
Keesokan harinya Tasya pun libur kerja sehingga dia memutuskan untuk pergi jalan jalan berkeliling keliling kota bersama teman kerjanya yang bernama Fitri. Mereka berdua berkeliling kota memakai motor matic berwarna hitam milik Fitri.
"Fit, lo dulu kuliah dimana ya?."
"Di Jakarta lah. Emang kenapa sih lo mau kuliah ya Sya?."
"Gua pengen kuliah aslinya Fit, tapi gak ada biayanya.Coba aja gua punya duit buat kuliah,gak akan gua pergi ke Jakarta" ucap Tasya.
"Iya sih Sya, seharusnya remaja seumuran lo itu aslinya masih kuliah."
"Iya Fit gua pengen banget aslinya." ucap Tasya.
"Tapi ngomong ngomong, hidup jauh dari orang tua enak gak sih?." tanyanya.
"Gak enak sih aslinya Fit, tapi mau gimana lagi."
"Emang lo gak pengen cari kerja di kota kamu aja?."
"Udah ngelamar beberapa kali sih, tapi gak ada yang di terima, jadi gua coba cari kerja aja di Jakarta,eh taunya di terima di restoran punya tante lo."
"Pokoknya semangat terus ya Sya."
"Iya Fit selalu."
Sementara itu, Elvin dan Clarista sedang berjalan berdua mengelilingi taman, di sekitar mereka ada begitu banyak orang sehingga mereka mencari tempat yang lumayan sepi untuk mereka berbicara.
Clarista menoleh ke arah Elvin yang ada di sampingnya, "Vin lo mau ngomong sesuatu kan sama gua."
"Perkiraan lo gimana?."
"Perkiraan gua sih begitu." ucap Clarista dengan muka datar.
"Kok mukanya gitu, kalau gak mau juga gak apa apa kali." ucap Elvin dengan tersenyum.
Namun Clarista tak menjawab satu kata pun dan memilih untuk diam dengan muka datarnya. Tak lama setelah berjalan mereka menemukan kursi taman yang kosong dan disana tidak ada satu pun orang, selain mereka berdua. Setelah itu mereka pun duduk di kursi itu berdampingan.
"Clarista, lo gak mau ya?." tanya Elvin dengan muka datar.
"Lo kok bilang gitu." ucap Clarista.
"Muka lo gitu mulu sih." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Vin, lo bayangin deh masa sih kita jadi suami istri."
"Gak apa apa kan kalau kita jadi suami istri." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Lo gak mikir ada yang aneh gitu?." tanyanya dengan muka datar.
Elvin menoleh ke arah Clarista yang duduk di sampingnya dengan tersenyum ke arahnya"Apanya yang aneh?, lo habis kuliah di London makin lucu aja ya ternyata."
"Lucu gimana sih anjir, perasaan gak ada yang lucu deh." ucap Clarista kesal.
"Tapi lo mau gak sebenarnya Clarista?." tanya Elvin dengan tersenyum.
"Vin, gua gak tau harus jawab apa?."
"Kan jawabanya ada di lo, kok lo gak tau sih Ta." ucapnya dengan tersenyum, "Kalau lo gak mau juga gak apa apa kali Ta, gua gak maksa kok Ta." lanjutnya.
Namun Clarista hanya terdiam tak menjawab satu kata pun, Clarista bingung mengambil keputusan ini, bukannya dia gak mau menikah dengan Elvin, melainkan dia masih ragu dan bimbang.
"Vin." panggilnya.
"Iya, Ta." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Seumpama gua tolak, lo masih mau kan temenan sama gua?." tanyanya dengan ragu.
"Lo gimana sih Ta?,kan kita temenan aja udah dari sma,kok lo bilangnya begitu." kemudian Elvin memegang tangan Clarista, "Kalau lo gak mau juga gak apa apa Ta, gua akan selalu jadi teman lo kok."lanjutnya.
"Kalau gua Terima gimana Vin, apa yang akan lo lakuin ke gue?."
"Gua akan bahagiain lo dan akan menjadi suami yang baik buat lo." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Beneran?." tanya Clarista dengan tersenyum.
