
Bunda mengusap kedua matanya memastikan air matanya sudah tidak ada kemudian melepas pelukan itu.
"Terimakasih, nak Hira, maaf membuatmu tidak nyaman"
"Tidak apa tante. Tante bisa memeluk Hira lagi kalau tante mau".
"Nama tante Mirna. Ng, kalau kamu mau, kamu bisa manggil tante bunda, seperti Arga, Maksud bunda, seperti Gata".
"Hng?"
"Tapi kalau kamu nggak mau, nggak apa. Senyaman kamu aja". Hira hanya tersenyum.
"Bunda masih kurang apa belanjanya?. Ayo, Gata temenin". Tanya Gata, mengalihkan obrolan canggung yang terjadi antara Hira dan bundanya.
"Sudah kok, ini tinggal ke kasir terus pulang"
"Mau Gata antar, bun?"
"Nggak usah, bunda sama sopir kesini. Kamu lanjutin aja belanjanya sama Hira. Bunda ke kasir dulu". Bunda menatap Hira. "Senang bertemu dengan kamu, nak Hira. Kapan-kapan berkunjunglah ke rumah bunda, ya".
"Insya Allah, bunda". Jawab Hira. Membuat hati bunda terasa berbunga. Lalu kembali menjatuhkan air matanya tanpa diminta.
Tanpa Izin pada Hira terlebih dahulu, bunda langsung memeluk Hira lagi. Singkat, hanya untuk mengungkapkan rasa bahagianya juga resahnya.
Tidak mau membuat suasana semakin melankonis. Bunda bergegas ke kasir meninggalkan Hira yang menatap bingung dan Gata yang menatapnya gusar. Sebelum Hira melihat tatapan gusarnya, Gata dengan cepat mengubah tatapan acuhnya lagi.
"Pasti orang yang namanya mirip denganku itu sangat berarti buat bunda, ya?". Tanya Hira.
"Hmm". Gata mengangguk.
"Sudah dapat plastisinnya?". Gata menunjukkan tanganya yang memegang plastisin berwarna warni.
"Oke, sekarang tinggal cari bola kecilnya".
Tinggal mencari satu objek yang dibutuhkan. Mereka jalan bersama. Jika dilihat saat adegan seperti itu, membuat mereka terlihat cocok seperti pasangan kekasih yang sedang berbelanja bersama.
Setelah mengantri di kasir untuk membayar. Mereka keluar dari tempat perbelanjaan tersebut dengan menenteng dua kantong plastik dengan ukuran yang berbeda.
Mereka munuju parkiran untuk mengambil motornya masing-masing.
"Ngga usah diantar, Ta, aku pulang sendiri aja". Ucap Hira yang sedari tadi menunggu Gata menawarinya untuk mengantar pulang.
"Oke". Setelah menjawab dengan jawaban singkat itu, Gata melajukan motornya meninggalkan Hira.
"Ishhh, bener bener ya tuh anak. Biasanya tuh, umumnya cowok nawarin cewek buat nganter pulang. Eh ini bukannya ditawarin, dikodein dikit malah jawabanya cuma 'oke' doang habis itu ditinggal lagi, ishhh. Nyebelin banget". Gerutu Hira. Mulai melajukan motornya.
***
Di sebuah rumah dengan cat warna putih yang mendominasi. Di ruang kerja terlihat seorang lelaki yang duduk melihat laptop yang ada didepannya.
Mahendra, yang biasa disapa Hendra. Fokusnya teralihkan dengan kedatangan istrinya yang terdengar sesenggukan.
"Ada apa?". Tanya Hendra mengampiri istrinya. Membawanya menuju sofa, Hendra mengambil segelas air putih untuk istrinya.
"Tenanglah dan katakan ada apa?"
"Aku menemukannya, mas, hikss".
"Menemukan siapa?"
"Almahira Karindra, hikss hikss". Perempaun itu memeluk suaminya. Menangis dengan kencang.
Degg!. Sama seperti istrinya. Degup jantung Hendra juga berdegup kencang tak beraturan mendengar nama itu.
"Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, mas".
"Dimana kamu melihatnya?". Tanyanya yang mulai sedikit bergetar.
"Tadi waktu aku belanja. Aku bertemu dengannya, dia sedang berbelanja keperluan kelompok bersama dengan Arga, mas. Mereka satu sekolah bahkan satu kelas hikss".
