Alhan & Tasya

Alhan & Tasya
MASAK




.......


.......


.......


.......


.......


...?????? ¿????????...


Alhan pun terbangun di depan televisi, di samping istrinya yang masih lelap tertidur. Seketika Alhan pun melihat jam, ternyata sekarang sudah jam 5 pagi, Alhan heran dengan istrinya yang biasanya jam 3 pagi dia telah bangun, namun dia bingung dengan istrinya yang masih lelap tertidur.


Mungkin istrinya begadang menonton televisi semalaman sehingga bangunnya agak telat. Sehingga Alhan pun membangunkan istrinya itu.


"Dek, bangun dek." ucapnya sembari menggoyang goyang bahu istrinya.


"Ih mas, ganggu aja orang lagi tidur." mata Tasya masih dalam keadaan tertutup namun mulutnya sudah berbicara.


"Dek udah jam 5 dek bangun."


Seketika Tasya pun membuka matanya dan menatap suaminya.


"Beneran udah jam 5 mas."


"Iya dek."


Tasya pun langsung duduk, "Kok gak bangunin dari tadi sih mas, kan aku jadi telat sholat tahajud."


"Aku aja baru bangun dek.Tapi kok tumben banget kamu bangunnya telat, biasanya aja jam 3 atau jam 2 udah bangun."


"Tadi malam aku tidur jam 12 malam mas."


"Nonton apaan sih jam segitu baru tidur?."


"Nonton film, filmnya seru banget tau gak."


"Film romantis pasti." tekannya.


"Emang.Aku pengen deh kisah kita jadi seperti di film itu."


"Emang filmnya gimana sih?."


"Filmnya itu, tentang seorang laki lakinya yang setia banget jagain istrinya yang sedang sakit sakitan gitu."


"Kamu pengen sakit sakitan kayak di film itu."


"Gak gitu mas maksud aku, pokoknya kita harus tetap bersama walaupun kita ada masalah yang besar sekalipun."


"Masalah yang besar gimana maksudnya?."


"Ya mungkin, selingkuh."


Seketika Alhan kaget dengan ucapan istrinya, "Kamu mau selingkuh dek?."


"Gak mas.Semisal." ucap Tasya.


"Emang kalau salah satu dari kita ada yang selingkuh, emang bisa kita bertahan dek?."


"Ya, pokoknya jangan sampai ada yang selingkuh mas."


Alhan hanya mengangguk.


"Pokoknya nanti kita  harus menjadi keluarga cemara." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Setuju." ucapnya dengan tersenyum.


"Yaudah, mas kita sholat dulu ya, kamu pasti belum sholat kan?."


"Emang belum, bangunin kamu susah banget tadi."


"Masih susahan kamu mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Terserah kamu aja deh."


"Oh iya mas, habis ini aku anterin ke pasar ya, kamu juga hari ini libur kan?."


"Iya dek." ucapnya.


"Yaudah nanti kita masak bareng bareng kamu mau gak?."


"Mau dong dek."  ucapnya dengan tersenyum.


"Bagus, punya asisten aku sekarang."


"Asistennya chef Tasya." ledeknya.


.................


Tak lama setelah itu, mereka berdua pun telah selesai melaksanakan sholat subuh.


"Mas aku nyapu halaman, kamu nyapu rumah ya."


"Nyapu rumah?."


"Iya, mas sekali kali kamu bantu istrinya." ucapnya dengan tersenyum.


"Yaudah deh iya."


Kemudian Tasya pun keluar dari rumah dan menuju ke halaman untuk menyapu halaman tersebut. Terlihat di luar rumah ada mbak Wardani yang sedang menyapu halaman rumahnya.


"Mbak Wardani." panggilnya.


"Eh Tasya, mau menyapu juga Sya."


"Iya mbak." ucapnya dengan tersenyum.


"Ngomong ngomong kamu pagi ini ke pasar gak?."


"Iya mbak, emang kenapa?."


"Aku mau titip sesuatu boleh kan Sya."


"Boleh kok mbak mau nitip apa?."


