Alhan & Tasya

Alhan & Tasya
BERTEMU




Setelah pertemuan antara Clarista dan juga Fitri, mereka pun berbicara tentang mereka dulu, entah itu masalahnya ataupun yang lain. Tasya yang merasa bahwa dia tidak berhak tau tentang urusan mereka, membuat Tasya berniat untuk pergi dari mereka dengan beralasan untuk membeli makanan, karena sedari pagi Tasya belum sarapan.


"Fit, gua pergi dulu ya mau beli sarapan di sekitar sini." pamitnya.


"Perlu motor gak Sya?."


"Gak usah Fit, gua jalan kaki aja."


"Beneran Sya, nanti lo capek gimana?."


"Gak apa apa Fit dekat dekat sini aja kok." ucapnya, "Btw lo gak titip Fit?." lanjutnya.


"Gak Sya, gua makan di rumah aja nanti."


"Oh yaudah Fit, mari kak."


"Hati hati Sya." ucap Clarista.


Tasya berjalan meninggalkan mereka bertiga yang sedang asik berbicara, untuk pergi membeli sarapan. Tasya melewati taman dengan begitu bahagia, banyak sekali orang di sekitarnya, entah itu orang orang yang sedang joging, pasangan remaja yang sedang berpacaran bahkan keluarga yang sedang berpiknik di taman itu dengan begitu bahagia.


Tak lama setelah itu akhirnya Tasya sampai di jalan raya, begitu banyak warung makan di sekitar sana, sehingga Tasya bingung mau beli di mana. Hingga akhirnya Tasya memilih dagangan yang lumayan sepi karena dia tidak ingin mengantri dan juga perutnya juga telah berbunyi, karena sudah begitu lapar.


Tasya berjalan ke arah warung itu dengan perlahan,lalu setelah itu masuk ke dalam warung itu dan menghampiri ibu ibu pemilik warung itu.


"Bu beli nasi." ucapnya.


"Lauknya apa neng?."


"Ayam goreng aja bu.Pakai sambal sama gak usah sayur"


"Di bungkus, atau makan sini neng?."


"Di bungkus aja bu." ucap Tasya.


"Oh iya neng."


Kemudian Tasya duduk di kursi yang ada di dalam warung itu sembari memainkan handphonenya. Dia membalasi satu persatu chat dari teman temannya sma dulu yang selalu bersamanya di setiap waktu. Namun tiba tiba ada seorang laki laki datang ke warung itu, laki laki itu memarkirkan motornya di depan warung, Tasya pun menatap laki laki itu dengan aneh, laki laki yang satu sekolah dengannya dulu walaupun beda kelas, bahkan dia sering sekali bertemu dengannya mungkin 100 kali bahkan lebih.


Laki laki itu berjalan perlahan masuk ke dalam warung, setelah itu laki laki itu menatap Tasya."Kamu?." ucapnya dengan menunjuk Tasya.


"Kamu kok ada di sini?."


"Kamu juga kenapa ada di sini." ucapnya dengan bingung.


Laki laki itu adalah Alhan, walaupun Tasya dulu satu sekolahan dengan Alhan, tapi sama sekali Tasya tidak mengenali Alhan, bahkan nama aja dia tidak tau, padahal mereka sering bertemu mungkin 100 kali bahkan lebih.


"Aku di sini beli nasi lah."


"Aku juga sama lah beli nasi."


Kemudian Alhan berjalan menghampiri ibu ibu pemilik warung untuk berniat pesan makanan, "Bu, beli nasi empat, yang dua lauk ayam sama duanya lauknya ikan lele." pesannya.


"Pakai sayur sama sambal mas?."


"Nggeh bu." ucapnya.


Kemudian Alhan berjalan menghampiri Tasya dan duduk di sampingnya."Kamu kuliah di Jakarta to?."


"Gak, aku kerja gak ngelanjutin kuliah."


"Lah kenapa?." tanya Alhan dengan penasaran.


"Gak ada biaya." ucapnya santai.


"Oh, sama deh kalau gitu." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Kita sering bertemu ya, tapi aku belum tau nama kamu." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Masa sih kamu gak tau nama aku."


