
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Dua minggu kemudian, hari ini adalah hari ulang tahun Tasya namun anehnya Tasya sendiri melupakannya, jika hari ini hari ulang tahunnya sendiri. Alhan memiliki ide untuk merayakan ulang tahun istrinya itu. Namun dia harus memikirkan konsep yang pas untuk merayakannya,dia telah berdiskusi kepada Clarista,Fitri,Vita,Divia dan juga Febi tadi malam agar Alhan pura pura marah kepada Tasya.
"Mas." panggilnya dari luar kamar.
"Oh iya aku harus pura pura marah kepadanya seperti yang di rencanakan tadi malam." pikirnya.
"Mas." panggilnya lagi.
Kemudian Alhan membuka pintu kamarnya.
"Apa sih panggil panggil mulu." wajah nya tampak datar.
"Di tungguin juga." ucapnya dengan tersenyum.
"Kamu berangkat sendiri aja ya."
"Kok sendiri mas,emang kamu kemana?,gak mau nganterin aku ya?." ucapnya dengan tersenyum.
"Jangan manja deh,kamu bisa motoran juga kok."
"Tapi mas." ucapnya.
"Gak usah tapi tapian,pokoknya aku gak bisa nganterin kamu hari ini." ucapnya dengan raut wajah datar.
"Mas marah ya sama aku." ucapnya.
"Kamu pikir sendiri." ucapnya.
Kemudian Alhan pergi meninggalkan Tasya sendirian di rumah,namun betapa kagetnya Alhan ketika yang menjemput Alhan adalah Vita teman kerja Tasya. Sehingga pikiran negatifnya pun muncul,apalagi kalau tidak selingkuh yang di lakukan mereka, suaminya rela tidak mengantarkan dirinya demi wanita lain,apalagi wanitanya adalah teman kerjanya sendiri.
"Vita Lo ngapain di sini?."
"Jemput Alhan lah." ucapnya dengan santai.
"Mau kemana emang?." Tasya penasaran.
"Kepo ih,terserah gua lah mau kemana?."
Kemudian Alhan naik ke motor Vita, dan duduk di belakang Vita.
"Oh iya nanti aku gak pulang siang, kamu makan aja sendiri."
"Kok gitu sih mas,emang mau kemana?." tanyanya.
"Mau makan lah sama Vita di restoran."
Vita tersenyum ke arah Tasya dengan senyuman mengejek.
"Kok Lo lakuin ini si Vit."
Vita hanya membalasnya dengan memanyunkan bibirnya ke Tasya, sehingga Tasya semakin sakit hati kepada Vita dan suaminya.Mereka berdua pun pergi meninggalkan Tasya tanpa rasa bersalah.
"Kok mas Alhan tega ngelakuin ini semua ya." air matanya menetes.
........................
Beberapa saat setelah itu,Tasya pun sampai di kampus dia pun langsung berjalan menuju ke kelasnya.Dia belum bisa melupakan kejadian tadi pagi,suaminya berboncengan dengan wanita lain.Dia ingin menceritakan semua ini kepada kedua sahabatnya. Tak lama setelah itu Tasya melihat Divia dan juga Febi.
"Divia,Febi."panggilnya.
Namun kedua sahabatnya itu tidak menoleh saat dia panggil,hingga Tasya pun memutuskan untuk mengikuti mereka.
"Divia,Febi kalian di panggil kok diam aja sih." ucapnya.
Kemudian mereka berdua menoleh ke Tasya.
"Sya, Lo tega banget ya sama sahabat sendiri." ucap Divia dengan raut wajah datar.
"Tega gimana sih Div?,gua bingung deh sama kalian berdua." ucapnya dengan bingung.
"Jangan sok polos gitu deh muka lo Sya,ternyata lo wanita jahat ya Sya." saut Febi.
"Lo ngomongnya kok gitu sih Feb." Tasya pun terus bingung.
"Lo tega Sya sama sahabat sendiri." ucapnya dengan wajah datar.
