
.......
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Beberapa hari setelah itu, tepatnya pada hari minggu seperti yang di inginkan Tasya, dia akan mendaftar kuliah di salah satu universitas yang ada di Jakarta. Dia memakai kemeja putih, rok panjang warna hitam serta kerudung warna hitam.
"Dek, semuanya udah kamu siapin kan?." ucapnya dengan tersenyum.
"Udah mas."
"Ijasah ijasah kamu, terus foto copy foto copynya."
"Udah mas, udah aku siapin semua kamu gak usah khawatir." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu Tasya duduk di depan kaca yang ada di almarinya.
"Itu mah pokoknya gak pernah ketinggalan."
"Harus dong mas, biar aku tambah cantik." Tasya terus merias wajahnya.
Alhan berbaring di kasur kamarnya, dia menunggu istrinya itu yang sedang merias wajahnya.
"Mas aku cantik gak." Tasya menunjukkan wajah cantiknya itu kepada suaminya.
"Jangan cantik cantik gitu." ledeknya.
"Kenapa kok gak boleh cantik cantik?." Tasya menatap Alhan dengan aneh.
"Entar banyak yang tertarik sama kamu." Alhan tersenyum, "Entar kamu selingkuh lagi." lanjutnya.
"Aku selingkuh mas, emang gue cewe apaan main selingkuh." Tasya tetap merias wajah cantiknya itu.
"Hati hati, nelen ludah sendiri loh." ucapnya dengan tersenyum.
"Gak mungkin mas." ucapnya dengan tersenyum.
"Awas aja sampai kamu selingkuh."
"Iya mas." Tasya tersenyum, "Yaudah ayo berangkat mas." ajaknya.
"Yaudah ayo."
Kemudian setelah itu mereka hendak pergi ke Universitas yang akan di tuju.
............. ...
Beberapa saat setelah itu mereka berdua pun telah sampai di universitas yang di tuju, terlihat universitas itu tampak begitu besar.
"Ini kan dek tempatnya?."
"Iya mas."
Kemudian Tasya turun dari motor, tapi baru saja turun tiba tiba ada yang memanggil nama Alhan dari belakang, terdengar dari telinganya jika suara itu tidak asing. Kemudian Alhan pun menoleh ke sumber suara itu. Yang ternyata itu adalah Rohmat temen smpnya dulu, saat di pondok pesantren.
Wajahnya tampak begitu beda, rambutnya panjang layaknya rambut wanita, tak seperti pada saat di pondok pesantren yang selalu botak. Bahkan kini dia juga tampak lebih tinggi dari saat dia masih smp dan dia juga teman satu asrama dengan Alhan dulu saat masih di pondok pesantren.
Kemudian pria itu menghampiri Alhan dan juga Tasya, Alhan pun langsung turun dari motor.
"Bagaimana kabare Han?." Rohmat menanyakan kabar.
"Alhamdulillah baik Mat." balas Alhan dengan tersenyum.
Setelah itu mereka berdua berjabat tangan,sudah lama mereka berdua tidak pernah bertemu setelah lulus dari smp.Karena Alhan tidak melanjutkan sekolah sma di pondok pesantren, sementara Rohmat masih melanjutkan sma di pondok pesantren.
Kemudian tatapan Rohmat mengarah ke wanita yang ada di samping Alhan, dan dia mengajak berjabat tangan Tasya dan Tasya menerimanya dengan baik, dengan di ikuti senyuman yang keluar dari mulutnya.
"Rohmat." dia memperkenalkan diri
"Tasya." Tasya membalasnya.
Rohmat menoleh ke Alhan"Ini pacarmu Han?." Rohmat menanyakan Tasya kepada Alhan.
"Gak anjir." ucapnya dengan tersenyum.
"Cuma temen kamu ya Han?." tanyanya lagi.
"Gak juga." jawabnya.
"Terus apa kamu dia?." Kemudian dia mendekatkan mukanya ke telinga Alhan, "Tapi dia cantik banget loh Han, gak kamu sikat aja lumayan gak sih." bisiknya.
Alhan pun tertawa mendengar ucapan teman lamanya itu, sehingga membuat temannya itu bingung.
"Kamu kok ketawa sih Han." Rohmat menatap Alhan dengan tatapan heran.
"Tapi masih cantikan mantan kamu kan?." Alhan tersenyum.