"Tahu tempe sama sayuran yang di buat sayur sop."


"Oh iya mbak, ngomong ngomong mbak Wardani mau masak sop?."


"Iya Sya, soalnya Rita pengen di buatin sop katanya." ucapnya dengan tersenyum.


"Oh."


"Kalau kamu rencana mau masak apa?."


"Gak tau mbak, mungkin ayam goreng aja kali ya mbak." ucapnya dengan tersenyum.


"Mewah banget, makannya ayam goreng."


"Jarang jarang mbak." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Clarista pun menghampiri mereka berdua, yang sedang mengobrol.


"Sya kamu gak ke pasar?."


"Habis ini juga ke pasar kok kak."


"Aku nitip sesuatu boleh kan Sya?."


"Boleh kak, kak Clarista mau nitip apa?."


"Daging ayam sama tahu tempe." ucap Clarista.


"Rencana mau masak apa nih Ta?."


"Mau masak ayam kentucky mbak, suami aku pengen di masakin kentucky soalnya." ucapnya dengan tersenyum.


"Wah enak tuh Ta."


"Nanti kalau udah jadi aku kasih mbak tenang aja."


"Boleh juga tuh." ucap Wardani dengan tersenyum.


"Oh iya suami mbak ke mana ya kok tumben gak keliatan?."


"Lagi lembur Ta, biasanya pulangnya jam 7 pagi kalau lembur."


"Oh."


"Emang kerja apa suami mbak?."


"Kerja di pabrik sepatu sih Sya."


"Oh pabrik sepatu."


.....................


Beberapa saat setelah itu Alhan dan Tasya pun telah siap siap untuk pergi ke pasar. Tasya pun naik ke motor dan duduk di belakang suaminya itu.


"Ayo mas berangkat."


"Iya dek."


Kemudian Alhan menjalankan motornya itu menuju ke pasar, Tasya pun memeluk Alhan yang sedang mengendarai motor.


"Mau masak apa dek?."


"Ayam goreng aja mas."


"Sama ada sambel juga kan dek?."


"Iya mas."


"Wah mantap tuh dek."


"Iya dong mas, apalagi yang masak nanti Tasya yang cantik ini."


"Enaknya jadi plus plus gitu gak sih."


"Iya dong, kan masaknya dengan rasa cinta." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka berdua pun telah sampai di pasar. Alhan pun memarkirkan motornya di parkiran motor yang ada di pasar, kemudian Tasya pun turun dari motornya di ikuti Alhan setelahnya.


"Dek nanti aku tunggu di tempat duduk tukang parkir itu ya."


"Iya mas." Tasya pun berjalan menuju ke dalam pasar untuk berbelanja.


Sementara Alhan duduk di kursi tempat duduk tukang parkir pasar.


"Masa, pak Wito gak markir di sini lagi ya."


Setelah itu datanglah seorang pria yang membawa sebungkus nasi,dia berjalan ke arah Alhan yang sedang duduk di kursi tempat duduk tukang parkir.Yang tak lain adalah Wito seorang tukang parkir di pasar yang usianya sudah menginjak 45 tahun, Alhan telah begitu akrab dengannya saat sebelum dia memiliki istri, karena memang Alhan sering sekali ke pasar untuk membeli nasi.


"Alhan, bagaimana kabarnya?."


"Alhamdulillah baik kok pak.Kalau pak Wito?."


"Hmm, alhamdulillah juga baik."


Kemudian Wito duduk di samping Alhan.


"Lagi ngapain? , tumben gak masuk seperti biasanya?."


"Udah ada asistennya pak, jadi gak usah masuk."


"Asistennya siapa?." tanyanya dengan bingung.


"Istri aku pak." ucapnya.


"Kamu udah punya istri?."


"Iya Pak, baru aja nikah kemarin habis lebaran."


"Oh, jadi udah gak sendiri lagi dong sekarang."


"Iya dong pak." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi orang Jakarta istri kamu?."


"Gak, istri aku itu temen aku sma dulu."


