
.......
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Mereka berdua pun duduk di pantai sambil menikmati indahnya pantai berdua.
"Leo, kamu masih suka Divia kan?."
"Masih." ucapnya.
"Kalau kamu gak bisa dapetin Divia lagi gimana?."
"Hem gak tau." ucapnya dengan tersenyum,"Mungkin sama kamu aja." lanjutnya.
Seketika Tasya melotot ke arah Leo, "Jangan macam macam ya Leo." ucapnya.
"Terus sama siapa lagi dong?,aku kenalnya cuma kamu sama Divia."
"Terserah kamu kek,yang penting aku gak mau." Tasya tersenyum.
"Kalau kamu udah cerai,terus mau sama aku?." tanyanya dengan tersenyum.
"Kamu doain aku cerai gitu ya." Tasya tersenyum.
"Gak gitu maksudnya Sya,kalau memang bener terjadi kamu mau gak?."
"Gak,gak boleh aku gak mau cerai sama mas Alhan." Tasya tersenyum.
"Kalau seumpama ini,kamu cerai terus kamu mau ngapain?." tanyanya dengan tersenyum.
"Ya pokoknya gak boleh cerai." Tasya tersenyum,"Tapi kok kamu tiba tiba nanya gitu sih?."
"Ya mau nanya aja sih." Leo tersenyum.
Kemudian Leo bersandar di bahu Tasya.
"Ih Leo jangan gini ah,nanti kalau mas Alhan lihat gimana?." tanyanya dengan tersenyum.
"Biarin, biar dia tau." Leo tersenyum.
"Leo." Tasya geram.
Kemudian Leo menegakkan kepalanya,"Iya mama cantik." ucapnya dengan tersenyum.
"Pulang yuk Leo udah sore nih." ajaknya.
"Yuk,tapi ke mall dulu ya." balasnya.
"Ngapain ke mall Leo?." tanyanya dengan bingung.
"Aku mau beli sesuatu." jawabnya.
"Oh yaudah ayo,tapi jangan lama lama ya nanti di mall."
"Iya." ucapnya dengan tersenyum.
..............
Beberapa jam kemudian tepatnya setelah adzan isya mereka pun baru perjalanan pulang.
"Katanya tadi gak lama lama Leo,tapi kok sampai adzan isya." Tasya cemberut.
"Kamu ngambek ya Sya?."
"Gak cuma kecewa aja sama kamu, masa aku di tinggal sendirian tadi, mana lama banget lagi." ucapnya dengan raut wajah cemberut.
"Kan kamu di ajak ke dalam gak mau tadi?."
"Tapi gak lama lama gitu kali Leo, untung aja di dekat sana ada mushola coba aja gak ada tadi aku sholat di mana terusan?."
"Beruntung banget ya suaminya punya istri seperti Tasya,udah baik,cantik, lemah lembut,masih ada gak ya cewek seperti dia,mungkin Divia mirip dengan dia tapi agak sedikit cerewet sih dari Tasya." ucapnya dalam hati.
"Maafin gua ya Sya." ucapnya.
"Iya aku maafin." Tasya tersenyum, "Tapi kamu beli apa aja sih kok lama banget?."
"Beli sesuatu dong,itu ada di bagasi."
Tasya menoleh ke bagasi ternyata di bagasi ada sekresek barang.
"Cuma segitu?."
"Iya memang cuma segitu."
"Tapi kenapa lama banget Leo?."
"Kan sama main main juga di dalam Sya,biasa anak muda."
Tasya tersenyum, "Kamu ada ada aja deh Leo."
.............
Tak lama setelah itu mereka pun sampai di rumah kontrakan Tasya, Tasya kaget dia tidak melihat suaminya bahkan lampu rumahnya aja belum nyala.
"Ya ampun,kok mas Alhan belum pulang ya padahal ini udah habis adzan isya."
"Minta temenin gak Sya." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak usah Leo." Tasya tersenyum.
Setelah itu Tasya turun dari mobil Leo, "Yaudah Leo,aku turun dulu ya?." pamitnya.
"Iya Tasya."
Setelah itu Tasya berjalan perlahan menuju ke rumahnya yang tampak terlihat sepi tidak ada orang.Tasya membuka pintunya dengan perlahan lahan,namun anehnya Tasya malah gak sengaja menginjak sesuatu hingga dia kesakitan.
"Aduh,ini apaan sih?."
