Alhan & Tasya

Alhan & Tasya
JALAN JALAN




...????????? ¿???????...


Malamnya, Tasya telah siap siap pergi ke rumah Fitri untuk meminjam motor miliknya. Karena kost dan rumah Fitri lumayan dekat, jadi Tasya tidak perlu jalan terlalu jauh untuk pergi ke rumah Fitri.Tak lama setelah itu Tasya sampai di rumah Fitri, kemudian Tasya memanggil Fitri yang ada di dalam rumah.


"Fitri." panggilnya.


Kemudian setelah itu Fitri pun langsung keluar menghampiri Tasya yang ada di luar di rumah.


"Cantik banget lo, kek mau kencan aja." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Emang mau kencan, tapi sama temen bukan sama pacar." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Lama lama juga lo suka sama dia."


Kemudian Tasya tersenyum, "Apa apaan sih Fit, baru aja pertama jalan."


"Tapi itu teman sma lo kan?."


"Iya Fitri."


"Lo percaya kan sama dia."


"Ya percaya lah dia orang baik kok. Kenapa lo jadi khawatir gini sih?."


"Ya gua khawatir aja sih, takutnya nanti lo di apa apain sama dia, terus lo hamil." belum saja selesai bicara Tasya memotong.


"Terus punya anak, habis itu nikah gitu." potongnya dengan tersenyum.


"Enteng banget omongnya Sya. Kalau beneran terjadi baru menyesal nanti lo."


"Gak boleh suudzon sama orang lain, gak baik tau gak."


"Terserah lo aja deh, pokoknya hati hati aja ya Sya."


"Iya Fit. Aku juga yakin kok kalau dia orang baik."


Kemudian Fitri mengeluarkan kunci motornya dari saku celananya.


"Ini Sya kunci motor gua." ucapnya sembari memberikan kunci motornya.


"Makasih ya Fitri." ucap Tasya.


"Iya Sya, hati hati loh Sya malam malam ini." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Iya Fit.Yaudah gua berangkat dulu ya, takutnya Alhan udah nungguin lagi."


"Iya Sya.Selamat bersenang senang, dan selalu waspada loh"


"Iya Fitri."


Kemudian Tasya menaiki motor Fitri yang ada di depan rumahnya dan kemudian langsung berangkat menuju ke rumah kontrakan milik Alhan. Sementara Fitri langsung masuk kembali ke rumahnya.


........................


Setelah beberapa menit akhirnya Tasya pun sampai di alamat yang di kirimkan oleh Alhan, namun di depan rumah tidak ada Alhan dan pintu kamarnya juga tertutup. Tasya memarkirkan motor di depan rumah itu,lalu Tasya pun turun dari motor dan kemudian langsung mendekati pintu rumah itu.


"Ini beneran rumah Alhan gak sih."


Kemudian Tasya pun mengetuk pintu rumah itu, beberapa kali sembari menanggil nama Alhan. Namun beberapa kali dia mengetuk, sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.


"Gimana sih Alhan, apa jangan jangan salah rumah lagi,tapi ini bener alamat yang di kirimkan Alhan tadi kan."


Kemudian Tasya membuka handphonenya dan mengecek kembali kiriman lokasi Alhan.


"Tuh kan bener ini rumahnya gimana sih Alhan."


Tasya pun bimbang antara dia kembali ke rumah, atau tetap di sini menunggu Alhan keluar dari rumah yang ada di depannya ini.Hingga Tasya pun kepikiran untuk menelpon Alhan siapa tau dia mau mengangkat.


"Aku telpon aja deh dia."


Kemudian Tasya menelpon Alhan.


"Untung deh berdering." ucapnya dengan tersenyum bahagia.


Bukannya di jawab melainkan di tolak.


"Anjir di tolak, napa sih nih anak, bilang gak mau juga gak apa apa kali, mana aku udah dandan cantik banget gini lagi." ucapnya dengan raut wajah kesal.


Tak lama setelah itu, tiba tiba ada yang membuka pintu dari dalam rumah yang ada di depannya itu. Yang ternyata itu adalah Alhan yang membuka pintu, terlihat Alhan yang terlihat habis bangun tidur.


"Baru bangun tidur ya kamu?."


"Iya Sya maaf aku ketiduran.Kamu udah nunggu lama ya."


"Gak juga sih, cuma panik aja kamu di panggil gak ada suara dari dalam. Takutnya salah alamat."


"Gak kali udah bener." ucapnya dengan menguap dan raut wajah yang menunjukkan bahwa dia begitu lemas.


"Masih ngantuk ya, gak apa apa kali kalau gak jadi. Lanjutin tidurnya aja."