Sementara Tasya yang mendengar obrolan kedua pria yang ada di sampingnya itu pun hanya tersenyum.
"Gak anjir cantikan dia kali." ucapnya.
Setelah itu Tasya berniat pamit kepada suaminya itu. "Mas aku pamit dulu ya, kamu tungguin di mana gitu kalau udah nanti aku telpon."
"Gak aku anter aja."
"Gak usah kali mas aku bisa sendiri, kamu ngopi aja sama temen kamu."
"Yaudah kalau gitu."
Kemudian Tasya bersaliman dan mencium tangan suaminya itu.
"Bye mas." ucapnya sembari melambaikan tangan.
"Semoga berhasil ya."
"Do'ain ya mas."
Alhan mengangguk pelan mendengar ucapan istrinya itu, sehingga membuat Rohmat yang mendengar obrolan mereka berdua pun sedikit heran, namun dia berfikir jika itu adalah adik Alhan atau mungkin sepupunya.
Setelah itu Tasya pergi, meninggalkan kedua pria yang ada di dekatnya itu.
"Kok dia manggil kamu mas Han?."
"Dia itu istri aku, Rohmat."
"Hah?." Rohmat heran.
"Iya dia istri aku."
"Pantesan manggilnya mas tadi."
"Emang kamu aja yang bisa cari cewek cantik, aku juga bisa kali." Alhan tersenyum.
"Tapi cantikan dia anjir, dari pada Putri mantan aku."
"Jelas dong istri siapa dulu."
"Iya deh iya percaya." ucapnya dengan tersenyum, "Tapi kenapa kamu gak undang aku?." lanjutnya.
"Aku cuma nikah kecil kecilan aja, gak ada pestanya." jawabnya.
"Oh, gitu ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah kita ngopi aja yuk." ajak Alhan.
"Yaudah ayo, aku ngambil motor dulu."
"Di mana motor kamu?."
"Di parkiran kampus. "
"Yaudah aku tunggu sini dulu."
"Oke siap."
............. ...
Mereka berdua pun telah sampai di warung kopi yang keberadaanya tak jauh dari kampus tempat Tasya mendaftar. Suasana warung kopi terlihat begitu sepi, hanya sedikit orang yang ada di sana.
Setelah itu Alhan dan teman lamanya itu pun duduk di kursi yang disediakan setelah memesan dua kopi tadi ke penjual.
"Kamu di sini kuliah Mat?."
"Iya, aku di sini itu kuliah udah dapat satu tahun sih."
"Tapi, aku kok gak pernah melihat kamu ya?, padahal aku udah setahun juga di sini."
"Main kamu kurang jauh mungkin." Rohmat tersenyum.
"Iya mungkin ya." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi tutor dapetin wanita cantik kek dia gimana sih bro?."
"Gak tau cok, dia yang nembak aku duluan, siapa juga yang mau nolak ya kan." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya dong."
"Kalau misal nih Putri mau di ajak balikan, pasti aku mau." ucapnya.
"Ajak aja kali."
"Tapi aku malu Han, takut dia nolak aku." ucapnya.
"Coba dulu deh." Alhan memberikan saran.
"Gak ah mustahil banget."
"Yaudah, cari aja di kampus mungkin aja ada yang mau sama kamu." ucapnya.
"Iya juga ya, tapi aku deket nih sama satu cewek, namanya Luna orang sini juga." ucapnya.
"Pernah jalan kamu sama dia?."
"Pernah sering bahkan dan setiap malam dia juga sering chatingan sama aku." ucapnya dengan tersenyum.
"Gass aja kali, tembak dia sebelum kena orang lain." balas Alhan.
"Oke aja sih, tapi apa dia mau sama aku?." Rohmat pesimis.
"Coba aja kali Mat, siapa tau dia mau, awalnya dulu aku juga gitu sama Tasya."
"Tapi dia kan yang nembak duluan?."
"Iya sih."
"Tapi dia orang mana sih?."
"Tetangga desa aja sih, temen sekolah waktu sma dulu."
"Oh." Rohmat mengangguk.
"Tapi dia cantik banget Han, sumpah." Rohmat tersenyum.
"Ya harus dong itu."
"Tapi gimana sih rasanya punya istri?." Rohmat penasaran.