Elvin mencubit pipi Clarista, "Gitu napa dari tadi, senyum gak cemberut mulu."
"Ih apaan sih pakai cubit cubit segala." ucap Clarista dengan tersenyum bahagia.
"Gimana lo mau gak sih?." tanya Elvin dengan tersenyum.
"Tapi lo harus janji sama gua." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Janji apa Clarista?." tanya Elvin dengan tersenyum.
"Janji gak boleh selingkuh selama gua masih hidup." ucap Clarista.
"Kalau lo udah meninggal?."
"Lo do'ain gua meninggal gitu." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Gak gitu maksudnya Clarista." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Iya iya gua faham kok Vin." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Aslinya lo mau gak sih?."
"Kok lo masih nanya aja sih, ya jelas jelas gua mau Elvin." ucap Clarista dengan mencubit pipi Elvin.
"Kok di cubit sih gua." ucap Elvin dengan mengelus pipinya.
Clarista menertawai lelaki yang ada di sampingnya itu, "Lo ngeselin sih."
"Awas aja lo." ucap Elvin dengan tersenyum.
Elvin pun merasa begitu bahagia karena orang yang di cintainya, mau menerimanya.
"Ta, gua sebenarnya udah suka sama lo saat kita masih sma dulu loh."
"Masa sih."
"Iya Ta, gua suka sama lo dulu."
"Tapi kenapa dari dulu lo gak bilang sih Vin."
"Emang lo dulu suka sama gua?." tanya Elvin.
"Gak tau sih, tapi jujur deh sekarang gua suka banget sama lo gak tau kenapa?." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Gitu tadi mukanya cemberut aja." ledeknya.
"Gua cemberut, gara gara gua takut tidak bisa jadi istri yang baik buat lo." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Kirain lo tadi nolak Clarista." ujar Elvin dengan tersenyum.
"Aslinya gak ada niatan sih buat nolak gua gak bisa bohongin perasaan gua sendiri." Kemudian Clarista bersandar di bahu Elvin, "Gua saat di London kangen banget sama lo Vin, gua pengen banget ketemu sama lo dan gua juga takut saat lo balik ke Indonesia,lo udah punya pacar." lanjutnya.
"You don't have to worry, Clarista."
"I love you so much, Elvin."
............. ...
Dan ternyata itu adalah suara dari teman smanya dulu, teman sekelas bahkan teman duduk sebangkunya dulu yang bernama Avilatul Fitri. Clarista pun begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya dulu, dia langsung menggandeng Elvin, mengajaknya untuk pergi ke arah Fitri.
"Ayo vin." ucapnya dengan menggandeng tangan Fitri.
"Siapa sih dia?."
"Masa sih lo lupa, itu Fitri Elvin teman sekelas kita dulu."
"Oh Fitri." ucap Elvin dengan tersenyum.
Setelah sampai di hadapan Fitri, Clarista langsung memeluk sahabat lamanya itu dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua begitu bahagia, bisa bertemu kembali setelah beberapa tahun terpisah. Clarista pun melepaskan pelukannya.
"Lo ganti nomer handphone ya."
"Iya Ta, gua ganti nomer handphone."
"Pantesan di hubungin gak pernah aktif."
"Maaf ya Ta, gua lupa nomer lo waktu itu, jadi gua gak bisa hubungin lo sama nomer teman teman sma juga hilang semua ,gua coba dm lo tapi gak di bales."
"Hah lo dm gua dari instagram?." ucapnya kaget .
"Iya Clarista, lo seleb banget ya ternyata." ucapnya dengan tersenyum.
"Aduh maafin gua Fit, gua gak tau kalau itu akun lo."
"Iya gak apa apa Clarista, yang penting kan kita sekarang bisa bertemu lagi."ucap Fitri dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Iya Fit, yaudah gua minta nomer lo aja sekarang." ucap Clarista sembari memberikan handphonenya ke Fitri.
Fitri pun langsung menyimpan nomer handphonenya di handphone milik Clarista. Setelah selesai menyimpan nomernya, Fitri mengembalikan handphonenya ke Clarista.
"Makasih ya Fit."
