
.......
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Keesokan paginya Alhan pun masih tertidur pulas di kamar dan istrinya pun mencoba untuk membangun dirinya.
"Mas bangun mas, udah jam 5 ini loh." Tasya menggoyang bahu suaminya yang masih tertidur pulas.
"Apasih dek, gangguin orang tidur aja." Alhan berbicara dengan mata yang masih tertutup.
"Mesti ya, kalau habis kegiatan selalu susah banget di banguninnya."
"Bisa diem gak." ucapnya dengan mata yang masih tertutup.
"Yaudah aku pergi aja, bangun gak bangun terserah kamu mas, pokoknya aku gak masak hari ini."
Setelah itu mata Alhan terbuka lebar mendengar ucapan istrinya itu. "Kok ngambek." ucapnya.
"Gak, gak ngambek kok." ucapnya dengan tersenyum.
"Terus apa kalau gak ngambek gitu."
"Aku nesu mas." Tasya tersenyum.
"Sama wae anjir." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Alhan duduk di kasur kamarnya. "Kok udah cantik banget gini, mau kemana sih dek?." Alhan penasaran melihat istrinya yang sudah memakai kemeja dan berdandan cantik, padahal biasanya istrinya kalau pagi pagi masih memakai daster.
"Mau ke pasar lah mas." jawabnya.
"Oh ke pasar." ucapnya dengan anggukan pelan.
"Kamu mandi dulu gih, terus sholat." suruhnya, "Terus aku tak ke pasar dulu."
"Sendirian kamu ke pasar?."
"Nggeh mas." Tasya tersenyum.
"Naik motor atau jalan kaki?. "
"Naik motor lah mas, masa ke sana jauh gitu jalan kaki." ucapnya, "Kan aku jadi capek."
"Alay banget." ledeknya.
"Gak alay kok, emang kenyataannya gitu sayang." Tasya tersenyum.
Setelah itu Tasya memakai hijabnya yang di taruhnya di meja, Alhan bahagia melihat istrinya yang makin cantik ketika memakai hijab, bagaikan ada nilai lebihnya tersendiri.
Setelah itu Tasya menghampiri suaminya, "Mas aku pamit dulu ya." setelah itu Tasya mencium tangan suami yang paling di cintainya itu.
"Hati hati loh dek bawa motornya."
"Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Tasya pun keluar dari kamarnya dan berjalan perlahan keluar rumah. Tapi sebelum keluar Tasya terlebih dahulu mengambil tas anyamannya untuk di gunakan sebagai wadah barang belanjaannya nanti. Namun setelah itu terdengar suara wanita yang memanggilnya dari luar rumah.
Dia pun langsung menghampiri wanita itu. Wanita cantik dengan rambutnya yang di ikat ke belakang, serta memakai kemeja warna hitam dan celana jeans warna biru, raut wajahnya terlihat begitu bahagia.
"Ada apa kak?, tumben pagi pagi kesini." Tasya tersenyum.
"Kamu ke pasar gak Sya?." tanyanya.
"Iya kak, kakak mau titip ya?."
"Gak, tapi kamu sendirian kan?."
"Iya kak, suami aku belum mandi soalnya." Tasya tersenyum ke wanita itu.
"Kalau gitu, aku boleh ikut gak Sya?." Clarista tersenyum.
"Tumben aja sih kak Clarista mau ke pasar,biasanya cuma nitip." ledek Tasya dengan tersenyum.
Clarista tersenyum mendengar perkataan Tasya, "Ya pengen aja sih Sya, soalnya aku lagi bahagia banget." raut wajahnya tampak terlihat bahagia.
"Bahagia kenapa tuh kalau boleh tau?." Tasya penasaran.
"Aku hamil Sya." ucapnya dengan raut yang begitu bahagia.
Mendengar ucapan itu, Tasya pun ikut senang, wanita yang kini telah di anggap sebagai kakaknya sendiri itu kini sudah hamil dan beberapa bulan lagi akan memiliki momongan. Tapi di sisi lain, Tasya pengen sekali punya anak,dia yakin hidupnya pasti lebih bahagia ketika sudah memiliki buah hati.