Tiba tiba lampunya pun menyala, terlihat rumahnya yang sudah terhias bagus dan di dinding tertulis happy birthday Tasya. Di ikuti orang orang tersayangnya yang keluar dari kedua kamar serta dapur yang ada di sana, dia melihat suaminya yang membawa kue berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Mas." raut wajah Tasya sangat bahagia.
"Selamat ulang tahun istriku tercinta." Alhan tersenyum dengan membawa kue itu.
Tasya sendiri juga lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya,mungkin dia terlalu sibuk. Semua sahabatnya juga ada di sana yaitu Divia, Febi, Vita,Fitri, Clarista dan juga orang orang yang Tasya kenal.
"Kamu masih ingat aja mas,kalau hari ini aku ulang tahun."
"Ingat dong kan siapa dulu?,suami kamu."
"Tapi kamu gak marah kan sama aku mas?." tanyanya.
"Masa aku marah sama istri aku yang cantik ini." ucapnya dengan tersenyum.
"Cie." ucap semua serentak.
"Terus kalian berdua juga gak marah kan sama aku?." tanyanya.
"Gak Tasya,itu kami cuma bercanda." Divia menoleh ke Febi, " Iya kan Feb."
"Iya dong Div."
"Yaudah,lilinnya di tiup dulu." perintah Alhan.
"Iya mas." kemudian Tasya meniup lilin yang ada di atas kuenya.
Seketika semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dan menyoraki Tasya.
"Yaudah habis ini kita makan makan ya." Clarista tersenyum, "Tapi makannya di rumah aku yang di samping itu ya,kalau di sini takutnya gak muat." lanjutnya.
...............
Beberapa saat setelah itu para tamu undangan pun sudah pergi ke rumah Tini,kini tinggal Alhan,Tasya,Divia, Febi,Fitri dan juga Vita yang masih ada disana.
"Sya, maafin gua ya,tadi pagi itu cuma bohongan." ucap Vita.
Tasya tersenyum,"Iya Vita."
"Umurnya udah 21 aja nih." Divia tersenyum.
"Iya nih,kita aja baru 20,iya kan Febi." Divia tersenyum.
"Iya nih." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi kalian bentar lagi juga ulang tahun kan?."
"Iya juga ya."
"Tapi kita bertiga paling tua kan dari teman teman kita yang lain." ucap Tasya.
"Wajarlah kita aja masuknya lambat." Divia tersenyum.
Kemudian setelah itu tiba tiba Leo datang dan masuk ke dalam rumah Alhan dan Tasya.
"Hai Sya."
"Eh Leo,kamu belum pulang ternyata."
"Emang belum." kemudian Leo memberikan bungkusan itu kepada Tasya, "Ini Sya,hadiah dari aku."
Tasya tersenyum,"Wah,makasih Leo." ucapnya.
"Sama sama Sya,semoga kamu senang sama hadiahnya."
"Oh,pantesan."
"Sya,hadiah aku ada di sana Sya, kamu cari sendiri ya." ucap Divia.
"Punyaku juga di sana." saut Febi.
"Punyaku juga loh Sya." saut Fitri
"Jangan lupa punyaku juga Sya."saut Vita.
"Iya,makasih ya kalian semua." Tasya tersenyum.
"Semoga panjang umur ya sahabatku." Fitri mencubit pipi Tasya.
"Makasih Fitri."
Divia menyadari jika Leo dari tadi menatapnya,namun Divia hanya tersenyum ke Leo dan Leo yang melihat itu pun membalasnya dengan senyuman. Setelah itu Divia pun menghampiri Leo.
"Leo." panggilnya dengan tersenyum.
"Tumben lo senyum ke gua Div." Leo tersenyum.
"Gak boleh ya Leo." Tasya tersenyum.
"Boleh aja sih,tapi aneh aja gitu."
"Cie ada yang mau balikan nih." ledek Febi.
"Beneran mereka mau balikan Feb."
"Gak tau juga sih Sya,rahasia mereka itu." Febi tersenyum.
Setelah itu Divia menggandeng tangan Leo. "Kita bicara di luar yuk."
"Ayuk." Leo tersenyum.
Setelah itu Leo dan Divia berjalan keluar rumah dan duduk di halaman rumah Alhan dan Tasya.
"Mau ngomong apa Lo Div?."
"Kok Lo nge gass sih anjir." Divia tersenyum.
"Yaudah,mau ngomong apa nona Divia yang cantik?." Tasya tersenyum.
"Apasih gak jelas lo." Divia mencubit pipi Leo.
Leo pun bahagia melihat senyuman senyuman yang keluar dari wajah mantan pacarnya itu.
