Alhan & Tasya

Alhan & Tasya
PASAR MALAM



...



....


.......


.......


.......


.......


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Malamnya, Alhan dan Tasya telah bersiap siap untuk pergi ke pasar malam. Terlebih dahulu Tasya mempercantik wajahnya dengan make up miliknya, sedangkan suaminya menunggunya dengan duduk di kasur.


"Kalau pakai make up kok lama banget ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Ngomong aja terus mas." Tasya tetap sibuk dengan make upnya.


"Resiko ya punya istri hobi banget berdandan, nungguinnya harus extra lama banget." Alhan berbaring di kasurnya, dengan terus menatap istrinya yang sibuk dengan make upnya.


"Gak capek apa mulut itu ngomong mulu." Tasya tetap fokus dengan make upnya.


"Jadi ingat saat sma, kalau pakai make up tebel banget." ucapnya, "Seperti ada yang tertarik aja." lanjutnya.


Tasya menatap suaminya dengan tatapan yang tidak mengenakkan, "Bacot banget ya jadi orang, siapa suruh waktu itu ngajak nikah aku?." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya iya, tapi bisa di percepat sedikit gak sih itu berdandannya."


"Udah kok sekarang." ucapnya dengan tersenyum.


Alhan pun berdiri dan menghampiri istrinya yang tampak terlihat cantik, dengan kemeja warna pink dan celana jeans yang longgar berwarna biru laut, namun  istrinya itu belum memakai hijab.


"Gak pakai hijab?."


"Gak, ngapain juga pakai hijab."


"Terus aurat kamu di lihatin orang banyak gitu."


"Iya."


"Yaudah gak jadi, ngapain juga ke pasar malam." ucapnya yang kemudian duduk di kasur kamarnya.


"Cie cemberut nih suami aku." Tasya mencubit pipi suaminya , "Bercanda mas gitu aja cemberut."


"Tapi kalau aku bolehin, kamu juga akan tetap gak pakai hijab?."


"Gak, ngapain juga aku gak pakai hijab." ucapnya dengan tersenyum.


"Pasti kamu bohong, kamu itu aslinya pengen kemana mana gak pakai hijab kan?." tanyanya dengan tersenyum.


Tasya menggeleng pelan, "Gak mas, itu tadi cuma bercanda, aku pengen lihat reaksi suami aku, saat aku mau pergi gak pakai hijab." ucapnya dengan senyuman manis yang keluar dari wajah cantik itu, "Ternyata suami aku, emang peduli banget sama istrinya." lanjutnya.


"Hah alasan." ucapnya dengan tersenyum.


"Yaudah gak percaya gak  apa apa, aku gak rugi kok." ucapnya dengan santai.


Alhan memanyunkan bibirnya, sementara mencari hijabnya di almari, namun dia tidak menemukan hijab hitam yang biasa di pakainya itu.


"Di mana hijab hitam aku ya."


"Cari apa dek?."


Tasya menoleh ke suaminya, "Mas tau hijab warna hitamku gak mas?."


"Bukannya kamu tadi pakai ke pasar ya dek?."


"Gak yang itu mas, yang satunya lagi."


"Yang mana lagi dek?."


"Yang aku pakai saat kita kembali ke Jakarta ituloh mas."


"Oh yang itu."


"Iya mas, kamu tau gak mas?."


"Gak tau, emang kamu taruh mana sih dek?."


"Gak tau mas, kalau aku tau pasti aku ambil sendiri lah mas."kesalnya.


"Pakai yang lain aja dek, kan hijab kamu juga banyak."


"Gak mau mas, pokoknya aku mau pakai hijab yang itu." ucapnya.


Setelah itu Tasya pun teringat jika hijab itu baru saja dia cuci dan masih berada di jemuran yang ada di depan rumahnya.


Tasya memegang kepalanya "Oh iya mas aku baru ingat kalau masih di jemuran."


"Masih muda udah pikun aja." ledeknya.


"Mas, tolong ambilin ya." ucapnya dengan tersenyum.


"Manja banget jadi istri." ucapnya dengan tersenyum.


"Please sayang, ambilin ya." Tasya memohon pada suaminya.


"Iya iya, apasih yang gak buat istriku yang cantik ini."


"Makasih ayang gantengku." ucapnya dengan mencubit pipi suaminya.


Alhan pun berjalan keluar rumah untuk mengambil hijab istrinya yang masih ada di jemuran.


