
Sekembalinya Gata, Hira membulatkan tekadnya untuk bertanya sesuatu yang sudah menggganggunya sejak lama.
"Gata, aku mau bicara sebentar".
"Katakan".
"Kita pindah tempat duduk yuk"
"Disini aja".
Hira terdiam beberapa saat. Mengapa respon Gata seperti itu?. Begitu dingin, terkesan acuh. Hira kembali melihat Gata yang dulu.
"Waktu kecil, apa kamu pernah ke Surabaya?".
"Pernah".
"Apa kamu juga pergi ke taman?"
"Iya"
"Apa kamu bertemu dengan anak kecil yang sedang melukis?".
"Tidak"
"Waktu pertama kali aku berkunjung ke rumahmu, aku melihat bingkai foto. Disana ada dua orang anak kecil yang terlihat sedang melukis".
"Lalu?".
"Aku kenal dengan baju yang dipakai anak perempuannya. Mirip seperti baju yang aku miliki, bahkan aku masih menyimpannya hingga saat ini".
Dengan lirih Hira bertanya. "Apa perempuan difoto itu aku, Ta?"
"Bukan". Jawabnya begitu datar, sama seperti saat mereka baru bertemu.
"Lalu, siapa dia?"
"Adikku"
"Adik?. Sejak kapan kau punya adik, nyet?". Sahut Tomy walaupun terkesan tak peduli, tetapi sedari tadi Tomy menyimak percakapan mereka.
"Kamu punya adik, Ta?. Aku tidak pernah melihatnya Dimana dia?". Hira juga dibuat bingung dengan pernyataan Gata.
"Bukan urusanmu". Jawab Gata dingin mengintimidasi.
"Aku cuma bertanya, kalau kamu tidak mau menjawab ya sudah aku tidak memaksa".. Hira membalas tatapan Gata. Persis ketika ia berhadapan dengan Gata yang dulu.
"Bagus!". Gata menyimpitkan matannya, mencondongkan wajahnya tepat didepan Hira. "Apa masih banyak rasa penasaran dihatimu tentangku?".
"Maksudmu?".
Gata meletakan sebuah notebook berwarna hitam tepat didepan Hira. Rasa kaget tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.
Mengapa notebook itu bisa ada di Gata?. Darimana Gata mendapatkannya?.
"Kamu mengambil barang pribadiku, Ta?".
"Gue nggak sengaja melihat barang pribadimu itu. Saat itu gue mau lihat sketsa yang lo buat". Gata memberi jeda sebentar. "Dan lo memang seceroboh itu meletakan Diary yang nggak penting diatas meja, jadi wajar jika aku penasaran dan membacanya, kan?". Senyum smirk tercetak jelas diwajah Gata.
"Ya walaupun aku ceroboh dengan meletakannya di meja tapi kamu juga nggak punya hak untuk sembarangan membacanya, Ta". Hira tidak segan mengeluarkan suara yang sedikit meninggi.
"Telat, gue udah terlanjur membacanya". Gata tersenyum sebentar, senyum mengejek.
"Ternyata lo sangat torobsesi ya sama gue?".
Kini Hira melihat pandangan Gata yang tidak seperti biasanya. "Bahkan lo mencatat semua hal detail tentang hidup gue, segitunya?". Gata tersenyum mengejek.
Hira tidak menjawab apapun, pun tidak membela dirinya. Seberapa keras ia membela dirinya itu tidak ada artinya sama sekali.
Gata sudah terlanjur membaca yang ia tulis dalam buku miliknya. Dan apa yang Gata katakan benar-benar menyudutkan dirinya.
"Gue bukan Argata yang lo cari, gue bukan Argata yang menemui lo di taman waktu masih kecil,
Perempuan kecil yang ada difoto rumahku, itu adikku. Perihal baju, bukan hanya lo yang punya baju motif bunga dandelion seperti itu
Almahira Karindra. Gue minta lo berhenti mengusik hidup gue, berhenti ngikutin gue, lo nggak lebih dari penguntit yang terobesi membuktikan sesuatu yang nggak penting".
"Gata sudah". Lerai Siska yang sudah tidak tahan melihat Siska terus dipojokan oleh Gata.