"Leo." panggilnya.
"Iya Div."
"Ternyata gua gak bisa ya bohongin perasaan gua sendiri,gua beneran gak bisa ngelupain semua kebersamaan yang telah kita lalui." Divia tersenyum, "Rasanya aku pengen deh mengulang semua itu,jujur aku gak bisa nemuin cowok yang sama sepertimu."
Leo tersenyum,"Jadi mau di maafin nih kejadian waktu itu?."
"Iya,aku percaya kalau semua itu murni salah paham,walau aku ngelihat kamu di cium sama Farin sih." Divia tersenyum.
"Jadi lo ngajak balikan gua Div?."
Divia mengangguk.
"Ini mimpi gak sih Div?."
Kemudian Divia mencubit pipi Leo lumayan keras.
"Sakit Divia." Leo tersenyum.
Divia tersenyum"Gak mimpi kan?, beneran kan Leo?."
"Makasih Div." kemudian Leo mencium pipi Divia.
"Kok lo cium pipi gua sih anjir."
"Maaf reflek Div."
Setelah itu Divia mencium pipi Leo.
"Lo ikut ikutan Div."
"Iya sayang,aku pengen." Divia tersenyum.
"Kok manggilnya sayang sih." Leo tersenyum.
"Kan kita udah jadian lagi,jadi boleh dong."
Kemudian terdengar suara langkah kaki dari belakang.
"Cie,balikan nih." ledek Febi.
"Iya nih." Tasya tersenyum.
Mereka berdua menoleh ke arah Tasya dan juga yang lain.
"Iya dong." Divia tersenyum.
"Sombong banget ya Sya mentang mentang habis jadian lagi." Febi tersenyum.
"Iya nih Feb." Tasya tersenyum.
Dengan diam diam Fitri membawa sisa kue tadi dan diam diam berjalan ke arah Tasya dari belakang,setelah itu Fitri mengoleskan kue itu ke pipi Tasya,hingga membuat Tasya terkejut.
"Ih Fitri kesel deh." ucapnya dengan tersenyum.
"Kamu kan belum mandi Sya." Fitri tersenyum.
Kemudian Tasya mengambil kue itu dari tangan Fitri,setelah itu Tasya mengoleskan kue itu ke pipi Fitri, "Ih Tasya aku kan jadi manis semua sekarang."
"Bodoh amat,siapa suruh olesin duluan."
"Pokoknya nanti gua numpang mandi di rumah lo."
"Mandi aja kali Fit,gak ada yang ngelarang."
Setelah itu Tasya mengoleskan kue itu ke suaminya.
"Dek,kok aku ikutan di olesin sih."
"Gak apa apa mas,biar ikutan kotor wajahnya."
"Gua gak ikut ikutan ya." Vita mengangkat tangannya.
Kemudian Fitri mengoleskan kue itu ke muka Vita.
"Ih Fitri." rengeknya.
"Biar nambah manis Lo Vit." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Tasya mengoleskan kue itu ke muka Febi.
"Udah ku tebak Sya."
Tasya tersenyum, "Sekarang giliran yang habis jadian nih."
"Gak Sya,gak Sya,gak usah aneh anehan." kemudian Divia mencoba untuk lari namun Leo malah menahannya.
Seketika itu Tasya langsung mengolesi kue itu ke muka Divia."Ih sayang, kamu sih."
"Gak apa apa sayang."
"Padahal aku tadi udah pakai skincare."
"Ini juga skincare Divia." Febi tersenyum.
"Sekarang kamu yang olesin aku sayang."
Kemudian Divia mengambil kue itu di tangan Tasya,kemudian mengoseri kue itu ke wajah Leo.
"Ini spesial buat kamu sayang."
Kemudian setelah itu Wardani dan Clarista pun menghampiri mereka yang sedang bermain oles olesan.
"Kalian kok wajahnya kotor semua gitu."
Tasya mengambil kue itu dan mengolesi wajah Clarista dan juga Wardani.
"Tasya."
"Niat nawarin makan eh malah di oserin kue." ucap Wardani.
"Yaudah kalian semua habis ini cuci muka,terus makan ya."
"Iya."
"Yaudah ayo makan,udah lapar nih." ajak Fitri.
"Iya ayo."
Alhan menggandeng tangan istrinya, seketika Tasya menghadap ke suaminya dan tersenyum.
"I love you suamiku." ucapnya dengan tersenyum.
"I love you to." Alhan tersenyum.
...♥️♥️♥️♥️♥️...