Setelah mendengar perkataan itu, Alhan pun langsung berusaha untuk membuka matanya lebar lebar, "Gak kok Sya gak aku ngantuk, jadi kok tenang aja."


"Beneran?."


"Iya Sya. Tungguin dulu ya, aku mau sholat sama mandi dulu."


"Iya aku tungguin.cepetan." ucapnya dengan tersenyum.


"Ayo masuk dulu Sya, takutnya nanti kamu masuk angin lagi."


"Iya Han, makasih."


.............................


Setelah beberapa menit berlalu Alhan pun telah siap, dengan jaket merah putih miliknya yang di beri kakaknya saat smp dulu, serta bersarung berwarna hijau.


"Ayo Sya."


"Kamu pakai sarung gini aja."


"Iya.Gak boleh ya."


"Boleh kok." ucapnya kemudian berdiri.


Alhan pun senyum senyum gak jelas ke Tasya,hingga membuat Tasya pun bingung.


"Ngapain kamu senyum senyum gitu Han?."


"Kamu kok cantik banget ya Sya."


"Baru tau kamu." ucapnya dengan tersenyum.


"Anak siapa sih kamu?."


"Anak bapak sama ibu.Apaan sih Alhan malah ngegombal, ayo berangkat."


Kemudian mereka berdua keluar dari rumah kontrakan Alhan, tapi sebelum pergi Alhan terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya.


"Han kamu yang nyetir ya."


"Iya Sya.Tapi kemana dulu nih?."


"Makan aja kali ya, bakso bakso atau mie ayam gitu. Tapi aku yang bayarin tenang aja."


"Gak usah kali Sya."


"Kan aku yang ngajak, jadi aku yang bayarin lah Han."


"Gak usah Sya."


"Gak apa apa Han."


"Gak Sya."


"Please Alhan, kali ini aja." ucapnya memaksa.


"Iya deh Sya." ucap Alhan setuju.


........................


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka berdua pun sampai di warung bakso dan mie ayam yang ada di pinggir jalan. Mereka berdua pun langsung turun dari motor.


"Mie ayam atau bakso kamu Han."


"Hmm, mie ayam aja deh keknya lebih kenyang."


"Oke."


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam warung itu.


"Pak, mie ayamnya dua ya."


"Minumnya neng?."


Kemudian Tasya menoleh ke arah Alhan, "Kamu mau minum apa Han?."


"Teh hangat aja."


"Teh hangat."


Kemudian Tasya menoleh lagi ke arah penjual itu,"Pak,minumnya teh hangat dua."


"Iya neng."


Kemudian mereka berdua pun duduk di kursi yang ada di dalam warung itu dengan saling berhadapan.


"Han makasih ya udah mau temenin aku."


"Santai aja kali, sama makasih juga udah traktir aku."


"Iya Han."


"Aslinya pengen sih Han, tapi ya aku ngumpulin uang dulu buat daftar kuliahnya."


"Semangat ya Sya."


"Iya Han selalu, tapi kamu juga gak pengen kuliah?."


"Pengen sih Sya, tapi gak ada biaya."


"Sama dong kita Han."


"Ya gitu deh Sya."


"Han enak gak ngontrak di situ."


"Enak loh Sya, tetangganya ramah ramah lagi."


"Enak ya Han."


"Kamu pengen tinggal sama aku Sya?."


"Gak kali Han, entar di sangka buat yang aneh aneh lagi sama tetangga kamu." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya juga sih Sya." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Tapi kenapa kamu gak ngajak teman kamu aja?, Arda atau siapa gitu?."


"Gak ada yang mau Sya. Kalau kamu kenapa gak ngajak teman kamu juga?."


"Sama aja sama kamu, gak ada yang mau."


"Emang susah sih hidup jauh dari orang tua."


"Iya Han. Aku jadi kepikiran ayah sama ibu terus."


"Jadi ingat rasanya saat di pesantren dulu aku."


"Kamu pernah mondok Han?."


"Pernah tapi ya, cuma tiga tahun."


"Waktu smp kan ya?."


"Iya Sya, waktu aku masih sangat kecil kala itu."


"Enak gak Han di pesantren?."


"Ada enaknya dan ada gak enaknya sih." ucapnya.


"Enaknya apa terus gak enaknya apa?."


"Kalau enaknya banyak, dan gak enaknya juga banyak."


"Beri contoh salah satu dong."


"Contoh enaknya, punya banyak teman jadi gak kesepian. Terus contoh gak enaknya, apapun harus ngantri dan sering kehilangan barang juga."


