
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, Alhan pun hendak pergi dari toko, dia terlebih dahulu pamit kepada pemilik toko yaitu Nia, ibu dari Clarista.
"Bu aku pamit pulang dulu ya."
"Mau jemput istrinya ya."
"Iya bu, takutnya istri saya udah nunggu."
"Tapi yang lain udah pada pulang?."
"Masih ada Fikri di dalam, yang lainya udah pulang."
"Oh yaudah, hati hati loh nak."
"Iya bu."
Kemudian Alhan berjalan keluar menuju ke luar toko. Alhan berniat untuk menjemput istri kesayangannya di restoran tempat kerjanya.
..............
Tak lama setelah itu, Alhan pun sampai di depan restoran namun di sana tidak ada istrinya. Kemudian ada Vita yang keluar dari dalam restoran, seketika Alhan pun memanggil Vita untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Mbak mbak."
Kemudian Vita menghampiri Alhan yang ada di motor.
"Suaminya Tasya ya?."
"Iya, mbak tau gak istri saya ada di mana?."
"Tadi udah keluar duluan sama temennya."
"Sama Fitri ya mbak?."
"Iya mas."
"Terus di mana ya anak itu?."
"Coba deh mas cari di toko roti itu, siapa tau ada di sana." ucapnya.
"Oh yaudah mbak makasih ya."
"Iya mas, yaudah saya pamit dulu."
"Iya mbak."
Setelah itu Vita berjalan menjauh dari Alhan yang ada di depan restoran, sementara Alhan langsung mengarahkan motornya ke toko roti milik Clarista. Tapi sebelum masuk terlebih dahulu Alhan menelpon istrinya itu.
Dan tak lama setelah itu Tasya menjawab telpon dari suaminya.
"Mas udah sampai ke restoran?."
"Iya dek, ini aku udah ada di depan toko roti."
Kemudian suara di telpon itu berganti menjadi suara Clarista.
"Masuk ke toko roti aku aja Han, istri kamu ada di sini, sama nanti aku kasih roti gratis."
"Iya mbak."
"Kesini cepat mas, aku udah kangen nih sama kamu."
"Lebay banget kamu dek."
"Makannya kamu kesini cepat mas."
Kemudian Tasya mematikan sambungan telpon dari suaminya. Setelah itu Alhan turun dari motornya, lalu dia berjalan perlahan menuju ke dalam toko roti milik Clarista.
Perlahan lahan dia membuka toko roti itu, setelah pintu itu terbuka terlihat ada tiga cewek yang dia kenal sedang duduk di kursi yang ada di dalam toko roti itu, kemudian salah satu cewek itu menghampirinya yang tak lain adalah Tasya istri yang paling dia cintai.
Sementara kedua cewek yang lain yaitu Clarista dan Fitri, masih tetap duduk di kursi itu.Tasya pun memeluk erat tubuh suaminya itu yang baru masuk ke dalam toko.
"Lebay banget dek, seperti habis berpisah lama aja."
"Mas, aku sayang banget sama kamu."
"Kok tiba tiba kamu seperti ini sih dek emang ada apa ya."
Kemudian Tasya melepaskan pelukannya.
"Mas." panggilnya dengan senyuman manis yang keluar dari wajah cantiknya itu.
"Apa dek?."
"Gak jadi mas." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Alhan mencubit pipi istrinya itu, "Gak jelas lo."
"Yaudah mas kesana dulu yuk." Tasya menggandeng tangan suaminya itu dan mengarahkan suaminya ke Clarista dan Fitri yang sedang duduk.
"Mas tunggu sini dulu ya."
Alhan pun bingung dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu. "Emang ada apa dengan dia mbak, aneh banget."
"Ya gak taulah kan istri kamu sendiri kok tanya aku." ucap Clarista dengan tersenyum.
Kemudian Tasya datang dengan membawa kue bulat berwarna hijau, dengan tertulis nama Alhan dan Tasya di kue itu serta dua emote yang saling memandang.
"Perasaan aku gak ulang tahun deh."
"Emang gak, ini tadi aku yang buat, di ajarin kak Clarista."
Kemudian Alhan menoleh ke Clarista, "Iya mbak."
"Iya Han." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Alhan duduk di kursi kosong yang tadi di duduki oleh istrinya.
"Terus aku duduk mana mas?."
"Ambil kursi satu lagi Sya."
"Ini mas pegangin dulu kuenya." Kemudian Tasya pergi mengambil satu kursi.