"Oh temen sma.Tapi umur kamu sekarang berapa ya Han?."


"Anak aku yang pertama juga, umurnya 20 tahun."


"Bapak punya anak berapa ya?."


"Dua, yang satunya lagi masih sma kelas 2."


"Oh." ucap Alhan dengan mengangguk.


Tak lama setelah itu wanita yang memakai hijab warna hitam, kemeja warna pink serta celana longgar berwarna biru laut,serta tas yang terbuat dari anyaman yang di bawanya. Yang tak lain adalah istrinya sendiri Tasya Claudia Ardhana.


Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk dengan Wito. "Pak Wito. " panggilnya.


"Eh neng Tasya, sendirian aja nak?."


"Gak pak sama suami." ucapnya dengan tersenyum.


"Mana suaminya nak?."


Kemudian Tasya menunjukkan Alhan yang ada di samping Wito, "Itu suami aku pak."


Wito pun menoleh ke Alhan, "Nak Tasya itu istri kamu Han?."


"Iya pak,emang dia istri aku."


"Masa pak Wito, gak tau sih kalau aku udah nikah?." saut Tasya.


"Tau, tapi gak tau kalau nikahnya sama Alhan." ucapnya dengan tersenyum.


"Kok pak Wito bisa kenal istri saya pak?." tanya Alhan.


"Jadi pak Wito ini omnya Fitri tau gak."


"Oh omnya Fitri." ucapnya dengan tersenyum.


"Iya saya omnya Fitri."


"Makannya kok bisa kenal."


Kemudian Tasya mengajak suaminya itu untuk pulang ke rumah. "Pulang yuk mas."


Setelah itu Alhan pun berdiri, "Yaudah pak kami pulang dulu ya pak." pamitnya.


"Iya Han, hati hati loh."


"Iya Pak."


"Da da pak Wito." Tasya dengan melambaikan tangan ke arah Wito yang sedang duduk.


Wito pun membalasnya dengan senyuman,Mereka berdua pun pergi menuju ke motor milik mereka untuk pulang ke rumah.


"Pesanan mbak Clarista sama mbak Wardani udah kan dek?."


"Udah mas, tenang aja."


"Yaudah."


................


Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka berdua pun telah sampai di rumah.


"Udah sampai."


Tasya pun langsung turun dari motor, lalu dia langsung berjalan menuju ke rumah Wardani untuk memberikan pesanannya.


"Mbak Wardani." panggilnya dari luar.


"Iya Tasya sebentar." sautnya dari dalam rumah.


Setelah itu Wardani pun keluar dari dalam rumah. "Tasya cepet banget udah sampai."


"Iya mbak." ucapnya dengan tersenyum.


Kemudian Tasya memberikan pesanan Wardani.


"Makasih ya Tasya."


"Iya sama sama mbak.Yaudah saya langsung balik aja mbak."


"Iya Sya."


Kemudian Tasya meniggalkan rumah Wardani, dan berjalan menuju ke rumah Tini untuk memberikan pesanan Clarista. Di teras rumah ada Tini yang sedang membaca buku.


"Ibu." panggilnya.


"Eh nak Tasya, habis dari pasar ya nak?. "


"Iya bu, ngomong ngomong kak Claristanya ada gak bu."


"Ada kok di dalam masuk aja nak."


Kemudian Tasya mencopot sepasang sandalnya dan bejalan perlahan menuju ke dalam rumah Tini.


"Kak Clarista."


"Iya, Sya aku lagi berak." sautnya dari dalam kamar mandi.


Kemudian Elvin keluar dari dalam kamarnya menghampiri Tasya.


"Tasya." panggilnya.


"Eh kak Elvin." Tasya mengambil pesanan Tasya di dalam tasnya. "Ini pesanannya kak Clarista kak."


"Oh, makasih ya Tasya."


"Iya kak, yaudah aku pergi dulu."


"Iya Tasya,ngomong ngomong suamimu di rumah kan?."


"Iya kak di rumah, hari ini dia libur kerja."


"Oh yaudah."