"Sumpah deh,kalian ngomong apa?, kok gua jadi bingung gini sih." ucapnya dengan tersenyum.
"Gitu malah senyum,ternyata lo suka ya Sya ngelihat orang sengsara."
"Kecewa gua sama lo Sya." saut Febi.
"Sengsara maksudnya gimana sih?,gua gak paham sumpah sama kalian." ucapnya dengan bingung.
"Mana ada orang jahat ngaku." Divia menoleh ke Febi. "Iya gak Feb." lanjutnya.
"Iya." ucapnya dengan tersenyum.
"Kalian berdua kok jadi gini sih sekarang." Tasya bersedih.
"Ke kantin yuk Feb,ngapain juga di sini." ajaknya.
"Iya ayo Div." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Divia dan Febi pun meninggalkan Tasya yang sedang bingung dengan kelakuan kedua sahabatnya.
"Kita berlebihan gak sih Feb." ucapnya dengan tersenyum.
“Kita kan cuma pura pura Div.” Febi tersenyum.
"Kasihan gak sih lihat ekpresi Tasya seperti itu." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya juga ya Div." Febi tersenyum.
"Tapi bagaimanapun kita kan cuma pura pura Feb." Divia tersenyum.
"Tapi dia sendiri aja lupa sama hari ulang tahunnya sendiri." Febi tersenyum.
"Pikirannya banyak Feb,dia juga kan seorang istri,beda sama kita yang masih jadi beban keluarga."ucapnya "Apalagi kan,Tasya kalau malam gitu biasanya kerja."
"Kerja di mana ya Div?,gua kok gak tau." tanyanya.
"Di restoran yang samping toko roti ituloh."
"Oh itu." ucapnya faham.
"Pasti capek banget ya jadi Tasya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya ya Div." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian tiba tiba ada Leo yang menabrak Divia hingga membuat Divia terjatuh.
"Aduh." kemudian Divia menatap Leo dengan tatapan yang tajam,"Kalau jalan bisa lihat lihat gak sih?." lanjutnya.
Kemudian Leo memberdirikan Divia.
"Maafin gua ya Div."
"Bisa gak sih lo,gak muncul di hidup gua sekali aja." ucapnya dengan kesal.
"Div."
"Duluan ya Div keknya ada yang penting nih." pamit Febi.
"Siap Div." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Febi pergi dari mereka berdua.
"Apa sih Lo ?, belum bisa move on dari gua iya."
"Div,lo udah terima kan hadiah gua?."
"Udah makasih,tapi maaf ya jangan sering sering kasih hadiah lagi ke gua." ucapnya, "Mendingan kasih aja ke Farin."
"Kok lo gitu sih Div."
"Benarkan,lebih baik kasih hadiah ke orang lain." ucapnya, "Sepertinya susah banget deh cari cewek lagi, padahal kan kaya dan ganteng juga gak akan ada cewek yang gak mau sama lo." lanjutnya.
"Mereka bukan lo Div,cewek cewek itu bukan lo."
"Bodoh banget sih jadi orang,dulu siapa juga yang hilangin kepercayaan gua."
"Itu cuma salah paham Div."
Divia tersenyum"Klasik banget ya alasannya,bisa gak yang masuk akal dikit."
"Emang itu alasanya Div."
"Terus mau lo apa?,balikan?,sorry ya."
"Gua gak memaksa lo untuk balikan Div,gua cuma mau sifat lo gak dingin dan cuek kalau ketemu gua."
"Terus gua harus peluk Lo gitu kalau ketemu." Divia tersenyum."Buang buang waktu aja bicara sama lo ternyata."
Kemudian Divia pergi meninggalkan Leo,namun Leo memegang tangan Divia.
"Bisa lepasin gak." ucapnya.
"Beri gua satu kesempatan aja Div." Leo melepaskan genggamannya.
Divia langsung meninggalkan Leo tanpa sepatah kata pun.