"Selamat ya kak, jadi ikut bahagia dengernya." Tasya tersenyum ke arah Clarista.
"Makasih ya Tasya." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah kak ayo berangkat ke pasar, takutnya kesiangan lagi nanti." ajaknya.
"Iya Sya, tapi bentar aku ngambil tas aku dulu ya."
........... ...
"Bahagia banget ya kak?." Tasya terus mengendarai motor milik suaminya itu sementara Clarista duduk di belakangnya.
"Iya dong Sya, kan habis aku mau punya anak." ucapnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Fitri udah tau, kalau kakak hamil?."
"Belum sih belum aku kasih tau." jawabnya.
Tasya yakin suatu saat nanti pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Clarista namun dia harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa merasakan apa yang di rasakan Clarista. Namun begitu Tasya dan Alhan akan tetap sabar menunggu, walaupun keinginan mereka begitu tinggi.
Tak lama setelah itu mereka sampai di pasar,seperti biasa Tasya bertemu dengan pak Wito yang sedang duduk di pos yang ada di parkiran pasar itu.
"Pak Wito." panggilnya.
"Eh Tasya sama Clarista, tumben gak sama suaminya?." tanyanya.
"Gak pak, suaminya baru bangun tidur tadi." ucapnya dengan tersenyum.
"Oh."
"Fitri di rumah pak?."
"Tadi saat saya berangkat kesini sih masih menyapu di depan rumah, tapi sekarang gak tau di mana?."
"Oh yaudah pak." ucapnya dengan tersenyum.
"Emang ada yang mau di omongin sama Fitri Ta?." Wito penasaran.
"Gak ada kok pak, nanti saya bicara kalau udah sampai restoran aja." ucapnya.
"Oh gitu." ucapnya, "Tapi bentar lagi dia mau nikah loh." lanjutnya.
Tasya pun kaget dan bahagia mendengar itu, "Kapan pak nikahnya Fitri?."
"Masih habis hari raya idul fitri katanya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Tasya,sebentar lagi dia akan nyusul kita ya Sya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya kak, mudah mudahan di lancarkan ya."
"Amin." saut Wito dengan tersenyum.
"Yaudah pak kami berdua mau masuk dulu ya." pamitnya.
"Iya nak."
Setelah itu mereka pun berjalan menuju ke dalam pasar itu, namun baru saja hendak masuk tiba tiba ada Fitri yang hendak memarkirkan motor. Tapi dia tidak menyadari jika ada Tasya dan Clarista yang ada di sana.
"Fit." panggil Clarista.
Seketika Fitri melihat wanita yang memanggilnya itu, karena menyadari jika itu adalah Clarista dan Tasya. Fitri pun langsung turun dari motornya dan langsung menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Clarista, tumben lo ke pasar." ucapnya dengan tersenyum.
"Gua lagi senang aja sih Fit." Clarista tersenyum, raut wajahnya terlihat begitu bahagia.
"Tapi kenapa sih lo?,kok kelihatan bahagia banget."
"Dia hamil Fit." saut Tasya.
Mendengar ucapan Tasya, Fitri pun terkejut serta bahagia bercampur menjadi satu, "Lo beneran gak sih?."
"Masa sih gua bohong Fit." Clarista mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
"Iya nih, gak percaya aja." Tasya tersenyum ke sahabatnya itu.
"Berarti habis ini, ada yang manggil gua tante dong." raut wajah Fitri terlihat bahagia.
"Iya." ucap Clarista.
"Jadi ngerasa tua nih." Fitri tersenyum.
"Bisa aja lo Fit." Clarista tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu, "btw, lo jadi nikah kan habis lebaran?." tanyanya.
"Lo tau dari mana anjir?."
"Om lo lah, pak Wito."
"Ya, padahal gua mau rahasiain dulu aslinya." kesalnya.
"Btw jangan lupa undang gua ya." Clarista dengan mengedipkan matanya.
"Gua juga jangan lupa ya Fitri sayang." saut Tasya.
"Iya dong, masa gua gak ngundang kalian berdua." Fitri tersenyum.