"Iya." ucapnya dengan tersenyum.


"Padahal aku dulu anggota osis." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Walaupun gitu, tapi aku gak kenal." ucap Tasya dengan tersenyum.


Kemudian Alhan mengajak Tasya berjabat tangan dan Tasya menerimanya dengan baik.


"Nama aku Alhan."


"Oh Alhan, kamu udah tau nama aku kan."


"Ya tau dong."


"Iya sih, kan kamu orangnya suka ngepoin orang." ledeknya dengan tersenyum.


Tasya menyadari bahwa Alhan yang di maksud oleh Clarista adalah orang yang sekarang duduk di sampingnya teman satu sekolahnya dulu.


"Kamu temannya Ryan sama Sania kan ya." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Iya, teman smp dulu." ucapnya dengan tersenyum, "Btw, kamu dulu suka sama Sania kan?." lanjutnya.


"Gak, kamu tau dari mana?."


"Dari orangnya." ucapnya dengan tersenyum.


"Gak, di bohongin." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Ah masa." ucapnya dengan tersenyum.


"Beneran Tas."


Kemudian pesanan Tasya telah jadi, dan Tasya pun berjalan menghampiri penjual itu untuk mengambil pesanannya itu.


"Berapa bu nasinya?."


"12 ribu neng."


Kemudian Tasya mengambil uangnya di saku celananya, "ini bu uangnya sekalian sama minum ya bu."


"Iya neng makasih."


Kemudian Tasya mengambil air mineral, dan kemudian pergi meninggalkan ibu ibu pemilik toko.


"Duluan ya. " ucapnya pada Alhan.


"Sini dulu kali Tas, temenin aku."


"Aku udah di tungguin teman."


"Gak apa apa kali sini dulu."


Tasya pun menuruti permintaan Alhan, dan duduk di sampingnya.


"Nah gitu dong."


"Kamu kok sok asik sih, minta temenin segala."


"Gak apa apa kali, biar kita makin akrab, kita selama sma gak pernah satu kali pun berbicara kan."


"Iya juga sih."


"Oh iya kabarnya Sania bagaimana?." tanya Alhan.


"Cie,perhatian banget nanyain kabar segala." ledeknya dengan tersenyum.


"Pengen tau aja sih." ucapnya dengan tersenyum.


"Kabarnya baik kok, katanya dia bentar lagi mau nikah sama pacarnya." jelasnya.


"Iya, kamu cemburu ya."


"Gak b aja."


"Kok mukanya kaget gitu." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Gak kok gak kaget." ucap Alhan dengan tersenyum "Santai aja gini kok di bilang kaget." lanjutnya.


"Tadi kamu kaget anjir." ucap Tasya dengan tersenyum.


"B aja, kali." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Ngaku aja kali Han." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Gak Tasya." ucap Alhan, "Ngomong ngomong kamu kerja di mana?." lanjutnya.


"Ngaliin perhatian ya." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Kamu kerja di mana Tasya." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Kerja di restoran."


"Emang kamu bisa masak ya?."


"Kamu ngeledek aku ya Han." ucapnya dengan tersenyum.


"Gak cuma nanya doang." ucap Alhan dengan tersenyum


"Bisa sih aslinya, tapi di sana kerjaku sebagai pelayan restoran."


"Oh pelayan." ucap Alhan dengan mengangguk.


"Kalau kamu Han kerja di mana?."


"Di toko sih, milik punya ayahnya teman aku."


"Jaga toko gak sih?."


"Gak jaga sih, tapi aku kerjanya di bagian gudang toko gitu."


"Oh." ucap Tasya dengan mengangguk.


Kemudian setelah itu makanan pesanan Alhan telah jadi, dan Alhan pun menghampiri pemilik warung itu untuk mengambil makanannya. Alhan mengambil dompetnya di saku celananya. "Ini bu uangnya." ucapnya sembari memberikan uang ke penjual itu.


"Makasih mas."


Kemudian Alhan menghampiri Tasya yang telah berdiri, "Aku anterin ya Sya."