"Beruntung banget ya aku, punya suami seperti itu." Tasya tersenyum, "Udah baik, gak kasar, dan perhatian lagi sama istrinya." lanjutnya.


Setelah itu Alhan pun datang dengan membawa hijab warna hitam milik istrinya, namun Alhan terkejut tiba tiba istrinya langsung mencium pipi Alhan.


"Bonus cium buat kamu mas."


Tapi baru sadar jika mulutnya telah memakai lipstik merah, sehingga pipi suaminya merah.


"Mas pipi kamu merah." ucapnya dengan  tersenyum.


"Kamu sih, pakai cium cium segala."


"Maaf mas, tadi kan hadiah buat kamu." ucapnya dengan tersenyum.


"Yaudah ayo berangkat, entar kemalaman lagi." ucapnya sembari mengusap pipinya.


Tasya mengambil Tasnya, kemudian mereka berdua hendak berangkat menuju ke pasar malam.


............ ...


...B...


eberapa saat setelah itu,mereka berdua pun sampai di pasar malam itu. Di pasar malam itu begitu ramai pengunjung membuat mereka begitu bahagia.


"Baru pertama kali ini ya ke pasar malam di temenin suami."


"Kalau biasanya sama siapa?."


"Sama temen."


"Sama Sania juga ya?."


"Iya dong." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian Tasya menunjuk ke bianglala yang ada di pasar malam itu, "Kesana yuk mas."


"Ayuk."


Mereka berdua pun berjalan ke arah bianglala itu dengan tak lupa selalu bergandengan tangan dengan begitu erat. Alhan melihat raut wajah bahagia di wajah cantik istrinya, dia merasa menjadi lelaki yang begitu beruntung mendapatkan wanita secantik Tasya. Dia juga tidak pernah membayangkan sebelumnya,jika Tasya akan menjadi istrinya,wanita yang selalu berada di dekatnya.


Beberapa saat setelah itu, mereka pun naik ke dalam bianglala itu, mereka begitu menikmatinya dengan terus bergandengan tangan, bagaikan ada lem yang menempel di tengah tengah tangan mereka.Hati Alhan begitu berbungga bunga di malam ini karena raut wajah bahagia istrinya. Tasya bersandar di bahu suaminya,dia begitu nyaman berada di dekat suaminya, rasanya dia ingin selalu bersama suami yang di sayanginya itu.


"Mas aku bahagia banget mas."


"Aku juga bahagia dek. " ucapnya dengan tersenyum.


"Apalagi kalau ada yang manggil aku bunda terus ada yang manggil kamu ayah." ucapnya dengan tersenyum.


"Kamu sabar ya dek, kamu kuliah aja dulu."


"Iya mas."


.............. ...


Setelah selesai naik bianglala mereka pun pergi ke tukang penjual es krim yang ada di pasar malam itu.


"Pak es krimnya dua ya."


"Iya neng, mau rasa apa nih ."


Tasya menoleh ke suaminya yang ada di sampingnya.


"Rasa apa mas kamu?."


"Adanya rasa apa aja?."


"Strawberry, coklat sama vanila."


"Coklat aja deh."


Tasya kembali menghadap ke penjual es krim itu, "Coklat aja pak dua."


Lalu penjual itu membuat menyiapkan es krim yang di pesan oleh Tasya, setelah es krim itu jadi, penjual itu memberikan es krimnya ke Tasya.


"Ini neng es krimnya."


"Ini uangnya pak."Tasya memberikan uang kepada penjual itu


"Makasih neng."


"Sama sama pak."


Setelah itu Tasya memberikan satu es krim coklat itu ke suaminya."Ini mas es krim kamu."


"Makasih dek."


Setelah itu Tasya menunjuk kursi yang ada di dekat mereka, "Kita duduk di sana ya mas."


"Iya dek."


Kemudian mereka berdua duduk di kursi dengan menikmati es krim itu.


"Enak ya mas es krimnya?."


"Iya dek."


"Kamu suka rasa coklat ya mas?."


"Iya."


"Kalau aku aslinya suka vanila sih."


"Kok beli yang coklat?."


"Aku kan niru kamu mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Bisa aja kamu." ucapnya dengan tersenyum.


Tasya tersenyum.


"Kalau biasanya ke pasar malam sama siapa?."


"Sama temen."


"Temen siapa?."