"Mungkin ini saatnya aku menebus kesalahanku pada mereka, Sayang".
"Itu sudah hal yang pasti terjadi".
"Lalu bagaimana jika mereka mengambil jalur hukum?".
"Itu yang terbaik, sayang. Aku sudah lari dari kesalahan, membawa rasa sesal dalam hatiku selama bertahun-tahun. Ijinkan aku bertanggung jawab atas kesalahanku, Sayang. Bahkan rasanya penjara saja tidak cukup untuk menghukumku".
"Masss, Aku tidak siap untuk itu hikss". Tangisnya semakin pecah. "Kumohon jangan sekarang, mas"
"Jika bukan sekarang lalu kapan?. sampai kapan aku harus lari dari kesalahanku?".
"Mas, tidakkah mas juga berpikir yang sama denganku?. Putra kita baru kali ini pergi berdua dengan seorang perempuam, selain denganku"
"Kamu ingin mengatakan, jika putra kita menyukainya, begitu?". Mirna mengangguk.
"Lalu?"
"Mengapa tidak jodohkan saja mereka, mas. Kita bisa menyayangi Hira seperti anak kita untuk menebus kesalahanmu di masa lalu".
"Omong kosong apa itu". Hendra berdiri. "Jika dengan cara seperti itu, mereka tidak akan mendapat keadilan, Mirna. Mereka justru akan merasa dibohongi".
"Apa kamu tega membuat putramu dibenci oleh orang yang dicintainya, mas?". Mirna menghampiri suaminya yang berdiri didepan jendela ruang kerjanya.
"Apa maksudmu?"
"Saat mas mengakui kesalahan yang mas buat di masa lalu. Rumi tidak hanya akan membencimu, tetapi juga putra kita. Dan aku pastikan begitupun juga dengan Hira yang akan membenci Arga, mas".
"Lalu, mas harus bagaimana?"
"Jangan mengatakannya sekarang, mas". Ucap Mirna memohon.
Hendra sedikit memikirkan apa yang istrinya katakan padanya. Dan pada akhirnya Hendra memutuskan untuk mengikuti bujukan istrinya. Mungkin bukan sekarang waktu yang tepat.
Hatinya begitu gundah dan resah. Hendra memeluk istrinya untuk sedikit menenangkannya. Tanpa sadar air matanya jatuh ketika ia sudah memeluk istrinya.
"Rasa sesal ini begitu menyesakkan dadaku, sayang". Ucapnya nyaris tak bersuara.
***
Pukul 17.30, suara motor sport terdengar berhenti di parkiran sebuah rumah yang terlihat mewah di kompleks perumahan miliknya.
Kedatangannya di sambut oleh kedua orang tuanya yang sedang menonton televisi. Gata menyalami kedua orang tuanya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa mengatakan apapun.
"Sejak kapan kamu bertemu dengannya?".
"Sudah lama". Jawabnya acuh tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada Ayah?"
"Untuk apa?". Acuhnya.
"Berhentilah sebentar, Arga, Ayah sedang berbicara denganmu". Sahut bunda yang tidak suka dengan cara anaknya bersikap.
Gata menghentikan langkahnya, berbalik arah menuju sumber suara yang begitu ia sayangi. Gata mencium kening bunda dengan lembut.
"Gata capek bunda, Gata istirahat dulu, ya. Untuk makan malam nanti Gata nggak bisa turun, jadi bunda jangan menunggu Gata, ya. Nanti Gata minta tolong bibi untuk mengantar makananya ke kamar Gata". Sebelum pergi, Gata mencium lagi kening bunda. Dia seakan mengabaikan keberadaan Ayahnya yang ada disamping bunda.
"Putraku masih marah padaku". Ucapnya lirih terdengar sendu.
"Sabar, Mas. Itu juga bukan maunya Arga. Dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Biarkan dia menyembuhkan kecewanya terlebih dahulu". Sahut Mirna tidak berhenti mengusap dada suaminya yang merasa risau.
"Maafkan aku".
"Mass". Mirna memeluk suaminya, kembali air mata itu menetes di pipi Mirna.
Jika Gata tahu air mata itu kembali membasahi pipi Bundanya, maka bisa dipastikan Gata tidak akan tinggal diam.
Untuk itu Mirna segera menghapus air matanya. Walaupun dia tahu Gata tidak mungkin melihatnya sekarang tetapi Mirna hanya tidak mau hal menyedihkan terjadi lagi di rumah itu.