"Gitu ya ternyata.Maklum sih gak pernah jadi santri, jadi gak tau."


"Ngomong ngomong kamu pengen gak punya suami santri?." tanya Alhan dengan tersenyum.


Seketika Tasya pun kaget dengan pertanyaan Alhan, "Kok nanyanya gitu Han." ucapnya.


"Misal aja sih, kamu mau gak."


"Kalau sama seorang santri, diri aku ini merasa gak pantas Han. Lebih baik aku punya suami yang benar benar cinta dan bangga memilikiku itu sudah cukup bagiku." ucapnya dengan tersenyum "Dan aku tak mau berekpetasi lebih tinggi lagi, ada yang seperti itu aku udah bersyukur kok Han." lanjutnya.


"Kalau aku juga sama sih Sya, sama seperti yang kamu inginkan."


Tak lama setelah itu penjual mie ayam itu datang mengantarkan mie ayam pesanan mereka berdua yang sudah jadi.Penjual itu menaruh kedua mie ayam dan juga teh hangat itu di atas meja, yang ada di depan mereka. Setelah melakukan itu penjual itu pun langsung pergi.


"Selamat makan Alhan."


"Iya Tasya."


Kemudian mereka menikmati mie ayam itu dengan begitu bahagia.


.................


Setelah selesai jalan jalan, Alhan dan Tasya pun sampai di rumah kontrakan Alhan.


"Sya tidur sini aja ya, udah larut malam soalnya." ucapnya.


Seketika Tasya kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut Alhan, "Kamu gila apa Han, nanti kalau tetangga lihat gimana, nanti bisa timbul fitnah yang gak gak."


"Gak apa apa kali.Lagian aku khawatir sama kamu, takut nanti di begal lagi." ucapnya, "Kost kamu lumayan jauh loh dari sini." lanjutnya.


Tasya yang juga takut dengan ucapan Alhan pun, terpaksa menerima permintaan Alhan.


"Iya Han kalau gitu."


"Kamarnya juga ada dua kok, kamu kan bisa tidur di kamar satunya."


"Iya Han."


"Aku masukin motornya."


..........


Setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah dan telah memasukkan motornya di ruang tamu. Alhan pun mengunci pintu rumahnya.


"Ada televisinya kok kamu bisa nonton televisi juga."


"Iya Han."


"Aku mau tidur dulu ya udah ngantuk nih."


Alhan pun masuk ke dalam kamarnya ,sementara Tasya menuju ke ruang yang ada televisinya untuk menonton televisi. Kemudian Tasya duduk di depan televisi, lalu dia mencopot kerudungnya terlihat rambut panjangnya yang berwarna, berpaduan antara hitam dan juga pirang.


"Enak ya Alhan dapat kontrakan yang bagus kek gini."


Kemudian Tasya menyalakan televisinya,pertama kali yang muncul di televisi adalah film kesukaanya.


"Wah pas banget gak sih ada film kesukaanku."


Kemudian terdengar suara pintu terbuka dari kamar Alhan. Setelah itu Alhan berjalan perlahan lahan menghampiri Tasya yang sedang asik menonton televisi.


"Sya." panggilnya.


"Iya Han."


"Rambut kamu, kamu warnain ya?."


"Iya Han, bagus gak."


Kemudian Alhan duduk di samping Tasya.


"Bagus kok."


"Makasih Alhan."


Kemudian Alhan melihat ke arah televisi, "Ini film apa?."


"Film titanic."


"Oh titanic."


"Iya, kamu gak pernah lihat ya?."


"Gak tuh."


"Yaudah sini temanin aku lihat ini aja."


Mereka berdua pun sama sama menonton film itu.


"Sya." panggilnya.


Tasya menoleh ke Alhan."iya Han."


"Kalau kita suami istri enak kali ya, jadi aku ada temannya tinggal di rumah ini." ucapnya dengan tersenyum.


Seketika Tasya pun terkejut, "kamu ngomong apaan sih Han." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi mana mau kan, cewek cantik seperti Tasya mau jadi istri aku."


"Han, please deh,bisa gak sih, gak ngomong yang aneh aneh gitu."


"Kalau emang kita jodoh gimana?."


"Apaan sih Han."


"Jawab Sya!." serunya.


"Hmm, ya aku jadi istri kamu, kamu jadi suami aku lah."


"Yaudah." ucap Alhan santai.


"Ga jelas deh kamu Han."


"Jelas kok."


"Yaudah kita tonton film ini aja, jangan bicara yang aneh aneh lagi."


"Sya tadi bercanda loh."


"Iya Han."


Kemudian mereka menonton film yang tayang di televisi itu.