Clarista dan Tasya mencubit pipi Fitri, "Ih jadi makin sayang deh." ucap mereka berdua.
"Kalian apa apaan sih gak jelas banget deh." Fitri tersenyum malu.
"Yaudah ayo ke pasar dulu sayang." ajak Clarista.
.............. ...
...B...
eberapa jam kemudian Alhan mengantarkan istri kesayangannya ke restoran tempat kerjanya.
"Mas nanti kamu jemput aku ya." ucapnya.
"Kok bilangnya gitu sih dek,emang selama ini yang nganterin kamu siapa kalau gak aku." Alhan bingung dengan ucapan istrinya.
Tasya tersenyum melihat ekpresi yang di tunjukkan oleh suaminya, "Bisa aja kamu lupa mas."
"Yo, gak mungkin to dek, masa aku lupa sama istri aku sendiri." Alhan tersenyum.
Tasya mencubit hidung suaminya, "Ih, jadi makin sayang deh sama kamu."
Setelah itu Tasya langsung pergi dengan helm yang masih terpakai di kepalanya, namun suaminya hanya diam saja tidak berniat untuk memberi tau istrinya itu.
Alhan hanya tertawa melihat istrinya itu, "Masa sih gak kerasa kalau lagi pakai helm." ucapnya, "Pasti juga dia nanti balik sendiri." lanjutnya.
Sementara Tasya kini telah berada di dalam restoran tempat kerjanya milik tantenya Fitri, namun baru saja masuk Vita pun bingung dengan Tasya yang masuk dengan memakai helm.Mungkin dia akan kerja dengan memakai helm hari ini, pikirnya.
"Lo mau kerja pakai helm ya Sya?." tanyanya dengan bingung menatap teman kerjanya yang masih memakai helm.
Tasya seketika memegang kepalanya yang memang benar jika dia masih memakai helm, "Kok aku masih pakai helm." ucapnya.
"Masih muda kok udah pikun Sya." ledek Vita.
"Iya Vit aneh emang."
Tasya pun langsung berlari keluar menuju ke arah suaminya, dia berharap jika suaminya belum pergi.
Untungnya suaminya masih menunggunya di depan restoran dan Tasya langsung berlari ke arah suaminya berada.
"Mas kok gak bilang sih kalau aku masih pakai helm."
Alhan tertawa terbahak bahak mendengar ucapan istrinya, "Aku sengajain emang, masa masih muda udah pikun aja." ledeknya.
Tasya melepas helmnya dan memberikan helm itu ke suaminya, "Jangan lupa loh mas nanti."
" Iya dek."
Kemudian Tasya pun bersaliman dan mencium tangan suaminya itu, "Makannya kalau mau pergi itu saliman dulu sama suaminya.
"Iya mas tadi lupa soalnya."
Kemudian Alhan langsung pergi meninggalkan Tasya untuk menuju ke tempat kerjanya,di toko milik papanya Clarista. Sementara Tasya langsung masuk ke dalam restoran untuk mulai bekerja di restoran itu.
"Kirain tadi lo mau pakai helm kerjanya." Vita tersenyum.
"Tadi lupa gua Vit." ucapnya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong Fitri gak datang ya?." Vita penasaran yang belum melihat Fitri.
Namun baru berapa saat di bicarakan, Fitri pun datang dan menghampiri mereka berdua yang sedang berbicara.
"Panjang umur banget, baru aja di omongin udah datang aja." ucap Tasya dengan tersenyum.
"Kalian lagi ngomongin aku ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya, kita berdua omongin tentang kejahatan lo selama ini." Tasya tersenyum.
"Iya betul banget." ucap Vita dengan tersenyum.
"Kalian ada masalah apa sih sama aku?." Fitri menunjukkan wajah cemberut.
"Bercanda kali Fit." Tasya mencubit pipi sahabatnya itu, "Masa sahabat aku yang baik ini, kita omongin."
"Yaudah sekarang kita mulai kerja ya." ajak Vita.
"Siap bos." ucap Fitri dengan posisi tangan hormat.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...