"Gak usah kali Han, aku jalan kaki aja dekat aja kok."


"Beneran?."


"Iya Han, sekalian olahraga." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Yaudah, hati hati loh Sya." Kemudian Alhan naik ke motornya dan menyalakan motornya itu.


"Hati hati juga loh Han." ucap Tasya.


"Iya Sya, yaudah aku pergi dulu ya."


"Iya Han."


Kemudian Alhan pun menjalankan motornya, meninggalkan Tasya yang ada di depan warung. Sementara Tasya kembali ke tempat Fitri berada, Tasya berjalan perlahan menyusuri taman itu yang sudah bertambah ramai. Sehingga Tasya pun agak kesusahan mencari temannya itu.


"Mana ya Fitri?." tanyanya pada dirinya sendiri.


Tasya pun telah sampai tempat Fitri berada tadi sebelum dia pergi, namun tidak ada Fitri di tempat itu melainkan hanya ada orang lain, atau jangan jangan Fitri ngambek dengan Tasya, sebab terlalu lama dia pergi Tapi Tasya juga merasa tidak mungkin kalau temannya itu tega meninggalkannya begitu saja.


Tasya pun mengambil handphonenya dari saku celananya, dan mencoba untuk menelpon temannya itu agar bisa menemukan keberadaannya. Namun handphone Fitri tidak aktif dan Tasya tidak bisa memanggilnya sehingga kini Tasya pun lumayan panik.


Namun tiba tiba dari belakang ada yang memeluknya, sehingga membuat Tasya terkaget,lalu dia langsung menoleh ke belakang dan ternyata itu Fitri, kemudian Fitri melepaskan pelukannya.


"Ih Fitri, kirain tadi lo udah pergi."


"Lo kok lucu banget sih Sya, yak gak akan lah gua ninggalin lo." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Terus lo habis dari mana Fit?." tanyanya dengan  penasaran.


"Habis kencing sebentar tadi, tapi."


"Tapi apa Fit?."


"Tapi gak sengaja ngelihatin lo berduaan sama cowok di warung."


"Lo ngintip gua ya Fit." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Gak sengaja gua. Mana tadi kelihatan mesra lagi." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Mana ada mesra anjir,cuma senyum doang di bilang mesra." ucapnya dengan tersenyum.


"Mesra anjir, mana tadi gua foto lagi. " Fitri mengambil handphone di saku celananya dan memperlihatkan ke pada Tasya fotonya dan juga Alhan, "Ini apa?."


Tasya pun tersenyum, "lo kok bisa ngambil moment yang pas gini sih."


"Kan gua photograper Sya." ucap Fitri dengan tersenyum. "Tapi lo suka kan."  lanjutnya.


"Suka apanya?, suka dia?."


"Suka fotonya anjir." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Iya suka, gua kelihatan manis dan cantik tau gak." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Siapa dulu yang Foto?."


"Fitri dong siapa lagi." ucap Tasya dengan tersenyum.


Fitri menaruh handphonenya kembali ke saku celananya, "Btw lo suka gak sama dia?."


"Gak anjir, dia itu cuma teman sekolah gua dan kebetulan dia juga kerja di Jakarta."


"Oh." ucap Fitri dengan mengangguk.


"Dia itu orang yang di tanyakan kak Clarista tadi loh."


"Ah masa, tapi tadi lo bilang gak kenal."


"Iya sih baru kenal tadi."


"Katanya teman sma, sekarang bilangnya baru kenal tadi, gimana sih Sya?,kok gua jadi bingung. "


"Iya dia teman sma aku dulu, tapi aku dulu gak kenal sama dia, baru kenalnya sekarang,tapi kalau ketemu sering sih." jelasnya.


"Oh gitu, bilang kek dari tadi."


"Ya emang begitu Fit, btw kak Clarista udah pulang ya."


"Iya dari tadi."


"Yaudah ayo pulang Fit." ajaknya.


"Gak makan dulu lo, Sya." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Males ah Fit, di kost aja."


"Yaudah."


Kemudian mereka berdua memutuskan untuk pergi dari taman karena sudah lumayan panas, matahari telah begitu naik.