"Leo gua juga masih sayang sama lo, tapi juga gua terlanjur kecewa sama lo, tapi jujur deh gak ada cowok yang bisa gantiin lo di hati gua." ucapnya dalam hati.
"Tasya juga cerita semua ke gua tentang lo dan lo masih ingat aja sama gua,gua juga udah baca kok surat lo,lo nggak pernah berhenti ngechat gua walaupun gak gua balas, mungkin nanti gua akan memberi lo kesempatan leo."
................
Sementara di toko kue milik Clarista, Alhan,Vita,Fitri,Elvin dan Clarista sedang membicarakan sesuatu tentang ulang tahun Tasya.
"Entar aku yang atur semuanya ya." ucap Clarista dengan tersenyum."Tapi ngomong ngomong gimana ekpresi Tasya tadi Han?."
"Murung aja mbak dia." ucapnya. "Apalagi tadi aku di jemput sama Vita."
"Tapi pulang dia jam berapa biasanya?." tanyanya.
"Siang sih." jawab Alhan.
"Tapi nanti jangan biarin dia di rumah,kan habis ini kita harus nyiapin semuanya." ucapnya.
"Iya ya mbak." ucapnya dengan tersenyum."Yaudah nanti aku suruh Leo jemput aja."
"Leo siapa Han?."
"Temen kuliahnya."
"Wah ide bagus tuh Han."
.................
Siangnya Tasya pun pulang dari kampus sendirian tidak seperti biasanya yang di jemput oleh suaminya. Keadaan rumah terlihat sepi,suaminya tidak pulang siang ini.
"Apa dia marah lagi ya sama aku?."
Tak lama setelah itu terlihat ada mobil Leo yang datang dan berhenti di depan rumahnya.
"Leo ngapain kesini lagi."
Setelah itu Leo keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Tasya.
"Sya jalan yuk." ajaknya.
"Bukannya aku gak mau ya Leo, tapi aku belum izin sama suamiku takutnya nanti suamiku marah lagi."
Leo tersenyum, "Tenang Sya gua udah izin sama suami kamu." Leo melihatkan chatnya kepada Tasya.
Sehingga membuat Tasya bingung, karena kemarin dia juga yang marah kepadanya kini dia mengizinkan, apasih yang terjadi dengan suaminya?.
"Gimana kamu mau Sya."
"Yaudah deh boleh,bentar ya aku ganti pakaian dulu."
"Iya Sya,jangan lama lama loh."
"Iya Leo."
Tasya pun masuk ke dalam rumahnya untuk berganti pakaian, sementara Leo menunggunya di luar.
................
"Leo beneran gak apa apa ini?."
"Gak apa apa Tasya."
"Yaudah kalau begitu." ucapnya dengan tersenyum.
Tasya pun menikmati perjalanan, walau tak tau Leo akan mengajaknya kemana?.
"Mau kemana sih Leo?." tanyanya.
"Kamu maunya kemana Sya?."
"Terserah kamu aja sih,kan kamu yang ngajak." Tasya tersenyum.
"Yaudah ke pantai mau gak?."
"Boleh deh."
Lalu mereka perjalanan menuju ke pantai.
"Aku curhat ke kamu boleh gak Leo?."
"Boleh,curhat aja."
"Aku bingung deh dengan kelakuan suamiku hari ini,sepertinya dia marah deh sama aku."
"Emang kamu ngelakuin apa ke dia?."
"Gak tau Leo tiba tiba dia marah ke aku dan anehnya dia malah di jemput sama cewek lain."
"Kok bisa ya gitu."
"Gak tau,mana ceweknya temen kerja aku lagi ,apa dia selingkuh ya?."
"Jangan suudzon dulu,bisa aja nganterin sesuatu."
"Tapi sebelumnya,suami aku gak pernah bicara sama dia apalagi akrab sama dia."
"Gak tau juga sih, mudah mudahan gak terjadi apa apa sama rumah tangga kamu." harapnya.
"Iya Leo."
...♥️♥️♥️♥️...