"Ya, Sis, gue sudah terlalu lama ngebuang waktu disini". Gata tersenyum sebentar. "Kita pulang, aku antar kamu pulang".
"T-tapi".
"Sayang, aku antar kamu pulang, oke?"
Deg!! Sayang?. Gata manggil Siska dengan sebutan sayang?. Ada apa ini?.
"Oh atau kamu perlu waktu buat bicara sama temanmu itu?. Sekalian aku minta tolong, bilang padanya untuk jangan lagi mendatangiku dan mengusik hidupku".
Gata melirik Hira sekila. "Aku tunggu kamu diparkiran ya sayang, jangan lama-lama, aku tidak mau kamu terpengaruh olehnya". Gata mulai melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu.
"Tunggu!". Teriak Hira menghentikan langkah Gata.
Hira berjalan menju Gata yang berdiri tanpa menoleh padanya. Hira menempatkan dirinya tepat didepan Gata. Menatap mata lelaki itu begitu tajam. Tidak kalah dengan tajamnya mata Gata menatap dirinya.
"Pertama, bukan aku yang mendatangimu tetapi kamu yang mendatangiku. Aku tidak meminta jaketmu waktu itu aku juga tidak minta kau mengobati lukaku waktu itu.
Tetapi kau sendiri yang datang padaku memberikan jaketmu dan mengobati lukaku. Jadi, bukan aku yang mengusikmu karena kamu sendiri yang datang padaku, bukan aku yang mendatangimu.
Kedua, benar aku memang terobsesi padamu. Aku terobsesi untuk mencari tahu tentang dirimu karena namamu yang begitu mirip dengan lelaki kecil yang menemuiku di taman waktu itu. Aku minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman.
Ketiga, tanpa perlu kamu menyuruhku, aku juga tidak akan mendekatimu lagi. Aku tidak akan mengganggumu maupun mengisuk hidupmu seperti yang kamu bilang.
Tetapi satu hal yang harus kamu camkan dan ingat baik-baik yaitu bahwa kamu yang mendatangiku bukan aku yang mendatangi".
Hira mengalihkan perhatiannya pada Siska. Ia menghampiri Siska yang berdiri mematung menatapnya. Matanya berkaca menatap Hira berjalan kearahnya.
"Maafkan aku yang tidak menyadari hubunganmu dengan Gata. Andai kamu bilang dari awal, aku akan menuruti keinginanmu untuk tidak penasaran dengannya, Sis. Maafkan aku".
Hira melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu. Saat ada didepan Gata ia menghentikan langkahnya sebentar.
"Sampai jumpa, Ta, aku senang mengenalmu". Hira mengucapkan itu tanpa melihat Gata sedikutpun.
Tanpa ada yang tahu ia menjatuhkan air matanya tepat ketika ia benar-benar melangkah keluar. Perlahan punggungnya tidak lagi terlihat seiring ia keluar dari pintu utama restoran.
Arhan berjalan kearah Gata yang masih berdiri diposisinya semula. "Gue nggak pernah lihat lo sepengecut ini, Ta".
"Diam, bodoh".
"Lo yang goblok ta. Lo bukan Gata yang gue kenal".
"Tau apa lo tentang gue, ha?"
"Gue tahu semuanya. Lebih tahu dari yang lo tahu. Dan gue kecewa melihat lo menyikapi keadaan dengan cara seperti ini. Pengecut!".
"****, gue bilang diam".
Arhan melihat kearah Siska, yang ternyata Siska juga tengah menatap kearahnya. Tersirat pandangan kecewa dari sorot mata Arhan padanya. Dan itu membuat Siska semakin gusar.
Arhan kembali menatap Gata. "Lo akan menyesal setelah mengambil keputusan kekanakan seperti ini". Arhan meninggalkan tempat itu, sedikit membawa langkahnya berlari.
"Sial!".
Di tepi jalan raya. Hira sibuk melihat ponselnya. Memesan taksi online yang bisa mengantarkannya pulang malam ini.
Sayup-sayup Hira mendengar suara motor sport dibelakang yang terdengar semakin dekat. Tetapi Hira tidak punya niat menoleh kebelekang untuk memastikan siapa yang mengendarai motor itu.
"Gue antar pulang, Ra". Ucap suara seorang lelaki tepat setelah ia berhenti didepan Hira.