"Sama sama Clarista." setelah itu pandangan Fitri tertuju ke pria di samping Clarista."Elvin gak sih."
"Masa sih lupa."
"Gak sih, wajah lo gak berubah dari dulu."
"Bisa aja deh, btw gimana kabar lo Fit lama nih gak ketemu?."
"Sehat kok Vin gua, alhamdulillah, kalau lo sendiri sama Clarista." ucapnya dengan tersenyum.
"Gua sih alhamdulillah baik aja sih." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Gua juga baik kok." ucap Elvin dengan tersenyum.
Kemudian pandangan Clarista tertuju ke wanita berhijab berwarna hitam, dengan hoddie warna pink, celana berwarna hitam yang agak longgar, serta sandal jepit yang di pakainya. Yang ada di samping kanan Fitri. " Ini teman lo ya Fit?." tanyanya.
"Oh iya ini Tasya,teman kerja aku."
Seketika Clarista pun mengajaknya berjabat tangan dan Tasya menerimanya dengan baik serta tersenyum ke arah Clarista.
"Clarista." ucapnya dengan tersenyum.
"Tasya kak." ucap Tasya dengan tersenyum.
"Salam kenal ya Tasya." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Iya kak." ucap Tasya dengan tersenyum.
Kemudian Clarista menoleh ke arah Fitri lagi. "Orang Jakarta juga ya Fit?."
"Gak kok Ta, dia itu orang Lamongan jawa timur."
"Hah." ucap Clarista dengan kaget.
"Kenapa kaget Ta?."
"Gak kok, gak apa apa." ucapnya dengan tersenyum.
Seketika Clarista pun berfikir, dan tidak asing dengan nama kota yang di sebutkan oleh Fitri. Sehingga Clarista pun menoleh ke Elvin yang berdiri di sampingnya. "Lamongan kotanya siapa sih?."
"Kotanya Alhan juga Lamongan kok Ta,masa lo gak tau."
"Oh iya ya, kotanya Alhan." ucapnya dengan mengelus dahinya.
"Iya Clarista."
Seketika Clarista pun ingat jika kota Tasya sama dengan kota Alhan. Clarista pun menoleh ke Tasya yang berdiri di samping Fitri. "Kenal Alhan gak?." tanyanya.
"Alhan siapa kak?." tanyanya balik.
"Alhan orang Lamongan juga, sama seperti kamu."
"Gak tau kak, aku gak kenal sama Alhan." ucapnya dengan polos.
"Umur kamu berapa sih Tasya?"
"Masih muda kak, baru saja 19 tahun, baru lulus sma."
"Seumuran sama Alhan berarti kamu."
Sekilas Tasya pun pernah mendengar nama itu dan seperti tak asing dengan nama yang di sebutkan oleh Clarista. Apa jangan jangan teman satu sekolah dulu, batin Tasya.
"Lamongan juga kota kali, ya tau aja beda kecamatan Ta." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Iya juga sih." ucap Clarista dengan tersenyum.
Kemudian Elvin menggandeng tangan Clarista yang ada di sampingnya.
"Fit, gua sama dia mau menikah loh." ucap Elvin dengan tersenyum.
Perasaan kaget serta bahagia terlukis di raut wajah Fitri, "Beneran?, mau nikah kapan nih?."
"Santai dulu kali Fit, bentar lagi juga undangan terbit kok." Elvin menoleh ke arah Clarista, "iya kan sayang."
Clarista pun menoleh ke Elvin dengan tatapan yang kurang mengenakkan, "Kok sayang sih Vin."
"Gak boleh ya gua manggil lo sayang."
"Ya boleh dong masa gak sih sayang."
"Cie, sayang sayangan aja nih." ledek Fitri.
Mereka berdua menoleh ke arah Fitri, "Apasih Fitri." ucap mereka serentak.
"Cie kompak lagi."
"Do'ain yang terbaik ya Fitri." ucap Elvin dengan tersenyum.
"Selalu dong, minta di sebarkan ke teman teman gak nih."
"Jangan dulu ah Fitri." ucap Clarista.
"Gua sebarin ah." ucap Fitri dengan tersenyum.