Setelah mengambil kursi, Tasya langsung duduk di hadapan suaminya.
"Mas." panggilnya.
"Apasih, dari tadi panggil panggil gak jelas mulu."
Setelah itu Tasya memotong kue itu dengan pisau yang ada di samping kue, setelah itu Tasya menyiapkan kue itu ke mulut Alhan.
"Enak kan mas, aku suapin?."
"Enak banget dong." ucapnya.
Kemudian Alhan memotong kue itu, dan menyiapkan sepotong kue itu ke mulut istrinya. Tasya pun tersenyum melihat suaminya yang menyuapinya.
"Enak banget ngelihat kalian ini."ucap Clarista.
"Iya, jadi ikutan bahagia." saut Fitri.
Kemudian Tasya menoleh ke Clarista, "Kak, makasih ya kuenya."
"Iya, Sya."
Setelah itu Alhan melihat jam di handphonenya,ternyata jam sudah menunjukkan jam 5 lebih dan sebentar lagi adzan maghrib akan segera berkumandang.
"Pulang yuk dek, udah mau maghrib nih."
"Tapi kuenya belum habis mas."
"Bawa pulang aja dek."
"Yaudah."
Kemudian Alhan pun berdiri dan di ikuti oleh Tasya setelahnya.
"Kak kami pulang dulu ya." pamitnya.
"Kok cepet banget sih, Han."
"Aku mau adzan maghrib di masjid mbak." ucap Alhan dengan tersenyum.
"Oh mau adzan." Clarista kemudian menoleh ke Fitri yang ada di sampingnya, "muadzin dia Fit."
"Iya, jadi remaja masjid." ucap Fitri dengan tersenyum.
"Yaudah hati hati loh kalian berdua. "
"Fit, lo gak pulang juga?."
"Gua di sini dulu Sya, nunggu habis maghrib sekalian."
"Oh yaudah."
"Hati hati kalian."
"Iya fit, bye Fitri, kak Clarista." ucap Tasya dengan melambaikan tangan.
Mereka berdua membalasnya dengan melambaikan tangan. Setelah itu Alhan dan Tasya bergandengan tangan dan berjalan perlahan menuju keluar toko roti.
"Mas." panggilnya.
"Iya dek."
"Kalau aku daftar kuliah dekat dekat ini gak apa apa kan mas?."
"Gak apa apa dek, terserah kamu aja."
"Kalau nanti gak masuk gimana mas?."
"Coba aja kali dek."
"Aku kan suami kamu, ya pasti dong itu."
"Makasih mas."
"Iya, yaudah ayo naik." ucapnya sembari memberikan helm kepada istrinya.
Tasya memakai helm yang di berikan suaminya, setelah itu Alhan juga memakai helmnya. Tasya pun naik ke motor dan duduk di belakang Alhan yang sedang mengendarai motor.
"Udah siap dek?."
"Udah mas, ayo berangkat."
Setelah itu Alhan langsung menjalankan motornya dengan begitu santai.
"Mas." panggilnya.
"Iya dek."
"Aku peluk kamu boleh kan mas?."
"Gak usah pakai nanya kali dek, tinggal peluk aja apa susahnya."
Setelah itu Tasya memeluk suaminya yang sedang mengendarai motornya.
"Dek." panggilnya.
"Iya mas."
"Ngomong ngomong, apa sih yang kamu banggain dari aku?."
"Jujur ya.Sebenarnya banyak banget yang aku banggain dari kamu."
"Aku gak seganteng mantan kamu kan?."
"Iya sih, tapi kamu menurut aku itu sangat istimewa mas, aku bangga banget punya suami sepertimu." ucapnya yang terus memeluk suaminya.
"Istimewanya seperti apa?."
"Aku gak bisa mendefinisikan, pokoknya kamu itu istimewa banget mas."
Kemudian tangan kiri Alhan memegang tangan istrinya yang ada di perutnya.
"Jujur aku bangga banget punya istri sepertimu."
"Iya mas, aku juga bangga banget punya suami seperti kamu mas."
"Aku bayangin nanti ketika kita punya anak."
"Kamu pengen punya anak mas?."
"Ya pengen sih dek, tapi ya gak sekarang, kamu kan harus kuliah dulu."
"Kalau aku gak jadi kuliah gimana mas?."
"Gak boleh, kamu harus kuliah."
"Iya mas, tapi kalau anak kita lahir, kamu mau di panggil apa sama anak kita?."
"Ayah atau gak gitu bapak ."