Kemudian Tasya berjalan perlahan menuju keluar rumah milik Tini. Dia menghampiri Tini yang sedang asik membaca buku. "Asik banget bu bacanya."


Kemudian Tini menoleh ke Tasya, "Iya nak, seru banget."


Tasya pun tersenyum.


"Masak apa hari ini kamu nak?."


"Masak ayam goreng aja bu."


"Oh, ayam goreng."


"Yaudah bu Tasya balik dulu ya."


"Iya nak."


Setelah itu Tasya pergi meninggalkan Tini yang sedang membaca ,lalu berjalan menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah, dia melihat suaminya yang sedang menyapu di teras.


"Rajin banget ih suami aku." ucapnya dengan tersenyum.


"Rajin dong kan suaminya Tasya." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Tasya masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh suaminya yang berjalan di belakangnya, dengan mengejutkan tiba tiba suaminya itu pun memeluknya dari belakang.


"Ih mas, ngapain deh peluk peluk gini."


"Gak tau kenapa?, kalau aku melihat kamu pengen banget aku selalu memelukmu."


Tasya pun tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Alhan dan Alhan pun langsung melepaskan pelukannya.


"Ngapain kamu ketawa?."


"Kamu modus banget sih, aku sudah faham tau gak mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Modus gimana anjir?."


"Ngomong aja mas kalau kamu pengen lagi."


"Pengen apanya anjir?."


Tasya pun tersenyum, "Ternyata kamu gak pernah memahami aku ya mas."


Seketika Alhan pun faham dengan apa yang di bicarakan istrinya.


"Gak lah anjir."


"Ngaku lah mas?."


"Gak dek."


Tasya mencubit pipi suaminya, "Ngaku lah mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Apasih dek, kan aku mau masak." Alhan mengambil tas di tangan Tasya lalu lari ke dapur.


Kemudian Tasya mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dapur Alhan meletakkan tas yang dia bawa itu di meja.


"Kalau gak pengen, aku yang pengen mas." ucapnya dengan tersenyum.


"Sekarang dek?."


"Ya gak sekarang juga mas, kan kita mau masak."


"Ya terserah kamu aja deh pokoknya dek."


"Yaudah mas, nanti kamu yang goreng ayamnya ya, terus aku yang bikin sambalnya."


"Iya dek."


Tasya mengambil cobek dan ulekan yang ada di dapur, setelah itu Tasya duduk di lantai.


"Mas tolong ambilin mangkok itu, sama daging ayamnya juga."


"Siap bunda."


Setelah itu Alhan mengambil apa yang di perintahkan oleh istrinya. Setelah mengambil semuanya,Alhan pun duduk di samping istrinya.


"Ini bunda." ucapnya sembari memberikan barang itu ke istrinya.


"Makasih ayah." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Tasya, memasukkan ayam di mangkok besar itu.


"Mas, bisa masak nasi pakai rice cooker gak?."


"Bisalah."


"Tolong masakin nasi yah mas, biar aku nyiapin ayamnya."


"Iya sayang, berapa berasnya ini?."


"Hmm, dua takaran cukup keknya."


"Gak lebih segitu?."


"Gak lah, makan kamu aja banyak mas, sama makan aku juga lumayan." ucapnya dengan tersenyum.


"Oh yaudah." ucapnya


Setelah Alhan memasak nasi,sambil menunggu nasinya matang Alhan pun menggoreng ayam.


"Jangan sampai gosong loh mas."


"Kalau gosong gimana?."


"Yang gosong kamu lah yang makan mas."


"Oke."


Setelah itu Alhan menuangkan minyak ke wajan, setelah itu dia menyalakan kompornya dan setelah itu Alhan memasukkan ayamnya ke wajan dan Alhan mulai memasak ayamnya.


"Dulu jadi asistennya ibu kalau masak, sekarang udah punya asisten sendiri." ucap Tasya sembari mengulek sambal di cobek itu.


"Iya dong, asistennya kan handal nih."


"Iya handal banget kelas dunia pokoknya."


...****************...