"Enak banget anjir, kamu mesti coba." Alhan tersenyum.
"Tapi dia tipe cewek yang seperti apa?." tanyanya.
"Dia adalah cewek yang mandiri, pekerja keras, baik,lemah lembut dan aku sangat bersyukur memiliki istri seperti Tasya." ucapnya dengan tersenyum.
"Tapi dia baru masuk kuliah tahun ini ya?." ucapnya.
"Iya, dia pengen banget kuliah jadi aku izinin deh." ucapnya, "Dia juga sudah menerima ajakkan aku untuk nikah muda." lanjutnya.
"Tapi kamu kok bisa sih nikah muda gitu?."
"Aku kesepian Mat di kontrakan gak ada yang temenin, kalau ada Tasya kan ada yang nemenin." jelasnya, "Sama juga ada yang beres beres rumah kalau aku lagi males." lanjutnya dengan di ikuti senyuman.
"Seru banget ya pasti." ucapnya.
"Iya dong."
"Jadi pengen cepet cepet nikah." Rohmat tersenyum.
"Kuliah aja dulu yang bener,baru nikah." ledeknya.
"Itu mah harus Han." ucapnya dengan tersenyum.
"Bagus itu." Alhan mengacungkan jempol.
"Semoga nular ke aku ya, tipe kek istri kamu."
"Mudah mudahan aja." ucapnya dengan tersenyum.
Asik asiknya mengobrol tiba tiba handphone yang ada di saku celananya pun berbunyi. Dia tau bahwa itu istrinya yang menelponnya, setelah itu dia pun mengangkat telpon itu.
"Mas, aku udah selesai sekarang jemput ya."
"Iya dek, tungguin sana."
"Oke ayang."
Setelah itu Alhan pun mematikan sambungan telponnya.
"Siapa Han?."
"Biasa sih, ayang beb."
"Oh ibu anak anak kamu." ucapnya dengan tersenyum.
"Belum punya anak." ucapnya dengan tersenyum.
"Buat kan bisa, apa susahnya udah halal aja kok." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah aku pergi dulu Mat." pamitnya.
"Iya Han, hati hati loh."
"Kamu gak balik juga?." tanyanya.
"Gak, aku di sini dulu wifian."
"Oh yaudah deh."
Kemudian Alhan keluar dari warung kopi itu untuk menjemput istrinya.
.......... ...
Beberapa saat setelah itu, Alhan pun sampai di depan gerbang kampus, terlihat ada istrinya yang sedang berdiri menunggunya.
"Mas akhirnya datang juga." Tasya tersenyum.
"Yaudah helmnya di pakai." Alhan memberikan helm ke istrinya.
"Iya mas." Tasya memakai helm itu kemudian naik ke motor, duduk di belakang suaminya.
Alhan pun langsung menjalankan motornya, Tasya memeluk suaminya yang sedang mengendarai motor itu dengan penuh kasih sayang.
"Mas."
"Iya dek."
"Habis ini kita makan bareng ya mas di rumah."
"Iya dek."
"Mas,nanti aku ada tes juga tapi masih minggu depan."
"Kalau pengumumannya kapan?."
"Kalau udah habis tes."
"Kalau kamu gak lulus gimana dek?."
"Ya gak jadi kuliah aja mas, kita fokus bangun rumah tangga aja." ucapnya dengan tersenyum."Tapi tenang aja kok mas, pasti di Terima kok." lanjutnya.
"Kamu tau dari mana?."
"Ya aku optimis doang."
"Oh."
"Tapi ya kata Fitri juga gitu kok."
"Semoga aja kamu lulus tes ya dek."
"Amin mas.".
Seketika Tasya pun keinget dengan cuciannya yang belum di jemur.
"Mas cucianya."
"Kenapa cuciannya?."
"Belum aku jemur mas cuciannya."
"Waduh, kok bisa sih."
"Aku lupa mas, terlalu semangat mau daftar kuliah jadi lupa." ucapnya dengan tersenyum.
"Nanti kita jemur berdua dek."
"Siap mas."
Kemudian tak lama setelah itu mereka pun sampai di rumah, Tasya langsung turun dan mencopot helm di kepalanya dan kemudian lari ke dalam rumah hendak mengambil cuciannya dan menjemurnya.
...♥️♥️♥️♥️♥️...