"Gak pengen di panggil papa, papi atau apa gitu mas."
"Gak usah dek, ayah aja."
"Kalau aku sih mas, pengennya nanti anak kita manggil aku bunda. Bagus kan mas?."
"Bagus dong itu,kalau mulai sekarang aku manggil kamu bunda gimana?."
"Jangan mas, nunggu kalau kita udah punya anak aja."
"Kan bagus sih dek, kalau aku manggil kamu bunda. "
"Gak boleh mas."
"Tapi ngomong ngomong, kamu pengen anak berapa?."
"Kamu maunya berapa?."
"Terserah kamu dong."
"Kok aku."
"Iya emang harus kamu."
....................
Beberapa jam kemudian, mereka berdua pun telah selesai melaksanakan sholat isya' berjamaah di masjid. Mereka berdua pun telah sampai di rumah.
"Mas." panggilnya.
"Iya dek."
"Eh gak jadi deh."
"Kamu kok dari tadi gak jelas mulu sih."
Kemudian Tasya membuka pintu rumah.
"Habis ini ngapain ya mas, gabut banget."
"Aku sih tidur ya, capek banget." Alhan langsung berbaring di sofa panjang yang ada di ruang tamu.
"Gak ganti dulu mas."
"Gak usah,males ah udah terlanjur tidur.
"Yaudah."
Kemudian Tasya berjalan menuju ke kamarnya untuk mencopot mukenanya, dan berganti pakaian. Alhan tetap berbaring di sofa dengan begitu santai.
"Huh capek banget ya."
Tak lama setelah itu, Tasya pun datang yang telah berganti dengan daster warna kuning, serta rambut lurusnya yang tidak di ikat.
"Mas."
Kemudian Tasya duduk di sofa lain, yang ada di samping sofa tempat suaminya berbaring.
"Rambut kamu, gak kamu ikat dek?."
"Gak mas,aku males ngikat rambut."
"Yaudah."
"Mas kamu ngantuk ya?."
"Lumayan sih dek, tadi habis angkat angkat barang soalnya."
"Tidur aja di kamar mas, nanti kalau di sini takutnya nanti masuk angin lagi."
Alhan pun tersenyum ke arah istrinya, "Cie perhatian nih."
"Yaiyalah mas, kan aku istri kamu."
"Nanti mas juga pindah ke kamar kok."
"Yaudah."
"Kamu gak ngantuk ya?."
"Gak mas, gak tau kenapa mata aku masih jreng."
"Lihatin aku tidur aja kalau gitu."
"Gak mas, bosen lihat kamu mulu, mending aku nonton televisi."
"Yaudah sana."
Kemudian Tasya berdiri dan berjalan menuju ke ruang keluarga untuk berniat melihat televisi. Tasya mengambil remotenya, dan memencet tombol di remote itu sehingga televisi menyala.
"Gak ada sinetron yang tadi malam ya?."
Setelah itu Tasya pun duduk di lantai, kemudian Tasya menemukan sinetron kesukaannya yang biasa ia tonton.
"Cantik banget ya Sasa."
Namun baru saja menonton sinetron itu, terdengar suara langkah kaki dari ruang tamu yang tak lain adalah langkah kaki suaminya sendiri.
"Dek." Tanpa kata kata, tiba tiba Alhan berbaring di pangkuan istrinya.
"Mas, kok gini sih."
"Gak boleh ya dek."
"Gak boleh, aku jadi gak enak nih nonton sinetronnya." ucapnya kesal.
"Tapi aku pengen banget tidur di pangkuan istriku."
"Gak boleh mas, kamu kok bandel banget ya jadi anak."
Alhan malah mengelus pipi istrinya itu, "Jangan marah marah dong, nanti cepet tua."
Setelah itu Tasya mengelus pipi suaminya dengan pandangan yang masih tertuju di televisi.
"Sekarang boleh ya dek?."
Tasya menoleh ke arah suaminya dengan tersenyum, "Boleh,tapi terpaksa aslinya."
Alhan malah mencubit pipi istrinya itu lumayan keras hingga Tasya kesakitan."anjir, ngapain kamu cubit aku mas?."
"Kamu lucu banget dek." ucapnya dengan tersenyum.
"Lucu gimana anjir?."
"Itu lucu banget."
Tasya mencubit pelan pipi suaminya, "Ih jadi gemes deh sama om om satu ini."
Kemudian Tasya mencium kening suaminya itu dengan perasaan yang begitu bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...