"Aku kasih tau juga kamu gak bakalan tau mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Gak sama itu siapa namanya itu yang anak buah kamu itu?."


"Anak buah aku siapa anjir?."


"Yang biasanya sama kamu itu."


"Oh Yusi sama Lili ya."


"Gak tau, pokoknya itu."


"Gak ah mas, tau sendiri kan rumah aku aja jauh sama mereka berdua."


"Barang kali janjian sama mereka."


"Gak mas, jarang sih kalau sama mereka."


"Oh."


"Kalau kamu ke pasar malam sama siapa biasanya?."


"Jarang sih aku ke pasar malam, palingan ya kalau di ajak temen baru berangkat."


"Dulu kalau di rumah biasanya ngapain?." tanyanya dengan penasaran.


"Tergantung sih dek, kalau sore sih biasanya main bola sama temen."


"Kalau siang siang gitu?." tanyanya lagi.


"Tidur, kalau siang biasanya banyak ngantuknya dek." ucapnya dengan tersenyum.


"Masa sih mas?."


"Iya dek, kalau malam gitu biasanya gak bisa tidur."


"Masa sih mas, terus kamu ngapain kalau gak bisa tidur gitu?. "


"Main game semalaman."


"Gak capek apa?."


"Gak, dari pada gak bisa tidur kan."


"Kalau aku sih biasanya baca buku mas, kalau gak bisa tidur gitu." ucapnya dengan tersenyum.


"Sama aku juga dek."


"Katanya main game." ucapnya dengan tersenyum.


"Kalau ada buku lebih baik baca buku dek." ucapnya dengan tersenyum.


"Bisa aja kamu mas."


Setelah itu Alhan mengajak istrinya untuk pergi ke permainan berhadiah yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Ayo kesana dek main."


"Ayo mas."


Alhan bermain melempar karet ke dalam botol, apabila bisa masuk akan mendapatkan beberapa hadiah yang di sediakan.


"Lima ya bang."


"Ini mas." penjaga permainan itu memberikan 5 karet ke Alhan.


Alhan melakukan ancang ancang dan mencoba untuk memasukkan karet itu ke dalam botol itu.


"Yakin mas kamu bisa masukin karetnya kesana." ucapnya dengan tersenyum.


"Do'ain aja dek mudah mudahan bisa."


"Iya aku do'ain deh mas." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian Alhan mulai melempar karet itu ke arah botol itu, namun percobaan pertama dia gagal.


"Ya gagal dek, coba lagi deh."


Kemudian Alhan mencoba untuk kedua kalinya, namun tak jauh berbeda seperti yang pertama.


"Yah gagal lagi mas."


"Kamu aja dek coba."


Kemudian Tasya melempar karet itu dan hasilnya pun sama seperti sebelum belumnya.


"Ya mas dikit lagi mas."


"Mau lagi dek?."


"Gak mas kamu aja." ucapnya dengan tersenyum.


"Yaudah."


Kemudian Alhan melempar lagi untuk ketiga kalinya namun lagi lagi gagal, hingga kini adalah karet yang terakhir dia berharap agar bisa masuk ke salah satu botol. Dia melempar karet itu ke botol dan untungnya percobaan terakhir berhasil masuk ke salah satu botol .


"Dek masuk dek."


"Iya mas masuk."


Kemudian penjaga itu memberikan boneka beruang kecil berwarna pink kepada Alhan.


"Mas boneka mas."


Alhan memberikan boneka itu kepada istrinya. "Buat kamu dek."


"Makasih mas." Tasya memeluk boneka itu.


"Seneng gak dek?."


"Seneng banget mas,warna pink kan warna kesukaan aku." Tasya terus memeluk boneka itu, "Lumayan buat teman tidur." lanjutnya.


Dengan mengejutkan Tasya mencium pipi suaminya itu, hingga tatapan orang orang di sekitarnya pun tertuju ke arah mereka berdua.


"Dek jangan gitu ah malu di lihatin orang."


"Maaf mas, aku seneng banget."


"Yaudah dek, ayo ke permainan yang lain." ajaknya.


"Ayo mas."


Mereka berdua pun mencoba permainan yang lain lagi selagi menikmati suasana pasar malam yang semakin ramai itu. Mereka begitu bahagia di malam itu, mereka bisa tertawa bersama sama, berbahagia bersama sama dan menikmati suasana pasar malam bersama sama.


...♥️♥️♥️♥️♥️



...