemilihan kelompok itu dilakukan dengan sistem lotre yaitu memilih angka yang ada di dalam kertas yang digulung secara acak.
Biar adil, kata mereka dengan kompak.
Semua yang ada di dalam kelas berharap cemas, menanti siapa yang akan menjadi patner kelompoknya.
Semua sudah memegang potongan kertas berisi angka ditangan masing-masing. Dan dihitungan ketiga mereka membukanya secara bersama.
"Silahkan menulis nama kalian di depan sesuai dengan angka yang kalian dapatkan". Ujar bu Dewi lagi.
Sekian detik Hira dibuat mematung dengan nama yang bersanding dengannya di papan tulis putih di depan kelas itu. Argata Mahendra.
Hira bingung harus senang atau gusar. Hira masih terbayang dengan tatapan Gata tempo hari.
Menyeramkan!.
"Baik terimakasih anak-anak atas perhatiannya, sampai bertemu di praktik minggu depan. Jangan lupa persiapkan alat, bahan, dan keperluan lainnya". Ujar bu Dewi mengakhiri sesi pertemuan hari ini.
"Baik bu". Jawab kami serempak.
Seperginya bu dewi, Hira menatap Siska, memelas.
"Aku bingung memulai pembicaraan dengan Gata dengan cara apa, Sis"
"Tenang aja, Ra. Walaupun dingin Gata itu pinter. Ada plusnya satu kelompok dengannya"
"Pinter sih pinter, tapi nanti kalo nggak nyambung sama aku gimana?"
"Udah jangan terlalu dipikirin, anggap aja nyicil PDKT"
"Ish, kamu"
"Kantin yuk, laper banget aku". Ajak Siska.
"Tapi aku pengen ke perpustakaan, Sis. Kamu makan sendiri nggak apa, kan?"
"It's ok, ngga apa. Aku ke kantin dulu, ya, nanti kalau masih ada waktu aku nyusul kamu ke perpustakaan"
Mereka berpisah di persimpangan pintu kelas, yang satu ke arah kanan yang satu ke arah kiri.
Diperjalanan menuju perpustakaan. Ada seseorang yang dengan tiba-tiba menyeret tangannya. Membawanya ke depan gudang yang ada di belakang perpustakaan.
"Diana lepasin!, sakit!"
Diana jongkok memegang dan menekan dagu diana keras "Tukar kelompok sama gue!". Ucapnya marah.
Dengan santai tetapi penuh tenaga Hira menepis tangan itu dan berdiri membersihkan roknya yang kotor. Membuat Diana bertambah marah padanya.
"Minta sama Gata dan bilang sendiri ke bu Dewi. Kalau beliau acc, aku juga nggak masalah"
"Lo yang harus bilang. Bilang kalau lo nggak mau satu kelompok dengan Gata"
"Kalau Gue nggak mau, gimana?". Tanyanya menantang.
"Kurang ajar!, jangan gatel deh jadi cewe, lo gunain kesempatan ini buat goda Gata, kan!"
"Kalau mau menghardik diri sendiri itu lebih baik di depan kaca. Bukannya elo yang ngejar-ngejar Gata?, udah nggak pernah direspon masih nekat ngejar terus, kasihan banget sih, lo"
"Brengs*k!". Ucapnya marah.
Diana mengangkat tangannya hendak menampar Hira. Tapi belum sempat tangan itu mendarat di pipi Hira. Posisi itu lebih dahulu dibalik menjadi Hira yang mendaratkan tangannya di pipi Diana.
Plak!
"Aku peringatin ke kamu, berhenti mengusikku. Batas toleransiku sudah habis dan jangan sampai kamu melihat sisi monster yang ada dalam diriku". Setelah mengatakan itu, Hira melenggang pergi dengan sedikit tertatih karena lecet di lututnya terasa perih.
Hira sudah berjanji pada mamanya kalau Diana berani main fisik maka Hira akan melawannya. Dan Hira membuktikan perkataannya hari ini.
"Sial, beraninya dia!". Teriaknya marah dengan memegang pipi kanannya yang ditampar Hira.
Hira tetap melanjutkan ke tujuan awalnya, perpustakaan. Duduk di kursi dekat dengan Ac untuk mendinginkan amarah yang melanda dirinya. Melihat lagi luka yang ada di telapak tangan dan lututnya.
Tak.
Bunyi benda yang diletakkan di meja tepat di hadapannya. Kotak P3K?. Hira mendongak untuk melihat siapa yang meletakan kotak obat itu.
"Gata?". Ucapnya tidak percaya.
'Kenapa dia selalu muncul disaat aku dalam keadaan mengenaskan sih?'. Bantin Hira.
"Bersihkan dulu pakai air, nanti kubantu obati"
"Nggak usah, ini cuma lecet dikit kok". Jawabnya acuh.
"Lo nunggu infeksi dulu baru diobati?. Bersihkan, gue tunggu di sini"
"iya". Hira memutuskan untuk menuruti maunya Gata. Kalau difikir-fikir ngeri juga kalau sampai infeksi.
Hira kembali masuk setelah membersihkan lukanya dikeran yang ada di depan perpustakaan.
Kedua tangannya langsung diambil Gata dan diletakan di atas meja. Gata mulai mengoleskan salep khusus luka goresan. Dan menutupnya dengan plaster.
"Aku bisa sendiri, Ta". Tidak ada jawaban. Gata masih fokus dengan apa yang dilakukannya.
"Sttt". Rintih Hira. mulai merasakan perih ketika salep itu bersentuhan dengan kulitnya yang terluka.
"Gue suka cara lo melawan Diana tadi".
"Kamu mengikutiku?".
"Kebetulan gue ada di sana dan melihatnya"
"Lalu di toilet waktu itu, kamu juga kebetulan?".
Gata tidak menjawabnya. Hanya mengubah posisinya menjadi jongkok di depan lutut Hira untuk mengoboti luka yang ada di disana.
"Gata, jawab". Desaknya
"Apa?"
Kamu mengikutiku?". Tanyanya sekali lagi.